Podiumnews.com / Aktual / Hukum

BNNP Bali: Cocaine Dikonsumsi Kalangan Berduit

Oleh Podiumnews • 31 Juli 2022 • 21:16:00 WITA

BNNP Bali: Cocaine Dikonsumsi Kalangan Berduit
Kepala BNNP Bali Brigjen Pol Gde Sugianyar Dwi Putra saat melakukan jumpa pers. (Sumber: IG BNNP Bali)

KUTA, PODIUMNEWS.com - Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Bali Brigjen Pol Gede Sugianyar Dwi Putra masih merahasiakan identitas tiga WNA yang ditangkap dengan barang bukti hampir sekilo cocaine.

Namun ia menegaskan pihaknya masih bekerjasama dengan instansi Imigrasi dan Bea Cukai guna mendalami asal muasal cocaine tersebut. 

Brigjen Sugianyar hanya membenarkan ketiga WNA tersebut sebelumnya diringkus di dua lokasi wisata di Denpasar dan Badung. 

"Ya masih didalami, prosesnya panjang karena melibatkan pihak Imigrasi, Bea Cukai untuk mengetahui darimana jaringannya dan peredaranya ke mana saja?" terangnya saat diwawancari awak media, belum lama ini.  

Dijelaskanya, ketiga WNA tersebut bukan ditangkap di bandara ataupun pelabuhan, sebagaimana lazimnya penangkapan. Tapi ini merupakan bagian dari sindikat atau jaringan narkoba yang tinggal di beberapa vila.

"Mereka ini merupakan WNA atau turis yang tinggal di vila atau sedang berwisata atau sedang berbisnis," ungkapnya. 

Berdasarkan dari analisa, ujar mantan Kepala BNNP NTB ini, komunitas ketiga WNA tersebut adalah rata-rata pengguna narkoba. Dan, masih didalami apakah para komunitas ini juga merupakan bagian dari jaringan narkoba tersebut. 

Tingginya harga narkoba jenis cocaine ini diakuinya bukan menjadi penghalang orang berduit tebal untuk membelinya. Jika harga sabu per gramnya mencapai Rp2 juta, harga cocaine saat ini mencapai Rp4 juta sampai Rp5 juta per gramnya. 

"Harga cocaine cukup mahal. Ini biasanya dikonsumsi mereka dari kalangan berduit dan biasanya dikonsumsi WNA," terangnya. 

Sehingga ada kemungkinan ketiga WNA tersebut mengedarkan cocaine hanya kepada komunitasnya saja. Apalagi saat ditangkap barang bukti cocaine tersebut sudah dipaket-paketkan dan didistribusikan. 

"Sudah mereka distribusikan dengan cara dipaket- paket dan dijual ke komunitas mereka. Masih pedalaman untuk mengkaji dan analisis asal barang dan jaringan," tutupnya. (hes/sut)