Podiumnews.com / Kolom / Opini

Dua Dunia Anjing di Canggu

Oleh Nyoman Sukadana • 04 Maret 2026 • 01:08:00 WITA

Dua Dunia Anjing di Canggu
Angga Wijaya (Dok/Pribadi)

SEEKOR anjing putih menatap saya dari pinggir jalan, matanya bulat, polos, dan tak berkedip, seolah bertanya, “Ada roti untukku?”. Saya menyeruput kopi Bali di warung kecil; mendengar deru motor, mencium aroma nasi jinggo, dan angin yang menyapu trotoar. Saat itulah saya sadar, anjing-anjing di Canggu, Badung, Bali, tidak sekadar berjalan; mereka hidup dengan ritmenya sendiri.

Begitulah Canggu, destinasi tropis yang diburu bule, tapi tetap mempertahankan aroma desa. Di sini, anjing bisa melintas di trotoar, mengintip dari gang sempit, bahkan duduk manis di depan toko, berbaur dengan pengendara motor, penjual keliling, dan turis dengan kamera di leher. Dua dunia berjalan berdampingan, masing-masing dengan cerita dan aturan sendiri.

Dunia pertama adalah anjing bertuan—dipelihara, sering dibawa jalan oleh pemiliknya. Kadang pemiliknya bule, kadang warga lokal. Mereka berjalan dengan tali rapi, sesekali berhenti memanggil atau mengelus kepala anjingnya. Terlihat disiplin, hampir seperti menghadiri upacara kecil setiap pagi.

Tom, seorang dog walker bule berambut pirang, berjalan dengan tiga anjing berkalung rapi. “Mereka punya aturan sendiri,” katanya sambil tersenyum, tangan sibuk mengelus kepala anjingnya. “Saya hanya ikut ritme mereka,” imbuhnya.

Di antara kerumunan turis, satu anjing tak bertuan menatap sejenak, lalu pergi. Keduanya berjalan berdampingan, tanpa menyinggung satu sama lain.

Dunia kedua adalah anjing bebas—bergerak seenaknya, seperti warga marjinal kota. Mereka mengais sisa makanan, duduk di gang menikmati angin sore, atau mengamati orang lewat.

Di Pantai Batu Bolong, arena sosial mereka terlihat jelas. Setengah tidur, setengah berjaga, mereka menunggu potongan makanan dari pengunjung. Kadang satu roti dilempar, satu anjing melompat, yang lain mundur menunggu giliran. Ini bukan kebetulan; ini sistem hidup yang tersusun rapi dalam kekacauan.

Pak Made, seorang pria lokal, datang setiap pagi membawa karung besar berisi makanan. Puluhan anjing, baik bebas maupun bertuan, menunggu, datang satu per satu, mengikuti ritme sosial yang tak pernah rusak. Anjing cokelat melintas dari gang sempit, anjing hitam menyeberang dari jalan utama. Semua tahu jadwal, semua tahu tempatnya.

Aroma kopi panas bercampur udara laut, suara anak-anak berlarian di pasir pantai, teriakan penjual jus kelapa dan nasi bungkus, semua berpadu. Anjing bebas menyesuaikan diri, duduk di pinggir, melintas cepat saat motor dan sepeda lewat. Kadang bersandar di kaki pengunjung, memohon sepotong roti, lalu pergi begitu saja.

Fenomena ini memicu reaksi komunitas ekspat dan pecinta hewan. Beberapa anjing pernah diracuni di pantai. Warga lokal dan asing marah. Tapi sebagian besar dog walker tetap menjaga keseimbangan, yakni berjalan tenang, memungut kotoran, memanggil anjing duduk. Kehidupan terstruktur dan kehidupan bebas berjalan berdampingan.

Rabies masih ada di Bali. Meski ramah di siang hari, anjing bisa protektif di malam hari. Pemerintah Kabupaten Badung menyiapkan vaksinasi massal setelah beberapa anjing positif ditemukan di Canggu. Interaksi manusia dan anjing bukan hanya soal estetika atau budaya, tapi juga soal keamanan dan kesehatan.

Maria, wisatawan dari Eropa, berkata, “Awalnya saya takut, tapi anjing-anjing di sini punya cara tersendiri untuk mendekat atau menjauh. Mereka tahu batas.”

Seekor anjing cokelat melompat manis mengambil sepotong roti dari tangannya. Momen sederhana itu, katanya, lebih berkesan daripada melihat pura atau pantai.

Banyak wisatawan membawa pulang cerita, bukan sekadar foto, tapi pengalaman emosional. Seorang penulis blog bercerita tentang anjing yang tadinya bingung duduk di jalan, kemudian diadopsi penduduk lokal.

Seekor anjing hitam sering muncul di warung kopi, tiba-tiba masuk ketika pemilik sibuk menyiapkan minuman. Duduk manis, menatap sekeliling, menunggu sisa roti. Pengunjung tertawa, pemilik warung tersenyum.

Anjing-anjing ini adalah warga kota “tak resmi” . Mereka memahami aturan tanpa kata-kata. Menyesuaikan diri dengan ritme manusia dan alam. Tahu kapan harus melompat, kapan menunggu, kapan minggir dari motor.

Di gang sempit, seorang anak kecil membawa sepotong ayam goreng untuk anjing jalanan. Anjing itu menatapnya, melompat sebentar, lalu duduk manis menunggu anak itu pergi. Orang-orang tersenyum, beberapa mengeluarkan kamera, tapi anjing tidak pedui. Ritme sosialnya tak terganggu.

Bagi saya, Canggu bukan sekadar destinasi wisata atau surga Instagram. Ini laboratorium kehidupan. Anjing-anjing mengajarkan tentang kebebasan, empati, keteraturan dalam kekacauan. Dua dunia,baik terstruktur dan bebas, berjalan berdampingan, saling menghormati, saling menyesuaikan.

Di senja hari, matahari turun perlahan. Anjing duduk di tepi jalan, menonton motor dan sepeda berlalu. Kadang menyalak pelan, kadang diam menatap jauh. Mereka mengingatkan saya bahwa kota ini, dengan segala hiruk-pikuknya, bisa menjadi ruang bagi yang bebas, sederhana, dan belajar hidup berdampingan.

Dua dunia, satu jalan, satu kota, satu pelajaran; bahwa hidup itu tentang keseimbangan, kebebasan, dan empati. (*)

Oleh: Angga Wijaya