Podiumnews.com / Aktual / Hukum

Pelindung yang Menjadi Pemangsa

Oleh Editor • 24 Mei 2025 • 22:55:00 WITA

Pelindung yang Menjadi Pemangsa
ILUSTRASI: Kadang, ancaman bukan datang dari luar rumah, tapi dari bayangan yang mereka panggil Ayah, Kakak, atau Paman. (podiumnews)

PADA banyak kebudayaan, keluarga diposisikan sebagai tempat pertama dan utama perlindungan. Tapi kenyataan tak selalu seideal itu. Dalam kasus-kasus yang tak banyak disuarakan, orang yang seharusnya melindungi justru menjadi pelaku—pemangsa yang bersembunyi di balik status darah.

Kejutan ini muncul kembali ke permukaan saat publik menemukan komunitas menyimpang di Facebook bernama Fantasi Sedarah. Dengan anggota lebih dari 30 ribu, grup ini terang-terangan membahas dan mempromosikan hubungan inses. Reaksi publik pun keras. Kecaman, kecemasan, dan laporan ke aparat penegak hukum bermunculan.

Namun jauh dari hiruk pikuk media sosial, pertanyaan paling penting justru sering luput dibahas: mengapa perilaku inses bisa muncul dan berulang, bahkan di dalam rumah yang seharusnya jadi ruang aman?

Menurut Dr Dewi Retno Suminar MSi, psikolog dari Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (UNAIR), penyebab inses tidak bisa disederhanakan hanya pada trauma. Banyak faktor lain, termasuk pola relasi dalam rumah itu sendiri.

“Tidak selalu orang melakukan inses karena trauma, walau memang ada beberapa mengalami trauma relasi sebelumnya. Inses terjadi karena relasi yang selama ini ada di keluarga terjadi secara bebas dan biasanya setting rumah merangsang untuk melakukan hubungan intim. Atau tidak tersentuh nilai agama sejak kecil,” papar Dewi melalui siaran pers, Jumat (23/5/2025).

Yang lebih mengkhawatirkan, kata Dewi, adalah relasi kuasa dalam keluarga. Dalam banyak kasus, korban tidak mampu menolak bukan karena setuju, tapi karena kalah posisi. Mereka didominasi—secara usia, status, dan kendali emosi—oleh pelaku yang lebih tua atau lebih kuat.

“Jika mereka memiliki sifat sulit menolak ajakan orang lain akan berpotensi menjadi korban hubungan inses. Sebab, ada relasi kuasa yang mendorong seseorang sulit menolak, sehingga terjadi hubungan inses yang tidak diinginkan,” jelasnya.

Kondisi ini makin diperparah oleh budaya yang enggan bicara soal seksualitas dan batas tubuh. Anak-anak dibesarkan dalam lingkungan yang menghindari diskusi tentang relasi laki-laki dan perempuan. Bahkan soal tempat tidur pun dianggap urusan sepele.

“Ketika anak memasuki masa baligh, memang harus dipisah untuk tidurnya untuk laki-laki dan perempuan. Kemudian nilai moral tentang relasi laki-laki dan perempuan harus sudah diajarkan sejak sebelum pubertas. Batasan tentang sentuhan harus mulai diajarkan sejak dini,” ungkap Dewi.

Sebagai langkah pencegahan, Dewi menyarankan anak dan remaja dilibatkan dalam kegiatan fisik dan sosial yang sehat. Tidak hanya untuk mengisi waktu, tetapi juga agar mereka punya lingkungan sehat dan ruang ekspresi yang aman.

“Banyak aktivitas yang bersifat fisik yang harus dilakukan. Hal ini agar membuat badan dan pikiran segar karena oksigen yang mengalir dengan baik, sehingga tawaran komunitas yang menyimpang tidak lagi menarik,” pungkasnya.

Dalam kasus inses, batas antara keluarga dan bahaya menjadi kabur. Pelaku tidak datang dari luar rumah, tapi dari orang yang seharusnya paling dipercaya. Dan ketika keluarga tak lagi menjamin perlindungan, maka kita perlu bertanya ulang: apa yang sedang salah dalam sistem pengasuhan kita?

(riki/suteja)