Visa dan Tiket Mahal Jadi PR Pariwisata Indonesia
JAKARTA, PODIUMNEWS.com - Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengakui kebijakan visa dan harga tiket transportasi domestik masih menjadi pekerjaan rumah utama dalam meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia di kawasan ASEAN. Hal tersebut disampaikan saat memaparkan arah pengembangan pariwisata nasional di hadapan Harvard Indonesian Student Association di Jakarta, Selasa (20/1/2026).
Widiyanti menjelaskan, meski mencatat pertumbuhan positif, Indonesia masih menghadapi tantangan struktural sebagai negara kepulauan. Konektivitas udara dan laut menjadi faktor krusial yang memengaruhi biaya perjalanan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.
“Sebagai negara kepulauan, akses transportasi menjadi kunci. Pemerintah sedang mengupayakan penyesuaian harga tiket domestik agar lebih kompetitif melalui tinjauan regulasi, pemberian insentif, serta penambahan armada pesawat,” kata Widiyanti.
Selain konektivitas, kebijakan visa juga menjadi perhatian pemerintah. Menurut Widiyanti, Indonesia perlu menyeimbangkan antara penerimaan langsung dari biaya visa dan manfaat ekonomi jangka panjang yang dihasilkan dari peningkatan kunjungan wisatawan.
Ia menyebut kebijakan visa Indonesia saat ini relatif lebih ketat dibandingkan sejumlah negara tetangga, seperti Thailand dan Malaysia, yang lebih agresif dalam menarik wisatawan melalui kemudahan akses masuk.
Dalam forum tersebut, Widiyanti juga memaparkan posisi Indonesia di tingkat ASEAN. Dari sisi jumlah kunjungan absolut pada periode Januari hingga November 2025, Indonesia berada di peringkat kelima. Namun, dari sisi pertumbuhan, Indonesia menempati peringkat kedua tertinggi di kawasan.
“Dalam membandingkan kinerja pariwisata antarnegara, kita perlu menggunakan data yang adil. Misalnya dengan mengecualikan ekskursionis yang hanya melintas singkat untuk kebutuhan harian,” ujarnya.
Pemerintah, lanjut Widiyanti, tetap optimistis dapat meningkatkan daya saing pariwisata nasional melalui perbaikan kebijakan visa, penguatan konektivitas, serta pengembangan pariwisata berkelanjutan yang melibatkan masyarakat lokal.
(riki/sukadana)