Suara Merosot, Desk Politik Demokrat Ditugasi Jadi Tukang Lobi
DENPASAR, PODIUMNEWS.com - Jelang Pilkada Serentak, DPD Partai Demokrat membentuk Desk Pilkada yang diketuai Putu Suasta. Desk Pilkada ini nantinya bertugas untuk melakukan penjaringan dan penyaringan terhadap bursa bakal calon yang akan diusung.
Menurut Ketua Desk Pilkada Partai Demokrat Bali Putu Suasta, timnya juga akan bertugas sebagai 'tukang lobi' dalam membangun koalisi dengan partai lain. Pasalnya, perolehan suara dan kursi mengalami penurunan drastis. Sehingga pilihannya harus berkoalisi.
Desk Pilkada, kata Putu Suasta, sudah dibentuk hingga kabupaten/kota, khususnya yang menyelenggarakan Pilkada. “Prosesnya sudah dimulai. Kami sudah instruksikan di DPC-DPC untuk jemput bola. Door to door. Cari bakal calon yang sesuai persyaratan dari Partai Demokrat,” akunya.
Meaki tak ada survey internal, Partai Demokrat akan tetap memantau figur-figur yang dianggap layak untuk dicalonkan. Soal meminang calon, kesiapan calon menjadi hal yang penting, mulai dari mental, nyali, jaringan, dan ongkos.
“Kalau bagus, tapi uangnya tidak ada, berat juga. Komplit. Nyalinya. Uangnya, Jaringannya. Kalau itu tidak ada, jungkir balik kami mau mencalonkan yang percuma. Partai juga tidak mau repot. Khususnya untuk mendanai para saksi di lapangan nanti,” bebernya.
Desk Pilkada diperkirakan akan keluar hasilnya pada bulan Desember mendatang. Selain itu, proses penjaringan dan penyaringan di tingkat kabupaten/kota ini akan berlangsung secara berjenjang.
Sehingga setelah selesai di kabupaten/kota, hasilnya akan dibawa ke DPD untuk diserahkan kembali ke DPP. Karena DPP juga akan melakukan penjaringan dan penyaringan sebelum mengeluarkan rekomendasi.
“Dari DPC dibawa ke DPD. Dan, DPD nanti yang akan meng-endorse ke DPP berdasarkan persyaratan yang ada,” imbuhnya.
Disinggung mengenai kans untuk menang, Suasta enggan berkomentar jauh. Kendati begitu saat disinggung mengenai Jembrana, dirinya tidak memungkiri daerah itu menjadi salah satu target yang dibidik untuk menang dari enam daerah pelaksanaan pilkada pada 23 September 2020 mendatang.
Apalagi di daerah itu, ada Nengah Tamba yang terhitung kader Demokrat dengan pengalaman cukup dan terakhir tercatat sebagai anggota DPRD Bali Periode 2014-2019.
Namun saat disinggung mengenai peluang di kelima daerah lainnya. Suasta menjawab secara diplomatis. Ia mengaku bahwa bakal calon yang disiapkan Demokrat bareng kendaraan koalisi di masing-masing kabupaten/kota tempat pelaksanaan pilkada memiliki kualitas yang bagus untuk masyarakat.
“Belum tentu juga kader kami (di Demokrat) bagus untuk publik. Kalau kader kami nggak bagus untuk publik buat apa dicalonkan. Memaksakan diri namanya. Walaupun partainya punya kader dan kalau elektabilitasnya kurang ya buang-buang waktu,” akunya.
Dan dia menegaskan kembali, yang paling penting, bakal calon tersebut punya “greget” untuk menang. Siap secara mental, nyali, jaringan, sampai dengan amunisi alias duit.
“Kalau nggak ada duitnya, kal gene masih (untuk apa juga)? Harus benar-benar siap menang. Partai jangan deh dikasih apa-apa. Yang penting partai support. Siap nyali. Siap amunisi. Yen sing keto, adanan pules jumah. Gae ne lenan jemak (kalau tidak begitu, lebih baik tidur di rumah. Ambil kerjaan lain saja),” pungkasnya. (RYN/PDN)