Podiumnews.com / Horison / Selaras

CEO Menyamar dan Pesta Pura-Pura Manusia Bali

Oleh Nyoman Sukadana • 30 Januari 2026 • 13:22:00 WITA

CEO Menyamar dan Pesta Pura-Pura Manusia Bali
Ilustrasi drama CEO menyamar asal Cina yang menggambarkan kontras tajam antara kemiskinan dekil dan kemewahan palsu di tengah masyarakat modern. (podiumnew)

BELAKANGAN INI, algoritma media sosial kita seolah punya hobi baru: menyodorkan drama mini berdurasi singkat tentang CEO yang menyamar jadi orang miskin. Polanya klise. Ada sosok yang berpakaian dekil, mungkin dicitrakan sebagai kurir atau petugas kebersihan yang dihina habis-habisan oleh orang kaya sombong. Lalu, tiba-tiba identitas aslinya terbongkar sebagai pemilik kekuasaan. Momen saat si sombong tertunduk malu, yang kita sebut sebagai the big reveal, menjadi puncak kepuasan bagi jutaan penonton.

Fenomena ini sejatinya berakar dari tren micro-drama asal Cina yang meledak secara global. Di sana, industri konten memproduksi ribuan judul drama pendek dengan ongkos murah namun memiliki daya candu tinggi karena menjual narasi pembalasan dendam dan keajaiban status sosial. Namun, jika kita berhenti sejenak, fenomena ini sebenarnya berteriak tentang sesuatu yang jauh lebih dalam. Drama-drama ini bukan sekadar tontonan iseng, melainkan potret masyarakat yang sedang sakit, yang lebih memilih memeluk fantasi daripada menghadapi nasibnya yang pahit. Di sini, benang merah antara drama CEO asal Cina di layar dengan fenomena fake rich di dunia nyata mulai terlihat jelas: keduanya adalah pelarian kolektif dari realitas yang menyesakkan.

Jejak Fantasi Rumah Pilar

Sebelum drama CEO menyamar ini viral di ponsel, selera visual kita sudah dibentuk oleh sejarah panjang televisi swasta di Indonesia. Fenomena ini dimulai pada awal era 1990-an, ketika monopoli televisi negara mulai runtuh dan stasiun televisi swasta pertama mulai mengudara secara nasional. Jika kita menengok ke belakang, awal era 1990-an sebenarnya masih sempat menyisakan sinetron yang membumi. Kita tentu ingat Si Doel Anak Sekolahan yang bicara tentang perjuangan sarjana di tengah himpitan ekonomi, atau Keluarga Cemara yang bicara tentang kejujuran dalam kemiskinan yang bersahaja.

Namun, seiring dengan persaingan rating yang makin brutal di pertengahan era 1990-an, wajah televisi kita berubah total. Tren bergeser tajam menuju produksi yang menjual mimpi. Fokus ceritanya pindah dari gang sempit ke rumah gedongan dengan pilar-pilar raksasa yang sebenarnya tidak lazim untuk rumah tinggal manusia normal. Inilah masa di mana kemewahan mutlak dijadikan karakter utama. Estetika rumah pilar ini menciptakan standar baru: sukses itu artinya punya tangga melingkar di ruang tamu dan garasi yang dipenuhi mobil-mobil mewah yang mengilap.

Pesta Pura-Pura Visual

Sinetron era tersebut membangun narasi kehidupan yang isinya hanya pesta ke pesta. Setiap karakter utama seolah-olah tidak pernah bekerja secara nyata, hari-hari mereka habis untuk berpesta di klub malam atau jamuan makan malam formal yang penuh intrik. Kehidupan dicitrakan sebagai perayaan tanpa henti di mana penampilan luar adalah segalanya. Selama hampir tiga dekade, terhitung sejak booming sinetron Tersanjung tahun 1998 hingga puncaknya pada periode 2015-an, televisi kita secara sistematis mendidik penonton bahwa martabat manusia hanya ditentukan oleh simbol material.

Masalah utamanya adalah kita sekarang hidup di era yang disebut oleh filsuf Prancis, Guy Debord, sebagai Masyarakat Spektakel. Menurut Debord, hidup kita hari ini bukan lagi soal apa yang kita jalani, tapi soal apa yang kita tonton. Spektakel telah menjebak kita untuk lebih mencintai tampilan daripada isi. Penyakit ini kemudian melompat ke dunia nyata menjadi fenomena fake rich. Ini adalah bukti nyata dari apa yang disebut Jean Baudrillard sebagai Hiper-realitas. Dalam dunia ini, citra digital dianggap lebih nyata daripada kenyataan fisik. Kita hidup di era di mana tampak kaya jauh lebih penting daripada menjadi kaya.

Ledakan Materialisme Pariwisata Bali

Fenomena global ini menemukan bentuknya yang paling ironis di Bali. Perubahan masyarakat Bali tidak terjadi di ruang hampa. Selain arus informasi yang makin terbuka, pemicu utamanya adalah kemajuan ekonomi akibat industri pariwisata yang tumbuh pesat dimulai saat era 90-an. Bali bertransformasi dari masyarakat agraris yang bersahaja menjadi pusat industri jasa internasional. Ledakan ekonomi ini membawa dampak ganda. Di satu sisi kesejahteraan meningkat, namun di sisi lain ia melahirkan budaya konsumerisme yang akut.

Masyarakat Bali hari ini, terutama generasi mudanya, hidup di bawah tekanan visual yang luar biasa. Di depan mata mereka, setiap hari tersaji gaya hidup mewah para influencer dan ekspatriat di kawasan wisata populer seperti Canggu atau Seminyak. Gaya hidup pesta, pakaian bermerek, dan nongkrong di beach club mewah telah menjadi standar baru bagi apa yang disebut sebagai kesuksesan. Akibatnya, banyak warga lokal yang terjebak dalam perlombaan citra yang melelahkan. Kita melihat fenomena di mana orang rela memaksakan diri, bahkan hingga terjerat pinjaman online, hanya demi bisa hadir dalam pesta visual tersebut.

Angkaban Barong Somi Modern

Dalam kearifan lokal Bali, fenomena kepalsuan identitas ini menemukan padanan yang sangat tajam dalam istilah angkaban barong somi. Secara harfiah, istilah ini merujuk pada penampakan Barong yang terlihat sangat besar dan mentereng, namun ternyata hanya terbuat dari tumpukan jerami. Ia memberikan kesan yang mengejutkan di luar, tetapi di dalamnya kosong dan rapuh. Identitas manusia Bali yang dahulu dikenal dunia karena kepolosannya, kini mulai keropos digerus konsumerisme dan hedonisme.

Ada ironi yang pedih di sini. Manusia Bali dahulu dikenal sebagai orang-orang yang jujur. Kejujuran itu lahir dari pemahaman mendalam tentang Tri Kaya Parisudha, yakni keselarasan antara pikiran atau Manacika, perkataan atau Wacika, dan perbuatan atau Kayika. Dahulu, identitas manusia Bali adalah tentang kejujuran terhadap nurani dan ketidaksukaan terhadap kepalsuan. Namun, gempuran modernitas yang dibawa oleh industri pariwisata massal telah merusak jangkar tersebut. Budaya flexing telah menggantikan nilai ketulusan. Kita memikul angkaban barong somi ke mana-mana, memamerkan kemewahan jerami demi validasi digital.

Logika Hidup Terbalik

Masyarakat kita juga mulai meninggalkan prinsip hidup seken, seleg, dan seger. Seken artinya sungguh-sungguh atau jujur dan autentik. Seleg artinya tekun bekerja. Dan seger artinya sehat secara fisik, mental, maupun sosial yang pada akhirnya membawa kesejahteraan. Urutannya sangat jelas: kualitas hidup yang sehat dan sejahtera adalah buah dari kejujuran dan ketekunan. Drama CEO menyamar dan fenomena kekayaan palsu mencoba membalik logika ini. Orang-orang ingin langsung terlihat seger dan berpesta di media sosial, tanpa mau melewati fase jujur pada kapasitas diri dan tekun berproses.

Mereka memotong jalur dengan cara memalsukan realitas. Padahal, kemakmuran yang didapat tanpa kejujuran hanyalah kemakmuran jerami yang tidak punya akar kuat. Theodor Adorno pernah memperingatkan tentang bahaya Industri Budaya yang sengaja menciptakan konten massal untuk menjinakkan nalar kritis kita. Alih-alih diajak untuk melihat mengapa ketimpangan ekonomi ini terjadi, kita justru disuruh tetap menonton mimpi-mimpi tentang pesta dan rumah gedongan. Narasi ini membuat kita tetap diam di tempat, mencari pelarian emosional lewat layar ponsel, sementara kondisi nyata kita tidak berubah.

Menjemput Kembali Realitas Jujur

Benang merah dari drama CEO hingga fake rich adalah sebuah alarm keras tentang krisis autentisitas. Kita sedang hidup dalam sebuah pesta pura-pura yang sangat melelahkan. Kita lebih sibuk membangun topeng daripada memperbaiki nasib yang nyata. Tantangan bagi kita hari ini adalah berani keluar dari gua spektakel ini. Martabat sejati tidak terletak pada seberapa jago kita menyamar atau seberapa mentereng Barong jerami yang kita pamerkan.

Martabat itu ada pada keberanian untuk kembali ke nilai seken, yakni jujur pada nurani dan kapasitas diri. Sudah saatnya kita meruntuhkan kepalsuan digital ini, menjunjung tinggi Tri Kaya Parisudha, dan berhenti memikul jerami yang berat. Keadilan sejati tidak akan datang dari tangan seorang CEO yang menyamar, melainkan dari keberanian kita untuk melihat dunia apa adanya. Mari membangun realitas yang lebih jujur tanpa filter, tanpa naskah, dan tanpa kepalsuan. (*)

Menot Sukadana