Podiumnews.com / Kolom / Opini

Bali dan Seni Berbicara Seperlunya

Oleh Nyoman Sukadana • 02 Maret 2026 • 07:49:00 WITA

Bali dan Seni Berbicara Seperlunya
Angga Wijaya (Dok/Pribadi)

BALI hari ini bukan lagi pulau yang sama seperti dalam foto-foto hitam putih para antropolog awal abad ke-20. Jalanan semakin padat, bahasa yang terdengar di warung kopi bercampur antara Bali, Jawa, Nusa Tenggara, Madura, Indonesia, Inggris, Rusia, hingga Korea. Kafe tumbuh lebih cepat daripada pohon kelapa, dan percakapan berlangsung hampir tanpa jeda di ruang-ruang urban yang baru.

Pulau ini menjadi semakin heterogen. Namun di tengah perubahan itu, ada satu hal yang diam-diam masih bertahan, yakni cara orang Bali memperlakukan kata-kata.

Sejak lama saya memperhatikan sesuatu yang sederhana tetapi jarang dibicarakan. Orang Bali, dalam pengalaman sehari-hari, tidak terlalu suka menghabiskan waktu dengan mengobrol sepanjang hari. Mereka berbicara seperlunya. Percakapan terjadi ketika memang ada hal penting yang perlu disampaikan. Tidak semua ruang harus diisi kata-kata. Dalam banyak situasi, orang Bali justru tampak hemat bicara.

Pengamatan ini sebenarnya memiliki jejak panjang dalam antropologi. Ketika Margaret Mead dan Gregory Bateson meneliti Bali pada 1930-an dan menerbitkan buku Balinese Character: A Photographic Analysis, mereka mencatat bagaimana ekspresi emosi masyarakat Bali cenderung terkendali dan tidak meledak-ledak. Orang Bali, menurut mereka, tidak mengekspresikan konflik secara langsung.

Pengamatan itu lama dipahami sebagai tanda ketenangan budaya. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari, ia terasa lebih sebagai etika sosial; kehati-hatian dalam menggunakan kata.

Orang Bali masa lalu sangat menjaga perasaan orang lain. Salah bicara bukan sekadar kesalahan pribadi, melainkan gangguan terhadap harmoni sosial. Kata-kata dapat melukai, dan luka sosial sering bertahan lebih lama daripada luka fisik. Karena itu, berbicara menjadi tindakan yang dipertimbangkan. Diam bukan kekosongan. Ia adalah bentuk tanggung jawab.

Percakapan panjang justru menemukan tempatnya pada ruang yang dianggap tepat. Dalam sangkep atau rapat banjar, dalam pesamuan adat, atau momen-momen kolektif ketika keputusan bersama harus diambil, orang Bali bisa berbicara panjang, serius, bahkan keras. Semua orang mendapat ruang untuk menyampaikan pendapat.

Tetapi setelah forum selesai, kata-kata kembali dirapikan.Di luar ruang resmi itu, kehidupan berjalan lebih senyap. Waktu senggang jarang dihabiskan untuk bergunjing sepanjang hari. Para perempuan sibuk mejejahitan, merangkai janur menjadi sesajen yang rumit dan indah. Tangan bekerja hampir tanpa henti, seolah waktu luang memang tidak dimaksudkan untuk kosong.

Produktivitas menjadi bentuk meditasi sehari-hari. Para lelaki, terutama yang memiliki kecenderungan seni, menyibukkan diri dengan menulis, melukis, memahat, memainkan gamelan, atau sekadar merawat ayam jago kesayangan mereka. Dari luar, aktivitas ini sering disalahpahami sebagai kemalasan. Stereotipe tentang laki-laki Bali yang pemalas lahir dari pandangan yang gagal memahami bahwa bekerja tidak selalu berarti bergerak tergesa-gesa.

Banyak pekerjaan budaya berlangsung dalam ritme lambat. Mengelus ayam jago, misalnya, bukan sekadar hobi kosong. Ia adalah relasi, perhatian, kesabaran, bahkan estetika. Sama seperti memahat kayu atau melukis kanvas, aktivitas itu membutuhkan kehadiran penuh, sesuatu yang jarang dihargai dalam logika produktivitas modern.

Bagi saya pribadi, ada pelajaran sederhana di sana, yakni, daripada menghabiskan waktu bergunjing yang mudah berubah menjadi racun sosial, lebih baik melakukan sesuatu yang menghibur diri dan bermanfaat. Banyak omong sering membuka peluang salah bicara. Dan sekali kata terlepas, ia tidak mudah ditarik kembali. Dalam masyarakat yang hidup berdekatan seperti Bali, kata-kata memiliki konsekuensi sosial yang panjang.

Namun Bali kini berada dalam fase baru. Kota dan desa seperti Denpasar, Kuta, Canggu, hingga Ubud menjadi ruang urban dengan penghuni dari berbagai latar belakang budaya. Tradisi komunikasi global yang lebih ekspresif bertemu dengan etika lokal yang lebih menahan diri.

Di kafe-kafe urban, percakapan berlangsung keras dan cepat. Media sosial mendorong semua orang untuk terus berbicara, berkomentar, dan bereaksi. Keheningan menjadi sesuatu yang terasa asing, bahkan mencurigakan.

Dalam kultur urban baru ini, diam sering disalahartikan sebagai tidak tahu, tidak peduli, atau tidak percaya diri. Padahal dalam tradisi Bali, diam justru bisa berarti menghormati.

Perubahan ini menciptakan pertemuan dua cara hidup: budaya bicara tanpa henti dan budaya berbicara pada tempatnya. Generasi muda Bali kini hidup di antara keduanya. Mereka belajar menjadi ekspresif tanpa kehilangan kesadaran akan dampak kata-kata.

Mungkin di sinilah nilai lama itu menjadi relevan kembali. Di tengah dunia yang terlalu bising, kemampuan untuk tidak selalu berbicara adalah keterampilan yang langka.

Diam memberi ruang untuk berpikir. Diam mencegah konflik yang tidak perlu. Diam menjaga hubungan tetap utuh. Bukan berarti orang Bali tidak suka berbicara. Mereka hanya percaya bahwa setiap kata memiliki waktu dan tempatnya sendiri.

Dan mungkin justru di era urban yang semakin gaduh ini, kita semua perlu belajar kembali sesuatu yang dulu dianggap biasa: bahwa tidak semua pikiran harus diucapkan, tidak semua percakapan perlu diperpanjang, dan tidak semua waktu senggang harus diisi oleh suara.

Sebab barangkali peradaban tidak runtuh karena terlalu sedikit bicara, melainkan karena terlalu banyak kata yang kehilangan timbang rasa.

Belajar diam dari orang Bali, pada akhirnya, bukan pelajaran untuk menjadi sunyi, melainkan pelajaran untuk tahu kapan suara kita benar-benar diperlukan. Dan di zaman yang semakin berisik ini, kemampuan itu mungkin adalah bentuk kebijaksanaan yang paling langka. (*)

Oleh: Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai