Search

Home / News

Rutgers dan PKBI Bali Kunjungi Dapur Redaksi Media di Bali

Editor   |    17 Agustus 2019    |   15:38:55 WITA

Rutgers dan PKBI Bali Kunjungi Dapur Redaksi Media di Bali
Rutgers WPF Indonesia dan PKBI Daerah Bali saat mengunjungi Bali Post Group diterima Penanggung Jawab Harian DenPost, I Gde Suyadnyana dan Chief Editor Bali Post, Gugiek Savindra, Kamis (15/8).

DENPASAR, PODIUMNEWS.com -
Rutgers WPF Indonesia dan PKBI Daerah Bali melaksanakan kunjungan media di Bali. Kunjungan media ini, langsung menuju dapur redaksi di lima media yang dikenal memiliki pembaca terbesar di Bali.

Empat media tersebut adalah Kelompok Media Bali Post, Tribun Bali (Kompas Gorup), Nusa Bali dan Radar Bali (Jawa Post Group). Kunjungan media ini, bertujuan untuk silahturahmi dan menjalin persaudaraan, juga mengenalkan kerjasama dan program sosial yang dilaksanakan dua lembaga nirlaba ini. Kunjungan media, dilaksanakan dua hari 15 dan 16 Agustus 2019 lalu.

Dari empat media, Bali Post Group (Harian Bali Post dan DenPost) dan Tribune Bali menerima lengkap dengan staf redaksi. Dari media-media ini, juga menyiapkan seorang wartawan untuk dikirim ke International Conference on Family Planning and Reproductive Health (ICIFPRH) di Jogjakarta 30 September – 2 Oktober 2019 mendatang, di mana Rutgers WPF Indonesia menjadi salah satu penyelenggaranya.

Rutgers WPF Indonesia yang diwakili oleh Communication Officer, Trisa Triandesa, didamping Direktur Eksekutif Daerah PKBI Bali, I Komang Sutrisna dan staf Kisara, Rina dan Meisa, saat berkunjung di Bali Post Group diterima oleh Penanggung Jawab Harian DenPost, I Gde Suyadnyana dan Chief Editor Bali Post, Gugiek Savindra, berlangsung pada Kamis (15/8).

Sementara di Tribune Bali, diterima Editorial Online Manager, Ida Ayu Made Sadnyari dan senior editor Wanda, serta beberapa staf redaksi, pada Jumat (16/8).

Trisa dalam kesempatan itu menjelaskan, di Bali Rutgers WPF Indonesia, menjalin kerjasama dengan PKBI Daerah Bali dengan mengembangkan program.

Seperti, memberikan dan mengembangkan modul pendidikan seksualitas yang komprehensif, menangani masalah kekerasan berbasis gender, menyediakan akses ke layanan kesehatan seksualitas dan reproduksi (kespro) dan mempromosikan keragaman dan toleransi.

‘’Semua program ini telah berjalan dengan baik di Bali,’’ ungkapnya.

Sementara itu, Komang Sutrisna mengatakan, sebagai mitra di Bali, PKBI Bali dengan program remaja Kisara telah mengimplementasikan beragam program seperti Get Up Speak Out (GUSO), Dance4Life, dan Explore4Action yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan terkait hak kesehatan seksualitas dan reproduksi bagi orang muda di Bali.

‘’Saat ini kegiatan di lakukan di 5 sekolah tingkat SMP (program GUSO) dan 10 sekolah tingkat SMA di Bali (program Dance4Life),’’ sebut Sutrisna.

Dalam modul yang diberi nama, Semangat Dunia Remaja (Setara), kata Sutrisna, pendidikan seksualitas dan reproduksi yang komprehensif yang diberikan kepada pelajar meliputi pengenalan diri sendiri, memahami perubahan dalam masa pubertas, membangun relasi yang sehat sehingga dapat membuat keputusan yang baik dan merencanakan masa depan dengan baik.

Namun masih ada miskonsepsi mengenai pendidikan kesehatan seksualitas dan reproduksi bahwa materinya mengajarkan remaja untuk melakukan hubungan seks.

‘’Justru tujuannya adalah agar remaja menunda melakukan hubungan seks dan membuat keputusan yang baik terkait tubuh dan masa depannya,’’ tegasnya.

Untuk mengetahui program Setara yang dilaksanakan efektif atau belum, tambah Trisa, Rutgers WPF Indoensia saat ini sedang melakukan program penelitian longitudinal. Yaitu, Explore4Action. Pengambilan data tahap selain di Denpasar Bali, juga dilakukan di Semarang dan Lampung.

Hasil temuannya akan disampaikan pada acara The International Conference on Family Planning and Reproductive Health (ICIFPRH) di Jogjakarta 30 September – 2 Oktober 2019 mendatang, di mana Rutgers WPF Indonesia menjadi salah satu penyelenggaranya.

‘’Hasil konferensi diharapkan dapat digunakan sebagai dasar untuk penguatan / pembuatan kebijakan oleh pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya,’’ tandas Trisa. (RLS/ISU/PDN)

 


Baca juga: PETRUS: Kisah Gelap Orba, Bertato saja Cukup Dijadikan Alasan Pembunuhan