Podiumnews.com / Kolom / Opini

Anak-Anak Rohani

Oleh Nyoman Sukadana • 11 Mei 2026 • 11:32:00 WITA

Anak-Anak Rohani

LUCU juga istilah ini. “Anak-anak rohani.” Dipakai oleh beberapa penulis, penyair, pelukis, atau seniman pada umumnya untuk menyebut karya-karya mereka. Wujudnya bisa berupa buku, lukisan, puisi, esai, cerpen, patung, lagu, seni instalasi, naskah teater, film pendek, atau karya-karya lain yang lahir dari proses kreatif.

Seolah-olah penciptaan karya adalah sesuatu yang luar biasa angker. Keramat. Mistis. Hanya bisa dilakukan oleh manusia pilihan yang disentuh semacam wahyu kebudayaan. Tidak semua orang mampu atau pantas.

Padahal seniman adalah profesi. Sama seperti pemulung, sopir truk, wartawan, pedagang gorengan, tukang parkir, hingga dokter. Ada kerja, proses, disiplin, latihan, dan jam terbang. Bahkan kadang ada tenggat waktu dan tagihan listrik yang mesti dibayar tepat waktu.

Bagaimana seni akan dihargai masyarakat jika senimannya sendiri masih terlalu sibuk membangun pagar eksklusif di sekeliling dirinya? Terlalu gemar menciptakan jarak dan menikmati citra “berbeda dari manusia biasa”.

Biasa-biasa saja. Anak-anak rohani. Saya tertawa kecil mendengarnya. Kadang istilah-istilah seperti itu justru membuat seni terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal seni lahir dari keseharian. Dari patah hati, utang yang belum lunas, atau suara knalpot di jalanan kota. Dari warung kopi, ibu yang menanak nasi, atau dari buruh yang pulang petang dengan tubuh penuh debu.

Seni bukan benda langit. Ia dekat sekali dengan tanah. Tetapi zaman berubah. Cepat sekali. Bahkan terlalu cepat untuk sebagian orang. Hari ini, ketika banyak seniman masih sibuk mendebat apakah sebuah karya cukup “rohani” atau tidak, dunia sudah memasuki babak baru bernama kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Mesin kini bisa menulis puisi, esai, melukis, membuat musik, dan bahkan mulai mampu membuat artikel berita dalam hitungan detik. Sesuatu yang dulu dianggap sangat manusiawi kini perlahan dapat ditiru oleh algoritma.

Mungkin beberapa orang akan marah mendengar ini. Sebagian lagi ketakutan, atau memilih menyangkal. “AI tidak punya jiwa,” kata mereka. Kalimat itu mungkin benar. Tetapi persoalannya bukan lagi soal jiwa atau tidak. Persoalannya adalah teknologi sudah telanjur hadir di ruang tamu kita. Ia tidak menunggu persetujuan seniman, meminta restu penyair. Ia datang seperti internet datang dua dekade lalu. Pelan-pelan, lalu mendadak menjadi kebutuhan sehari-hari.

Kini orang bisa membuat ilustrasi hanya dengan mengetik beberapa kalimat perintah. Seorang remaja di kamar kos bisa menghasilkan gambar bergaya surealis tanpa pernah menyentuh kuas. Seseorang bisa membuat puisi bernuansa patah hati dalam beberapa detik. Bahkan ada orang yang mulai menerbitkan buku dengan bantuan AI.

Lalu seniman harus bagaimana? Membenci AI? Menolak teknologi? Atau diam-diam menggunakannya sambil tetap merasa paling “murni”? Saya kira ketakutan terbesar sebagian seniman bukanlah soal AI bisa membuat karya. Melainkan karena AI mulai mengguncang mitos lama tentang kesenian itu sendiri. Bahwa berkarya adalah sesuatu yang sakral, eksklusif, dan hanya dimiliki segelintir manusia berbakat.

AI membongkar romantisme itu. Tiba-tiba orang biasa bisa membuat gambar yang indah, atau orang yang tak pernah membaca filsafat sastra bisa membuat puisi yang lumayan menyentuh. Sehingga, atas antara “seniman” dan “bukan seniman” menjadi kabur.

Ini memang menakutkan bagi sebagian orang. Tetapi bukankah sejarah seni selalu dipenuhi ketakutan seperti itu? Ketika kamera ditemukan, pelukis juga sempat panik. Mereka takut seni lukis mati karena manusia tak perlu lagi melukis wajah secara realistis. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Seni lukis berkembang ke mana-mana. Lahir impresionisme, ekspresionisme, abstrak, dan berbagai eksperimen baru.

Ketika internet muncul, banyak media cetak juga ketakutan. Sebagian benar-benar mati. Tetapi sebagian lagi beradaptasi. Mereka berubah bentuk. Berubah cara dan juga strategi.

Demikian pula AI. Teknologi ini memang dapat menjadi ancaman. Banyak pekerja kreatif mulai cemas. Desainer takut kehilangan pekerjaan. Penulis takut tergantikan. Ilustrator khawatir pasar mereka direbut mesin. Kecemasan itu wajar. Tetapi membenci AI sepenuhnya juga terdengar sia-sia. Sama sia-sianya seperti membenci hujan di musim penghujan. Teknologi tidak bisa dihentikan hanya dengan kemarahan.

Yang mungkin bisa dilakukan adalah memahami cara kerjanya, lalu menentukan posisi kita di tengah perubahan itu. AI memang bisa menulis puisi. Tetapi AI tidak benar-benar hidup di dunia nyata. Ia tidak pernah patah hati diam-diam di halte bus, bangun tengah malam karena memikirkan cicilan, atau mencium bau tanah basah setelah hujan di kampung halaman.

Mesin tidak punya pengalaman eksistensial. Ia hanya mengolah data, pola, dan kemungkinan bahasa. Di situlah manusia masih punya ruang yang penting. Pengalaman hidup, kekacauan batin, ingatan masa kecil, trauma, kerinduan, humor, rasa malu, dan ketakutan menjadi tua. Semua itu masih sangat manusiawi.

Karena itu, mungkin persoalannya bukan memilih manusia atau AI. Bukan pula soal siapa yang lebih hebat. Melainkan bagaimana manusia tetap menjadi manusia di tengah teknologi yang semakin canggih.

Seniman dan pekerja kreatif mungkin perlu belajar berkolaborasi dengan AI, bukan tunduk sepenuhnya padanya. AI bisa dipakai sebagai alat bantu. Sebagai teman brainstorming dan mesin pencari kemungkinan. Tetapi ruh pengalaman hidup tetap berasal dari manusia.

Kita tetap membutuhkan suara yang jujur, karya yang lahir dari pengalaman nyata. Sebab pada akhirnya, manusia bukan hanya ingin melihat karya yang indah. Manusia juga ingin merasa terhubung dengan manusia lain. Dan hubungan itu tak selalu bisa digantikan mesin.

Saya membayangkan di masa depan akan semakin banyak penyair yang menulis puisi bersama AI. Akan ada pelukis yang memakai AI untuk membuat konsep visual, atau penulis yang berdiskusi dengan mesin sebelum menulis novel. Tidak masalah.

Seni selalu berubah bentuk mengikuti zaman. Yang berbahaya justru ketika seniman berhenti belajar, berhenti membaca perubahan, lalu hanya sibuk memuja pencapaian masa lalu sambil menyebut karya-karyanya sebagai “anak-anak rohani”.

Kini, jika para seniman tak berkarya lagi dan hanya hidup dari nostalgia, mereka akan tergilas waktu. Menjadi roh yang pelan-pelan dilupakan. Maafkan saya. Tetapi dunia memang terus bergerak. Dan kesenian, suka atau tidak, harus ikut berjalan bersamanya. (*)

Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.