Podiumnews.com / Khas / Sosok

Mimpi Besar Anak Tukang Parkir

Oleh Nyoman Sukadana • 14 Juni 2026 • 12:39:00 WITA

Mimpi Besar Anak Tukang Parkir
Muhammad Novareza bersama sang nenek, Amin Juminem, di depan rumah sederhananya di Sendowo, Sleman, Yogyakarta. (Foto: UGM)

SEBUAH kawasan di sudut Sendowo, Mlati, Sleman berdenyut pelan. Di sana, di atas sepetak tanah kas desa seluas 80 meter persegi, sebuah rumah sederhana berdiri. Dindingnya menjadi saksi bisu dari sebuah perjuangan sunyi yang tidak pernah masuk dalam catatan statistik kemiskinan, namun terekam rapi dalam catatan langit.

Di dalam rumah itulah Muhammad Novareza Sayyid Pratama tumbuh. Remaja berusia 19 tahun yang akrab disapa Reza ini tidak memiliki kemewahan untuk memilih jalan hidupnya sejak kecil.

Pasca-perceraian kedua orang tuanya, dunia Reza menyusut sekaligus meluas di bawah asuhan kakek dan neneknya. Dia kehilangan figur orang tua kandung, tetapi dia mendapatkan jangkar hidup yang jauh lebih kuat dari apa pun: kasih sayang tanpa syarat dari sepasang lansia.

Sang kakek, Surono, kini telah menginjak usia 69 tahun. Kulitnya legam terbakar matahari khas pekerja jalanan. Saban hari, badannya membungkuk menghalau panas dan debu kendaraan, bekerja sebagai tukang parkir. Peluit di mulutnya adalah penyambung nyawa keluarga.

Sementara sang nenek, Amin Juminem, yang berusia sama, menghabiskan sisa tenaganya sebagai Asisten Rumah Tangga (ART). Dari keringat yang diperas di rumah orang lain, Nenek Amin membawa pulang upah sekitar Rp600 ribu per bulan. Sebuah nominal yang bagi sebagian orang mungkin hanya habis untuk sekali makan malam di restoran tengah kota Yogyakarta, namun bagi keluarga ini, angka itulah yang membiayai napas, isi piring, dan seluruh mimpi-mimpi Reza.

Bagi anak seorang tukang parkir dan cucu seorang ART, melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi sering kali dianggap sebagai sebuah kemewahan yang tidak masuk akal.

Di tengah impitan ekonomi yang kian mencekik, logika pragmatis biasanya akan memaksa seorang remaja untuk segera bekerja selepas SMA. Menjadi buruh toko, membantu parkir, atau apa saja, demi menambah kepulan asap di dapur.

Namun, keterbatasan finansial itu tidak pernah berhasil memenjarakan isi kepala Reza. Dia menolak menyerah pada takdir yang digariskan oleh kemiskinan.

Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) hingga SMA, Reza selalu menjadi bintang di kelasnya. Otaknya encer, fokusnya tajam. Membaca buku fiksi adalah pelariannya dari realitas hidup yang keras, sekaligus caranya memperluas imajinasi tentang dunia di luar Sendowo.

“Sejak SMP saya langganan masuk peringkat 1,” tutur Reza saat ditemui pada Jumat (12/6/2026), mengenang bagaimana dia mempertahankan prestasinya demi satu tujuan: beasiswa.

Di balik ketekunan Reza, ada sosok Nenek Amin yang merawat mimpi itu dengan cara-cara yang mengharukan. Nenek Amin adalah perempuan tua lulusan Sekolah Dasar. Dia tidak paham teori sosiologi, tidak mengerti rumus kalkulus, dan tidak bisa membantu Reza menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya yang rumit.

Namun, dia memiliki pasokan cinta yang tidak pernah kering. Setiap kali Reza pulang larut malam karena segudang kegiatan di sekolah, Nenek Amin menolak memejamkan mata. Dia setia duduk di sebelah cucunya yang sedang belajar di bawah temaram lampu rumah. Dia menemani Reza melawan kantuk, memberikan kehangatan psikologis yang menegaskan bahwa Reza tidak berjuang sendirian.

Dukungan Nenek Amin bukan sekadar urusan menemani belajar. Urusan logistik sekolah adalah medan pertempuran yang sesungguhnya. Ketika uang saku tidak ada dan biaya operasional sekolah mendesak, Nenek Amin tidak jarang memutar otak hingga batas terjauh. Dia mengandalkan pinjaman dari uang arisan kampung.

“Yang penting kebutuhan sekolah Reza bisa terpenuhi dulu, nanti uang pinjaman bisa dicicil,” kenang Nenek Amin. Baginya, utang bisa dicicil dengan peluh sebagai ART, tetapi masa depan cucunya tidak boleh digadaikan atau ditunda semalam pun.

Keterbatasan finansial itu juga mewujud dalam bentuk dua kotak bekal makanan yang dibawa Reza setiap hari. Karena tidak ada uang saku untuk jajan di kantin sekolah seperti teman-teman sebayanya, Reza selalu membawa bekal dari rumah. Sering kali, bekal itu harus dirapel.

“Kadang kalau ada kegiatan sekolah dan pulang malam, saya bawa bekal dua untuk dimakan siang dan sore,” timpal Reza.

Dan hukum alam yang adil akhirnya bekerja: usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Puncak dari seluruh malam-malam panjang penuh peluh dan doa itu meledak manis ketika pengumuman Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dirilis. Nama Muhammad Novareza Sayyid Pratama dinyatakan lolos sebagai mahasiswa baru di Program Studi S1 Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada (UGM).

Lolos ke UGM melalui jalur prestasi tanpa tes sudah merupakan prestasi yang luar biasa. Namun kejutan dari langit belum selesai. Berkat latar belakang dan prestasinya, Reza menerima beasiswa UKT Pendidikan Unggul bersubsidi 100 persen.

Dia kuliah gratis total di universitas paling favorit di Yogyakarta tersebut. Skenario kehidupan membawa anak seorang tukang parkir menembus gerbang Bulaksumur dengan kepala tegak, tanpa beban biaya sepeser pun yang harus dipikirkan oleh kakek dan neneknya yang sudah senja.

Ada ironi yang teramat manis sekaligus mendalam dari jurusan yang diterima Reza. Dia lolos di prodi Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan. Di ruang-ruang kuliah Fisipol UGM nanti, para dosen dan mahasiswa akan berdiskusi panjang lebar mengenai teori kemiskinan, ketimpangan sosial, kebijakan kesejahteraan, dan bagaimana negara hadir untuk masyarakat miskin.

Reza tidak perlu menghafal semua itu dari buku teks semata. Dia, kakek tukang parkirnya, nenek ART-nya, dan rumah 80 meter persegi di atas tanah kas desa itu adalah manifestasi hidup dari seluruh teori sosial tersebut. Dia adalah produk nyata dari perjuangan melawan ketimpangan, yang berhasil mendobrak struktur kelas sosial melalui jalur pendidikan.

“Nenek sosok pengganti ibu saya karena sedari kecil saya dibesarkan oleh nenek, meskipun di tengah keterbatasan nenek selalu mengusahakan kebutuhan saya,” tutur Reza dengan mata yang berkaca-kaca. Keberhasilannya menembus UGM didedikasikannya sepenuhnya untuk kedua orang tua pengganti yang telah mengorbankan masa tua mereka demi masa depannya.

Kini, mimpi besar anak tukang parkir itu telah menapak pada fondasi yang nyata. Perjalanan Reza masih panjang, namun satu langkah besar telah diselesaikannya dengan gemilang. Kotak bekalnya mungkin tidak perlu lagi berjumlah dua dan mendingin di sudut kelas, karena kini takdirnya telah berganti rupa.

Kepada rekan-rekan sebayanya di seluruh penjuru negeri yang saat ini mungkin sedang meratap di dalam kamar karena keterbatasan ekonomi, Reza menitipkan sepotong pesan yang sarat optimisme. Sebuah pesan dari garis depan pertempuran hidup:

“Buat teman-teman tetap semangat ya, karena rezeki tidak ada yang tahu. Mungkin di tengah keterbatasan finansial berusahalah mencari beasiswa di luar itu ada banyak,” pungkasnya.

(sukadana)

Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.