Di Bawah Lampu Kuning Pasar Kota
Di bawah lampu kuning pasar itu, wajah-wajah manusia tampak lebih jujur.
MENJELANG sore, ketika matahari mulai turun pelan di langit Denpasar, Bali, lorong-lorong pasar mulai ramai oleh langkah kaki dan suara tawar-menawar. Lampu-lampu tua menyala satu per satu. Cahayanya tidak terang benar. Kekuningan. Sedikit redup. Memantul pada lantai yang mulai lembap oleh sisa air dan jejak sandal para pembeli.
Bau ikan asin bercampur sayur basah, dupa, plastik, keringat, dan gorengan naik bersamaan ke udara. Di sudut lain, seorang perempuan paruh baya sedang menyusun cabai merah ke dalam baskom kecil sambil sesekali mengipas wajahnya dengan kardus bekas. Tak jauh dari sana, seorang lelaki tua sibuk membungkus bawang dengan kantong kresek tipis sambil bercanda dengan pembeli yang menawar terlalu murah.
Pasar di Denpasar ini memang berbeda dari bayangan banyak orang tentang pasar tradisional. Ia tidak hidup sejak subuh. Justru denyutnya mulai terasa sejak siang hingga malam hari. Ketika kota perlahan lelah oleh pekerjaan dan kemacetan, pasar ini seperti baru mulai membuka napas panjangnya.
Bangunannya tua. Temboknya kusam dimakan usia. Cat-cat yang mulai pudar justru menghadirkan kesan estetis yang sulit ditemukan di pusat perbelanjaan modern. Di beberapa sudut, lampu kuning menggantung rendah seperti sedang menjaga sesuatu yang diam-diam tetap bertahan hidup di tengah perubahan zaman.
Konon, tanah tempat pasar ini berdiri dahulu adalah bekas kuburan Cina. Orang-orang lama masih menyimpan cerita itu dalam percakapan sehari-hari. Sebelum kembali menjadi milik Pemerintah Kota Denpasar, tempat ini juga pernah menjadi supermarket grosir. Zaman berganti. Pengelola berubah. Namun kehidupan kecil di tempat ini rupanya tidak pernah benar-benar hilang.
Mungkin karena pasar selalu lebih kuat daripada bangunan. Ia hidup dari manusia-manusia yang datang setiap hari dengan harapan sederhana. Menjual sesuatu. Membeli sesuatu. Menyambung hidup sedikit demi sedikit.
Di pasar seperti inilah saya sering merasa sedang melihat wajah lain dari kehidupan. Wajah yang jarang muncul di media sosial. Wajah yang tidak sibuk membangun pencitraan tentang sukses dan kebahagiaan. Di sini orang-orang tetap bekerja meski hidup tidak selalu ramah kepada mereka.
Saya memperhatikan satu hal yang menarik. Banyak pedagang menjual barang yang hampir sama. Ada penjual cabai di kiri. Ada penjual cabai di kanan. Ada penjual bawang yang lapaknya saling berhadapan. Namun anehnya mereka tetap bisa saling mengobrol dan tertawa.
Kadang mereka saling meminjam uang receh, saling menjaga lapak ketika yang lain pergi sembahyang atau membeli kopi. Kadang saling membeli dagangan satu sama lain. Padahal mereka berada dalam persaingan yang nyata.
Saya membayangkan betapa sulit hidup mereka hari-hari ini. Harga barang naik turun. Pembeli kadang ramai, kadang sepi. Dagangan bisa rusak. Modal bisa habis. Namun mereka tetap datang ke pasar keesokan harinya seolah memiliki keyakinan yang tidak mudah runtuh.
Bahwa hidup harus terus berjalan, dan rezeki punya jalannya sendiri. Barangkali orang-orang pasar memahami sesuatu yang sering gagal dipahami banyak orang modern. Bahwa hidup tidak selalu harus dimenangkan dengan saling menjatuhkan.
Ada semacam iman sederhana yang tumbuh di lorong-lorong sempit itu. Iman bahwa semesta tidak akan benar-benar meninggalkan manusia yang mau bertahan hidup.
Saya pernah melihat seorang ibu penjual sayur duduk sendirian menjelang malam. Dagangannya belum banyak terjual. Orang-orang lewat begitu saja. Sebagian menawar terlalu rendah lalu pergi. Namun perempuan itu tetap tersenyum ketika melayani pembeli berikutnya.
Tidak ada kemarahan di wajahnya, atau keluhan berlebihan. Hanya wajah lelah yang tetap memilih bertahan. Saat melihatnya, saya tiba-tiba merasa malu pada diri sendiri. Kadang kita yang hidup dengan pendidikan, telepon pintar, akses internet, dan berbagai kemudahan justru lebih mudah panik menghadapi hidup.
Sedikit gagal langsung merasa dunia tidak adil, sedikit tertinggal langsung merasa kalah. Atau, sedikit sepi langsung merasa tidak berguna. Sementara di bawah lampu kuning pasar kota ini, saya melihat manusia-manusia yang hidupnya jauh lebih keras tetapi tetap memiliki tenaga untuk tersenyum.
Mungkin karena mereka terlalu akrab dengan ketidakpastian. Mereka tahu ada hari ketika dagangan habis sebelum malam. Ada hari ketika barang harus dibawa pulang kembali, atau ketika keuntungan hanya cukup untuk membeli beras. Namun besok pagi atau siang nanti mereka akan kembali lagi membuka lapak. Dan hidup terus berjalan seperti itu.
Di pasar tradisional, saya merasa harapan tumbuh dalam bentuk yang sangat sederhana. Tidak mewah, dramatik, apalagi viral. Ia tumbuh dari meja kayu tua, timbangan usang, atau dari tangan-tangan kasar yang terus bekerja tanpa banyak bicara tentang motivasi hidup.
Mungkin itu sebabnya saya senang berjalan tanpa tujuan di lorong-lorong pasar seperti ini. Ada sesuatu yang terasa begitu manusiawi. Sesuatu yang membuat saya percaya bahwa dunia belum sepenuhnya kehilangan kewarasannya.
Antropolog Clifford Geertz pernah menulis bahwa pasar tradisional bukan sekadar tempat orang menjual dan membeli barang. Di dalam pasar, manusia juga mempertukarkan hubungan sosial, rasa percaya, bahkan cara bertahan hidup bersama. Pasar adalah ruang kebudayaan. Ruang tempat manusia belajar membaca wajah satu sama lain di tengah ketidakpastian hidup.
Mungkin karena itulah pasar tradisional selalu terasa lebih “manusia” dibanding pusat-pusat perbelanjaan modern. Di supermarket, semua tampak rapi, dingin, dan teratur. Harga sudah ditempel. Orang-orang datang, mengambil barang, lalu pergi tanpa percakapan berarti.
Sementara di pasar tradisional, hidup terasa bergerak lebih dekat dengan denyut manusia.
Ada tawar-menawar, candaan kecil, bahasa daerah yang saling bersahutan, atau ada ibu-ibu yang datang bukan hanya membeli sayur, tetapi juga mencari kabar tentang tetangganya.
Di Bali, pasar tradisional bahkan seperti perpanjangan dari kehidupan adat itu sendiri. Orang membeli janur untuk upacara. Membeli bunga untuk sembahyang. Membeli buah, dupa, dan berbagai kebutuhan ritual lainnya. Pasar menjadi bagian dari ritme kebudayaan yang terus bergerak dari hari ke hari.
Karena itu, ketika berjalan di lorong-lorong pasar Denpasar, saya sering merasa sedang melihat Bali dalam bentuk yang paling jujur. Bukan Bali dalam brosur wisata, atau Bali dalam unggahan media sosial yang penuh pantai dan matahari terbenam. Melainkan Bali yang hidup dari tangan-tangan orang kecil, Bali yang berkeringat, dan Bali yang tetap bekerja sampai malam.
Di bawah lampu kuning pasar itu, saya melihat perempuan-perempuan tua mengangkat keranjang berat dengan langkah pelan. Saya melihat pedagang yang tetap tersenyum meski dagangannya belum banyak laku. Saya melihat anak-anak muda membantu orangtuanya menjaga lapak sambil bermain telepon genggam di sela-sela waktu sepi pembeli.
Kota modern tumbuh semakin cepat di luar sana. Minimarket muncul hampir di setiap sudut jalan. Belanja daring semakin mudah. Orang-orang mulai terbiasa membeli sesuatu tanpa harus bertemu manusia lain.
Namun pasar tradisional rupanya belum benar-benar hilang. Barangkali karena ada sesuatu yang tidak bisa digantikan teknologi. Kehangatan percakapan kecil, suara manusia, dan tatapan mata. Dan perasaan bahwa hidup, seberat apa pun, masih bisa dijalani bersama-sama.
Saya membayangkan berapa banyak cerita yang tersimpan di bangunan tua ini. Berapa banyak orang datang dan pergi. Berapa banyak harapan yang pernah jatuh lalu tumbuh kembali. Bekas kuburan Cina itu kini dipenuhi kehidupan. Orang-orang datang membawa uang receh dan pulang membawa bahan makanan.
Pedagang datang membawa harapan sederhana agar dagangannya cukup laku hari itu. Dan di antara lorong-lorong sempit yang mulai lembap dimakan usia, kehidupan terus bergerak tanpa banyak suara besar.
Mungkin memang seperti itulah hidup bekerja. Tidak selalu megah dan gemerlap. Kadang ia hanya hadir dalam bentuk seorang ibu yang tetap membuka lapak meski pembeli sedang sepi. Atau hadir dalam bentuk tawa kecil antar pedagang yang sama-sama lelah. Kadang ia hadir dalam cahaya lampu kuning yang menggantung redup di pasar kota.
Semakin sering saya datang ke pasar tradisional, semakin saya merasa bahwa orang-orang kecil sebenarnya menyimpan pelajaran besar tentang hidup. Mereka tidak banyak berbicara tentang filosofi. Tidak sibuk memamerkan kata-kata bijak. Namun dari cara mereka bertahan, saya belajar bahwa harapan ternyata bisa tumbuh bahkan di tempat-tempat yang tampak sederhana. Dan mungkin benar.
Jika suatu hari hidup terasa terlalu berat, terlalu bising, dan terlalu melelahkan, datanglah ke pasar tradisional. Berjalanlah perlahan di lorong-lorongnya.
Lihat wajah-wajah manusia yang tetap bertahan hidup dengan caranya masing-masing. Barangkali di sana kita akan kembali mengingat bahwa hidup tidak selalu harus tampak hebat untuk tetap layak diperjuangkan. (*)
Penulis: Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.