Podiumnews.com / Aktual / Politik

Bantah Mencari Peluang Saat Kisruh Beringin

Oleh Podiumnews • 09 Oktober 2019 • 00:38:10 WITA

Bantah Mencari Peluang Saat Kisruh Beringin
ILUSTRASI

KISRUH internal antar elit Partai Golkar Bali diduga dijadikan peluang bagi pihak tertentu untuk merebut tiket sebagai bakal calon jelang Pilkada Serentak 2020. Salah satu tudingan itu diarahkan kepada mantan Dirut PT Pos Indonesia I Ketut Marjana.

Marjana yang terlihat getol berupaya merekatkan kembali hubungan Wayan Gunawan dengan Gde Sumarjaya Linggih dinilai menyimpan kepentingan tersembunyi. Upaya ini diduga merupakan langkah untuk merayu parpol berlambang pohon Beringin itu memberikan satu tiket pada Pilkada Bangli 2020 mendatang. Akan tetapi, hal itu dibantah oleh Marjana.

Menurutnya, dia hanya ingin memperbaiki hubungan Wayan Gunawan yang sempat renggang dengan Golkar Bali pasca dilengserkan dari jabatan Ketua DPD II Golkar Bangli.

"Gini ya, pertama saya sebagai orang yang sangat konsen dengan tatanan manajamen organisasi yaitu saya membidangi bidang itu, yang saya geluti cukup lama. Jadi saya melihat bahwa di dalam satu organisasi, kalau terjadi kekurang harmonisan maka ini akan mengganggu proses atau tatacara atau pun jalan yang lurus menuju kesuksesan organisasi apapun," ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa (08/10).

Dirinya mengaku hanya ingin membantu Demer dan Wayan Gunawan dalam menjalankan roda kepartaian. Apalagi, ia memiliki kedekatan dengan Demer, termasuk dengan Gunawan yang notabene masih memiliki hubungan kekeluargaan. 

"Dengan Pak Demer cukup dekat, aya berkawan dengan beliau sebelum beliau menjadi anggota DPR. Apalagi setelah saya di Jakarta.Saya pernah jadi Dirut Pos, dia di bidang BUMN komisinya jadi sering kita ketemu, jadi itu satu kedekatan saya. Begitu juga juga dengan Gunawan, ini kan sepupu saya jadi dia ada atas dua situasi itu," akunya.

Kata dia, menyikapi persoalan internal Partai Golkar yang belakangan sedang berseteru, pihaknya menganggap perlu adanya upaya rekonsiliasi. Apalagi dalam berpolitik, perbedaan pendapat merupakan hal lumrah. "Untuk itu harus ada satu rekonsiliasi, dalam politik biasa ada friksi-friksi, tetapi jangan kebablasan," tandas mantan Dirut PT. Pos Indonesia ini.

Saat ditanya apakah upaya rekonsiliasi yang dirinya gagas tersebut adalah langkah untuk mengambil simpati Golkar agar dipasangkan dengan Gunawan. Marjana buru-buru menampik. Kata dia, berpaket dengan Gunawan pada Pilkada Bangli akan sulit terwujud. Hal ini dikarenakan, ia dengan Gunawan merupakan sama-sama dari satu wilayah.

"Nggak mungkin lah saya berpaket dengan Gunawan, orang dia sepupu saya, Gunawan dari Kintamani, saya dari Kintamani, saya bersaudara. Ini belum pada saatnya untuk memberikan rekomendasi," pungkasnya.

Sementara itu, Plt. Ketua DPD Golkar Bali Gde Sumarjaya Linggih mengklaim telah ada sejumlah pihak yang berupaya merapat kepada Partai Golkar. Namun partainya telah memiliki mekanisme sendiri untuk penjaringan bakal calon di Pilkada Serentak 2020

"Meskipun saya mengenal mereka secara pribadi, tapi sebelum mendaftar, sang calon harus mengikuti syarat-syarat dan ketentuan partai juga pilkada. Namun yang penting bagaimana sang calon punya kemampuan logistik, terutama biaya saksi harus disiapkan, meskipun nantinya ada dukungan dari partai," tegasnya, Selasa (08/10).

Pria yang akrab disapa Demer ini, beberapa nama sudah ada yang mulai mendekati Golkar untuk Pilkada di enam kabupaten/kota. Kendati demikian, tetap harus melalui mekanisme partai. Diketahui, Partai Golkar mampu mengusung calon sendiri di dua kabupaten yakni Karangasem dan Bangli. Sementara dikabupaten lain harus berkoalisi dengan partai lain.

Anehnya sebagai salah satu partai politik besar di Bali, Golkar tak menargetkan posisi pada Pilkada mendatang. Baginya posisi nomor satu ataupun dua tidak jadi masalah. Yang terpenting, partainya terbuka bagi siapa saja dan partai mana saja. "Partai Golkar sangat cair, karena suara Golkar, suara rakyat," akunya. 

Demer mengisyaratkan selain elektabilitas calon partai Golkar mesti memperhatikan beberapa catatan antaranya,  sang calon bisa kembali membangun adat budaya di kalangan milenial, lantas memperhatikan pembangunan infrstruktur, memperbaiki perilaku serta meningkatkan mutu pendidikan. (RYN/PDN)