Komplotan Penipu Online Modus Tawarkan Kredit Tanpa Bunga dan Agunan via SMS
DENPASAR, PODIUMNEWS.com - Kapolsek Denpasar Selatan, Kompol Nyoman Wirajaya, mengatakan, dalam menjalankan aksinya, tujuh anggota komplotan penipuan kredit online ini menjanjikan memberikan pinjaman dengan serendah-rendahnya tanpa bunga dan anggunan.
Agar dipercaya, komplotan ini menggunakan nama Koperasi Sejahtera Bersama yang belakangan fiktif. “Ini sangat luar biasa. Mereka ini dari Makassar semuanya berjumlah tujuh orang. Mereka sudah beroperasi di Bali sekitar tiga bulan dengan mengontrak tiga rumah kos di Sesetan,” terang mantan Kapolsek Kuta ini, Kamis (16/5).
Diungkapkannya, modus operandi para pelaku menggunakan teknologi, laptop dan modem. Selain itu, mereka mengumpulin semua data dan nomor-nomor telpon yang jumlahnya ribuan dengan menggunakan aplikasi yang disebut SMS Charter.
Setelah mengoleksi semua data data nomor di laptop, kemudian ditransfer melalui SMS yang satu SMS bisa menyebar ke ribuan nomor dalam waktu 24 jam. Supaya korbannya percaya, di SMS tersebut mereka mencatut nama Koperasi Sejahtera Bersama.
“Setelah nomor terkumpul mereka pindahkan ke laptop dengan aplikasi yang menggunakan sistem online tadi. Selanjutnya, dengan menggunakan modem di share ke ribuan SMS dalam waktu yang bersamaan. Secara acak,” sebutnya.
Jadi, kata Kompol Wirajaya, aksi penipuan ini bersifat memancing. Dari ribuan SMS itu pasti ada yang memberikan respon positif. Artinya para korban menelpon balik dan menjawab WA, setelah terpancing iming-iming pinjaman yang cukup besar tanpa bunga dan agunan.
“Sehingga mulailah korbannya diminta menyetor dana awalnya sebagai syarat untuk mendapatkan pinjaman. Ada yang menyetor Rp 300 ribu hingga Rp 700 ribu. Setelah uang ditransfer, nomor diblokir sehingga tidak bisa berkomunikasi lagi,” ujarnya.
Ditambahkannya, komplotan ini mematok pinjaman dari angka Rp 500 ribu hingga Rp 5 juta-an. “Untuk total kerugiannya saya belum bisa kumpulkan korban-korbannya karena sudah beredar di seluruh kota besar di Indonesia. Tapi paling banyak di Jawa, Kupang, dan Irian. Di Bali mungkin ada empat korbannya,” sebutnya.
Selain itu, pihaknya juga sudah menghubungi para korbannya baik yang tinggal di Jawa dan di Bali untuk memberikan kesaksian dipersidangan nantinya. “Di Jawa ada 15 saksi, di Bali ada empat saksi dan para saksi sudah siap memberikan kesaksian,” katanya.
Sementara itu, barang bukti uang hasil kejahatan yang disita mencapai Rp 16 juta. Uang tersebut hasil operasi selama dua minggu yang dikumpulkan ke rekening BRI. “Mereka ini sudah beroperasi dua bulan, uang hasil kejahatan sudah digunakan untuk kehidupan sehari-hari. Sisanya Rp 16 juta dan sudah kami amankan,” tandasnya. (ENI/PDN)