Ironi Pasar Sangging: Mencuri Mata Bor Demi Sambung Nyawa
DENPASAR, PODIUMNEWS.com - Sebuah ironi pahit terkuak di Pasar Sangging, Jalan Nangka Utara, Denpasar. Di tengah hiruk pikuk aktivitas pasar, seorang pria asal Karangasem, IEG (23), melakukan tindakan nekat yang menggambarkan betapa sulitnya himpitan ekonomi. Ia kedapatan mencuri sebuah mata bor senilai Rp2 juta – sebuah alat kerja yang ironisnya, bagi sebagian orang, adalah sumber mata pencaharian.
Peristiwa yang terjadi pada Senin (12/5/2025) sekitar pukul 07.30 WITA itu bermula ketika IEG mengambil mata bor tanpa izin dari tempat kerja Umar Edianto, seorang tukang bangunan di kawasan pasar tersebut. Pelaku sempat menyembunyikan barang curian sebelum akhirnya memasukkannya ke dalam karung miliknya.
Namun, aksi IEG dipergoki oleh Umar yang curiga melihat pelaku mengemas sesuatu yang mirip dengan mata bornya. Setelah diperiksa, kecurigaan Umar terbukti benar. Tanpa perlawanan, IEG berhasil diamankan dan diserahkan kepada pihak berwajib di Polsek Denpasar Utara.
Di balik tindakannya, terungkap sebuah pengakuan yang mencerminkan keputusasaan. Kepada polisi, IEG mengaku terpaksa mencuri karena tidak memiliki pekerjaan dan membutuhkan uang untuk menyambung nyawa sehari-hari.
Rencananya, mata bor curian itu akan dijual demi memenuhi kebutuhan mendesak. Sebuah ironi yang menyayat hati: mencuri alat kerja, yang seharusnya menjadi instrumen mencari rezeki, sebagai jalan pintas untuk bertahan hidup.
Kepala Seksi Hubungan Masyarakat (Kasi Humas) Polresta Denpasar, AKP I Ketut Sukadi, mengonfirmasi kejadian ironis ini pada Selasa (13/5/2025). "Pelaku tertangkap basah mencuri mata bor seharga Rp2 juta. Ia mengakui perbuatannya terpaksa mencuri karena faktor ekonomi. Rencananya, barang curian akan dijual," jelasnya.
Kasus pencurian di Pasar Sangging ini bukan sekadar tindak kriminal biasa. Lebih dari itu, ini adalah potret buram tentang bagaimana kesulitan ekonomi dapat memaksa seseorang mengambil jalan yang salah. Ironi terletak pada barang yang dicuri – alat kerja – yang seharusnya menjadi simbol kemandirian dan usaha.
Kisah IEG menjadi pengingat akan tantangan kemiskinan dan pengangguran yang masih menghantui, bahkan di tengah ramainya aktivitas ekonomi seperti di Pasar Sangging. Sementara proses hukum terhadap IEG akan berjalan, pertanyaan besar tetap menggantung: bagaimana masyarakat dan pemerintah dapat memberikan solusi yang lebih manusiawi bagi mereka yang berjuang untuk sekadar menyambung nyawa?
(hes/suteja)