Podiumnews.com / Muda / Kata Mereka

Tarot Jadi Cara Gen Z Redam Kecemasan

Oleh Nyoman Sukadana • 15 Januari 2026 • 18:59:00 WITA

Tarot Jadi Cara Gen Z Redam Kecemasan
Dian Kartika Amelia Arbi MPsi. (Unair)

SURABAYA, PODIUMNEWS.com - Fenomena penggunaan kartu tarot semakin ramai diperbincangkan, khususnya di kalangan Generasi Z. Media spiritual yang sebelumnya identik dengan praktik mistis kini berkembang menjadi tren, bahkan kerap digunakan sebagai sarana mencari ketenangan emosional di tengah ketidakpastian hidup.

Psikolog Klinis dari Universitas Airlangga (UNAIR), Dian Kartika Amelia Arbi MPsi, menjelaskan bahwa tarot sejatinya bukan fenomena baru. Namun, maraknya penggunaan tarot di kalangan Gen Z menunjukkan adanya kebutuhan psikologis tertentu yang sedang dialami generasi ini.

“Dari perspektif psikologi, tarot bisa menjadi salah satu cara individu, khususnya Gen Z, ketika mereka menghadapi situasi yang tidak menyenangkan dan merasa tidak berdaya. Mereka berusaha mencari penjelasan eksternal atas apa yang sedang dihadapi agar mendapatkan rasa tenang,” ujar Dian, Kamis (15/1/2026) di Surabaya.

Menurutnya, ketidakpastian terhadap masa depan dan situasi hidup yang sulit diprediksi membuat sebagian Gen Z rentan mengalami kecemasan. Dalam kondisi tersebut, tarot hadir menawarkan narasi atau penjelasan yang dianggap mampu meredakan kegelisahan.

Dian menambahkan, pembacaan tarot dapat memunculkan khayalan atau gambaran tertentu yang membuat individu merasa seolah mampu memahami apa yang sedang atau akan terjadi dalam hidupnya.

“Ketika seseorang mengalami kecemasan karena menghadapi sesuatu yang tidak bisa diprediksi, tarot menawarkan narasi tentang diri mereka tanpa judgement. Hal ini bisa memberikan efek menenangkan dan berfungsi sebagai coping mechanism,” jelasnya.

Meski demikian, Dian mengingatkan bahwa penggunaan tarot perlu disikapi secara bijak. Tarot masih dapat diterima apabila digunakan sebagai sarana refleksi diri yang mendorong evaluasi dan perkembangan pribadi.

Namun, ia menegaskan bahwa ketergantungan berlebihan pada tarot justru berpotensi menghambat kemampuan individu dalam memecahkan masalah secara rasional.

“Jika terlalu mengandalkan pemikiran-pemikiran yang ditawarkan tarot, ada risiko individu berhenti berusaha memperbaiki situasinya karena merasa semua sudah ditakdirkan,” ujarnya.

Dalam perspektif psikologi, kondisi tersebut dikenal sebagai self-fulfilling prophecy, yakni situasi ketika keyakinan seseorang terhadap suatu prediksi justru mendorong perilaku yang membuat prediksi itu seolah menjadi nyata.

Sebagai alternatif, Dian menyarankan Gen Z untuk mengelola stres secara mandiri melalui cara-cara yang lebih sehat, seperti journaling, mengatur waktu dengan baik, menjaga pola makan bergizi, dan rutin berolahraga. Ia juga menekankan pentingnya mencari bantuan profesional apabila individu merasa tidak mampu mengatasi tekanan emosional sendiri.

“Saat menghadapi krisis emosional yang berat, mendatangi psikolog atau psikiater tetap menjadi langkah terbaik untuk mendapatkan penanganan yang tepat,” kata Dian.

(devi/sukadana)