Podiumnews.com / Horison / Selaras

Tragedi Jayaprana, Ahmad Albar, dan Estetika Kesetiaan

Oleh Nyoman Sukadana • 03 Februari 2026 • 03:27:00 WITA

Tragedi Jayaprana, Ahmad Albar, dan Estetika Kesetiaan
Potret Pura Jayaprana di Buleleng, monumen fisik kesetiaan suci yang melampaui logika rasional, menjadi jangkar moral dan inspirasi estetika sosiokultural. (Dispar Buleleng)

"Dunia ini panggung sandiwara, ceritanya mudah berubah. Kisah Mahabarata atau tragedi dari Yunani."

SUARA serak Ahmad Albar yang diiringi distorsi gitar Ian Antono dalam lagu Panggung Sandiwara bukan sekadar gema rock era 70-an yang terjebak dalam nostalgia industri. Bagi masyarakat di Jawa dan Bali, lirik yang ditulis oleh penyair Taufiq Ismail ini adalah sebuah pernyataan ontologis tentang hakikat eksistensi manusia di tengah karut-paut zaman. Sejak dirilis pertama kali pada tahun 1973 melalui proyek Duo Kribo bersama Ucok Harahap maupun kemudian menjadi lagu wajib God Bless, lagu ini telah menjadi semacam kompas sosiokultural bagi mereka yang merasa terasing di tengah hiruk-pikuk peran-peran artifisial dunia.

Namun terdapat satu bait yang sering kali luput dari perenungan epistemologis yang mendalam: "Mengapa pula kita menangis karena peran komedi, mengapa pula kita tertawa karena tragedi dari Yunani?"

Pertanyaan retoris Taufiq Ismail ini sebenarnya adalah sebuah kritik sosiologis tajam terhadap desensitisasi rasa manusia modern. Ia memotret fenomena distance atau jarak estetis yang anomali, di mana manusia kehilangan kemampuan untuk berempati pada koordinat yang tepat. Mengapa kita tertawa pada hal yang seharusnya menyayat batin? Di sinilah kita menemukan titik berangkat untuk membedah sebuah tragedi lokal yang memiliki frekuensi yang sama dengan tragedi Yunani namun berakar kuat pada struktur sosiokultural dan suasana kebatinan tanah Bali: Kisah Jayaprana dan Layonsari. Ahmad Albar melalui lagu ini seolah membukakan gerbang menuju dialektika panjang tentang bagaimana manusia Timur memandang nasib, kekuasaan, dan yang paling fundamental adalah kesetiaan.

Antigone Dari Celuk Bawang

Jika peradaban Barat membanggakan Oedipus yang beradu nasib dengan determinisme dewa atau Antigone yang memilih mati demi kehormatan keluarga, Bali memiliki Jayaprana. Jayaprana bukan sekadar residu cerita rakyat atau folklore yang berfungsi sebagai pengantar tidur. Ia adalah personifikasi dari kesetiaan yang tampak absurd bagi nalar rasional-instrumental Barat, namun suci dalam ruang batin masyarakat Timur.

Jayaprana adalah abdi kesayangan Raja Kalianget. Ia adalah seorang yatim piatu yang dibesarkan di dalam struktur feodal istana, diberikan perlindungan, pendidikan, dan akhirnya diizinkan menikahi Layonsari. Namun panggung sandiwara kekuasaan segera bekerja dengan mekanisme yang kejam. Sang Raja yang digerakkan oleh nafsu primitif dan hasrat posesif berupaya meruntuhkan tatanan moral demi memiliki Layonsari.

Dengan muslihat sosiopolitik yang transparan, sebuah skenario maut yang disusun layaknya naskah drama murahan, Raja mengirim Jayaprana ke hutan Celuk Bawang dengan dalih menjaga stabilitas kerajaan dari ancaman perompak. Di balik surat tugas resmi itu terselip instruksi eksekusi mati bagi sang abdi. Jayaprana bukan sosok yang naif. Dalam berbagai tafsir sastra Bali seperti Gaguritan Jayaprana, ia digambarkan memiliki ketajaman intuisi. Ia sudah membaca isyarat maut dalam surat tersebut. Namun secara sosiokultural ia tidak memilih pemberontakan fisik, kudeta, atau pelarian diri ke wilayah Jembrana untuk menyelamatkan eksistensi biologisnya. Ia memilih untuk tetap berangkat.

Bagi paradigma pemikiran Barat yang mengutamakan rasionalitas individu, otonomi, dan self-preservation, tindakan Jayaprana adalah bentuk irasionalitas yang konyol. Kenapa menyerahkan leher pada keris Patih Jelantik? Namun dalam sosiologi masyarakat Timur, tindakan Jayaprana adalah bentuk Satya, sebuah kesetiaan pada peran yang melampaui logika hidup-mati. Sebagaimana ulasan I Made Bandem, budayawan besar Bali, tragedi Jayaprana adalah bentuk Yadnya atau pengorbanan suci. Jayaprana menuntaskan tugas kemanusiaannya dengan mulia atau nguputang dharma. Ia menolak keluar dari skenario kehormatan hanya untuk menyelamatkan daging yang fana.

Kesetiaan Sunyi Romo Sindhunata

Untuk memahami mengapa masyarakat kita memuliakan estetika tragedi ini, kita harus merujuk pada Serat Tripama karya Mangkunegara IV. Kitab ini merupakan pedoman etika ksatria yang mengangkat tiga perumpamaan tokoh wayang yang setia: Patih Suwanda, Kumbakarna, dan Adipati Karna.

Mari kita bedah sosok Adipati Karna. Ia adalah pahlawan tragis yang paling dicintai sekaligus paling disalahpahami. Karna sadar sepenuhnya bahwa Kurawa berada di jalur Adharma atau kebatilan. Ia tahu Pandawa adalah saudara kandungnya. Ia bahkan tahu bahwa di akhir perang Bharatayuddha kepalanya akan terpenggal oleh panah Arjuna. Namun Karna tetap teguh di barisan Kurawa karena ia telah mengikat janji pada Duryudana, sosok yang mengangkat derajatnya saat semua orang menghinanya sebagai anak kusir.

Tokoh pemikir, budayawan, dan sastrawan Romo Sindhunata dalam berbagai esainya sering mengangkat Karna sebagai simbol kesetiaan yang sunyi. Bagi Romo Sindhunata, Karna tidak sedang mengejar kemenangan politis melainkan menjaga integritas nuraninya di tengah dunia yang penuh khianat. Masyarakat Jawa dan Bali tidak pernah menghujat Karna sebagai pengkhianat. Ia justru diberi tempat terhormat dalam struktur batin kita sebagai ksatria yang tuntas memainkan peran di panggung sandiwara dunia, meski ia tahu panggung itu akan runtuh menimpanya. Begitu pula dengan Kumbakarna yang bertempur bukan membela kakaknya yang dhalim, melainkan demi tanah tumpah darahnya, Alengka. Kematian tragis tokoh-tokoh ini membuktikan bahwa dalam suasana kebatinan Timur, kemenangan fisik tidaklah lebih utama daripada keteguhan memegang prinsip.

Lango Dan Etika Jawa

Filsuf Franz Magnis-Suseno dalam Etika Jawa menjelaskan bahwa masyarakat kita memuliakan hormat dan kewajiban di atas kepentingan ego. Hal ini beresonansi dengan konsep Lango yang dibedah oleh P.J. Zoetmulder dalam Kalangwan. Tragedi kesetiaan dalam sastra klasik kita dianggap indah karena ia membawa penikmatnya pada kondisi religius. Kita menangis saat mendengar kisah Jayaprana bukan karena kasihan secara dangkal, tapi karena kita mengalami Catharsis atau penyucian jiwa melalui keindahan pengorbanan yang agung. Ini adalah logika rasa yang melampaui logika materialistik.

Arketipe Pahlawan Yang Dikorbankan

Jika kita membedah fenomena ini melalui pisau psikoanalisa Carl Jung, kita menemukan bahwa kisah Jayaprana telah menjadi arketipe dalam ketidaksadaran kolektif masyarakat kita. Jung percaya ada pola-pola purba yang diwariskan dalam jiwa manusia. Sosok Jayaprana mewakili arketipe The Sacrificial Hero atau pahlawan yang dikorbankan.

Dalam suasana kebatinan sosiokultural Jawa-Bali, pahlawan yang mati secara tragis justru memiliki daya tarik psikis yang lebih kuat daripada pemenang. Kita merasakan penyatuan dengan Shadow atau bayangan kolektif kita yaitu rasa tertindas di hadapan kekuasaan. Saat mendengar lagu Ahmad Albar atau lagu pop Bali yang melankolis, arketipe ini bereaksi dan memberikan penghiburan metafisik bahwa penderitaan kita memiliki silsilah yang agung.

Tragedi Sebagai Afirmasi Hidup

Perspektif ini menemukan pembenaran intelektualnya dalam pemikiran Friedrich Nietzsche. Dalam The Birth of Tragedy, Nietzsche membedah kontradiksi antara energi Apollonian yang berpusat pada logika dan Dionysian yang berpusat pada rasa dan tragedi. Nietzsche berargumen bahwa tragedi adalah bentuk tertinggi dari keberanian manusia untuk berkata Ya pada hidup sepedih apa pun itu atau Amor Fati. Nietzsche membenci rasionalitas Socrates yang dianggapnya membunuh gairah hidup karena terlalu logis. Inilah yang disindir oleh Ahmad Albar dalam lagu panggung sandiwara. Manusia modern telah menjadi kering karena kita kehilangan keberanian untuk menyelami kedalaman penderitaan yang suci.

Akar Lagu Bali Cengeng

Dari akar sejarah dan filosofis inilah kita membedah fenomena kontemporer yaitu menjamurnya lagu-lagu pop Bali yang sering dicap cengeng atau melankolis berlebihan. Secara sosiokultural ini bukan tanda kemerosotan karakter, melainkan manifestasi modern dari estetika penderitaan kita. Masyarakat Bali mengenal istilah ngedetin hati yang berarti menyayat hati. Lagu yang dianggap kena adalah lagu yang mampu menguras rasa sedih. Ini adalah cara masyarakat modern melakukan penyucian batin di tengah gempuran modernitas yang serba indah di permukaan namun kering di dalam. Kecengengan itu adalah kejujuran emosional yang menjadi resonansi panjang dari luka kolektif Jayaprana yang tak pernah benar-benar sembuh. Kita memuja tokoh yang teraniaya namun tetap setia karena itulah standar moralitas rasa kita.

Evolusi Roh Puputan Dan Kesetiaan

Suasana kebatinan tentang kesetiaan tragis ini menemukan puncaknya dalam peristiwa sejarah yang paling heroik sekaligus pedih di Bali yaitu Puputan. Istilah Puputan yang merujuk pada perlawanan habis-habisan hingga tetes darah terakhir bukan sekadar strategi militer, melainkan sebuah pernyataan harga diri sosiokultural. Sama halnya dengan Jayaprana yang memilih maut demi menjaga kehormatan abdinya, dalam Puputan Badung maupun Puputan Klungkung, raja dan rakyat memilih untuk menjemput maut daripada tunduk di bawah telapak kaki kolonial Belanda.

Di sini kita melihat benang merah yang sangat kuat: kematian fisik dipandang lebih mulia daripada hidup yang terhina oleh pengkhianatan terhadap janji dan tanah air. Pemahaman ini berakar dari prinsip kesetiaan yang juga kita temukan dalam jejak tradisi masa lampau seperti Mesatya. Berakar dari kata Satya, hal tersebut dahulu merupakan pembuktian kesetiaan tertinggi yang bermanifestasi dalam prinsip Satia di Satya atau setia pada kebenaran janji, serta Satia di Bela atau setia sampai mati demi martabat. Meskipun pemerintah kolonial Belanda secara resmi melarang praktik fisik terkait tradisi tersebut pada awal abad ke-20 karena perbedaan paradigma kemanusiaan, namun roh keberanian untuk berkorban demi prinsip tetap abadi dalam memori kolektif masyarakat. Sublimasi dari semangat Puputan dan Mesatya ini tetap hidup dalam setiap narasi sastra dan seni di Bali.

Simbol Perlawanan Moral Fisik

Secara geografis dan sosiologis, tragedi ini membatu di Pura Jayaprana, Buleleng. Makam ini dikeramatkan bukan untuk merayakan kekuasaan Raja, melainkan untuk menghormati sang abdi. Sebagaimana analisis sosiolog Benedict Anderson, kehormatan dalam budaya kita ditentukan oleh totalitas peran. Belanda mungkin pernah melarang manifestasi fisik kesetiaan tertentu di masa lalu, namun mereka gagal menghapus insting atau suasana kebatinan yang melandasinya. Ia bertransformasi menjadi nada-nada melankolis yang kita dengar hari ini dalam rekaman audio yang kita simpan sebagai naskah dari panggung sandiwara yang belum usai.

Mengakhiri Sandiwara Secara Jujur

Kembali ke lagu Ahmad Albar. Panggung sandiwara dunia memang penuh dengan kepura-puraan. Namun dari Jayaprana, semangat Puputan, hingga ulasan tokoh pemikir, budayawan, dan sastrawan Romo Sindhunata, kita belajar bahwa cara terbaik mengakhiri sandiwara adalah dengan menjadi setia pada prinsip diri. Kita tidak perlu malu menjadi cengeng demi sebuah kesetiaan. Karena di dalam air mata tragedi itu kita sebenarnya sedang merayakan kemenangan kemanusiaan yang paling murni. Di akhir panggung kehidupan, yang abadi bukanlah takhta sang Raja yang sombong, melainkan nama Jayaprana yang tetap wangi di hutan Celuk Bawang. Ia menjadi bukti bahwa kesetiaan adalah satu-satunya peran yang layak dimainkan dengan sungguh-sungguh hingga layar ditutup. (*)

Menot Sukadana