Search

Home / News

Aksi Sweeping Warga Buntut Maraknya Kejahatan di Kuta

Editor   |    08 Agustus 2022    |   19:56:00 WITA

Aksi Sweeping Warga Buntut Maraknya Kejahatan di Kuta
Bendesa Adat Kuta Wayan Wasista (foto/hes)

KUTA, PODIUMNEWS.com – Bendesa Adat Kuta Wayan Wasista angkat bicara terkait aksi sweeping yang dilakukan wargan Kuta menyusul maraknya aksi copet dan jambret terhadap wisatawan asing yang berlibur ke kampung turis itu. 

Dijelaskannya, saat ini memang Kuta sudah mulai ada peningkatan wisatawan. Sehingga kondisi inilah yang dimanfaatkan para pelaku melakukan aksi kejahatan jalanan terhadap wisatawan asing dan domestik. 

"Mereka ini adalah pengganggu keamanan terhadap para turis yang berlibur sehingga kami sidak," tegasnya, Senin (8/8) di Kuta. 

Menurutnya, kejahatan yang paling mendominasi di wilayah Kuta adalah copet, jambret dan money changer liar. Sehingga katanya ke depan perlu dipikirkan pemerintah bagaimana menertibkan penyakit masyarakat ini. 

Apalagi sekarang ini marak usaha spa liar yang mempekerjakan anak di bawah umur. "Saya curiga tapi perlu bukti. Mereka mereka ini juga mempekerjakan anak di bawah umur. Kita denger-denger seperti itu, bule-bule sering kehilangan ATM, isi tas diambil dan sebagainya," bebernya. 

Diungkapkan Wayan Wasista, selama mereka bekerja dengan baik dan sesuai dengan aturan dan juga turut menjaga keamanan, pihak desa adat setempat tidak mempersoalkannya. Bahkan pihak desa mendukung.

Namun jika hal ini kerap menganggu kenyamanan warga dan para turis, pihak desa berjanji akan menindak tegas. 

Diakuinya, kejahatan yang terjadi di Kuta sangat beragam tapi banyak yang tidak dilaporkan. Khususnya menimpa warga asing. Sementara lokasi yang menjadi titik rawan aksi jambret dan copet berada di seputaran Legian-Ground Zero-Pantai Kuta. 

"Di sini kan ada diskotik, jadi kalau ada orang atau bule mabuk itu yang jadi sasaran mereka. Kalau di sini kita perketat, biasa mereka pasti bergeser. Mereka ini pintar-pintar juga mereka pelajari gerak-gerik kita saat melaksakan pengamanan," terangnya. 

Soal money changer liar, menurut Wayan Wasista sudah sering di sidak oleh pihak desa, apabila ada warga asing yang merasa dirugikan. Bahkan money changer liar itu bersedia menggantikan kerugian korbannya. 

"Jadi kan susah dilanjutkan kasus itu. Makanya itu jadi kendala karena mereka money changer penipu itu sudah memberikan ganti rugi," ujarnya. 

Dijelaskan Bendesa, di wilayah Kuta dan sekitarnya ada sekitar ratusan money changer liar dan sudah sangat meresahkan. Harapan pihak desa adat, money changer tersebut sadar dan berusaha mengurus perizinan terlebih dahulu kemudian setelah izinya lengkap baru bisa membuka usaha. 

"Yang resmi ada sekitar 103, tapi yang liar banyak. Selama mereka belum melengkapi izin, kami desa adat bersama BI (Bank Indonesia), Kejaksaan Badung kita akan sikat," tandasnya. 

Untuk itu, pihak desa menghimbau kepada masyarakat khususnya wisatawan domestik yang sering membawa ponsel melihat googlemap harus berhati-hati. 

"Kami tidak bisa mengawasi secara keseluruhan. Ini juga mengundang kriminalitas jadi waspadalah. Kita pihak desa adat siap untuk mengamankan wilayah Kuta. Setiap saat kita akan lakukan sidak jika ditemukan ada kericuhan. Kita sifatnya membubarkan saja," pungkasnya. (hes/sut)

 


Baca juga: Vaksinasi di Indonesia Tembus Dua Juta Dosis Sehari