Ajak Masyarakat Golput, Demo Mahasiswa asal Papua di Renon Dibubarkan
DENPASAR, PODIUMNEWS.com - Sebanyak 20 mahasiswa asal Papua menggelar demo di bundaran Renon, Denpasar, Senin (15/4), diamankan ke Polresta Denpasar. Mereka dianggap menyalahi aturan karena menolak Pemilihan Presiden (Pilpres) dan mengajak untuk Golput.
Demo mahasiswa asal Papua yang dimulai sekitar pukul 10.00 Wita, mendapat pengawalan ketat dari tim gabungan Polsek Denpasar Timur dan Polresta Denpasar. Mereka membawa spanduk, poster, brosur dan berteriak-teriak menolak pelaksanaan Pilpres pada 17 April.
Bahkan, dalam aksi orasi itu, mereka mengajak masyarakat untuk golput. Aksi demo yang berlangsung selama 30 menit di Bundaran Renon, Denpasar, akhirnya dibubarkan aparat kepolisian. Puluhan anggota kepolisian bergerak cepat mengamankan mahasiswa yang kocar-kacir melarikan diri.
Situasi Bundaran Renon ricuh. “Naikkan semua yang terlibat demo ke atas truk dan bawa ke Mapolresta Denpasar,” teriak Kabag Ops Polresta Denpasar, Kompol I Nyoman Gatra, kepada pasukannya. Kericuhan memanas karena pendemo berontak dan menolak dinaikkan ke atas truk Dalmas.
Dalam waktu yang bersamaan, beberapa pecalang yang ikut membantu melakukan pengamanan di sekitaran lokasi juga terlibat tarik menarik dengan mahasiswa. Akhirnya 20 mahasiswa digiring ke dalam truk Dalmas dan dibawa ke Mapolresta Denpasar untuk menjalani pemeriksaan.
Kompol Gatra mengatakan, pihaknya terpaksa bertindak tegas karena aksi demo sangat meresahkan. Apalagi bertepatan dengan masa tenang jelang pemilu, ditambah sikap provokatif mahasiswa menolak Pilpres dan mengajak masyarakat golput. Polisi akhirnya membubarkan aksi.
“Kami tentu sangat menyayangkan aksi pengunjuk rasa yang menolak Pilpres. Padahal di satu sisi, kami berusaha membuat suasana supaya Pemilu 2019 ini aman, damai dan sejuk. Jadi, atas perintah Kapolresta, kami mengambil tindakan tegas dengan mengamankan mereka,” tegasnya.
Kompol Gatra mengatakan, sebelumnya pihaknya sudah mengimbau agar pendemo tidak menggelar aksi tapi tidak direspons. Selain itu, laporan intelejen, korlap pendemo kurang komunikatif. Di mana, ketika diberikan masukan supaya tidak melaksanakan demo, malah membandel.
“Ditambah, mereka selalu bilang “Papua Bukan Indonesia”, ada lagunya itu. Tapi kami masih beri toleransi, karena mereka juga punya hak menyampaikan aspirasi di depan umum. Cuma, karena saat ini bertepatan dengan masa tenang, kita ambil tindakan,” tegasnya. (ENI/PDN)