Podiumnews.com / Khas / Sosok

Tiga Toga Satu Cerita

Oleh Nyoman Sukadana • 20 Juni 2026 • 14:19:00 WITA

Tiga Toga Satu Cerita
Keluarga artis 3A, Ashanty, Anang Hermansyah, dan Azriel Hermansyah kompak menjalani wisuda bersama pada Periode 262 Universitas Airlangga, Surabaya. (Dok: Unair)

TIGA toga hitam dikenakan oleh satu keluarga di panggung wisuda Universitas Airlangga (UNAIR), Sabtu (20/6/2026). Bukan kebetulan. Di balik momen itu, ada perjalanan panjang tentang ketekunan, dukungan, dan keyakinan bahwa belajar tidak mengenal usia maupun status sosial.

Mereka adalah keluarga artis 3A: Ashanty, Anang Hermansyah, dan Azriel Hermansyah. Ketiganya kompak diwisuda pada Periode 262 yang berlangsung di Airlangga Convention Center (ACC) Kampus MERR-C UNAIR.

Bagi keluarga ini, wisuda bersama bukan sekadar seremoni mengenakan toga dan menerima ijazah. Momen tersebut menjadi penanda bahwa pendidikan dapat menjadi perjalanan yang ditempuh bersama dalam sebuah keluarga.

Ashanty resmi menyandang gelar doktor Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,94. Sementara Anang Hermansyah meraih gelar Magister Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) dengan IPK 3,96 dan Azriel Hermansyah lulus dari Program Magister Ilmu Politik dengan IPK 3,57.

Kebahagiaan tampak jelas dari raut wajah mereka. Namun, di balik senyum itu tersimpan perjuangan panjang yang tidak terlihat di atas panggung.

Bagi Ashanty, momen wisuda bersama suami dan anak merupakan pengalaman yang tidak akan pernah terulang.

“Bangga sekali bisa wisuda bersama. Ini momen bersejarah dan pengalaman pribadi yang tidak bisa terulang lagi. Apalagi Mas Anang sampai mengundur wisuda selama tiga bulan agar bisa wisuda bersama anak dan istri,” ujarnya.

Keputusan Anang menunda wisuda selama tiga bulan menjadi cerita tersendiri dalam perjalanan akademik keluarga tersebut.

Di tengah kehidupan yang serba cepat dan kompetitif, Anang justru memilih menunggu. Ia tidak ingin menjadi orang pertama yang menerima ijazah di keluarganya. Ia ingin berdiri sejajar dengan istri dan anaknya dalam satu momen yang sama.

Pilihan sederhana itu membuat tiga toga yang dikenakan keluarga ini memiliki makna yang lebih dalam.

Perjalanan Ashanty menuju gelar doktor juga bukan perkara mudah. Di usia 43 tahun, ia harus menjalani peran sebagai ibu, istri, pengusaha, sekaligus figur publik dengan aktivitas yang padat.

Ada proses riset yang panjang, sidang akademik yang menguras energi, serta berbagai tanggung jawab keluarga yang harus dijalani secara bersamaan.

“Berdiri di podium rasanya seperti mimpi yang terwujud melalui kerja keras yang panjang. Di usia 43 tahun, banyak rintangan dan perjuangan akademik yang tidak mudah. Berkali-kali ada momen ketika saya ingin menyerah,” tuturnya saat menyampaikan pidato perwakilan wisudawan.

Namun, perjalanan akademik itu justru mengajarkannya tentang ketahanan diri dan kerendahan hati.

Baginya, gelar doktor bukan hanya tentang pencapaian pribadi, tetapi juga hasil dari dukungan orang-orang terdekat.

“Pencapaian ini adalah hasil dari perjuangan dan usaha yang tidak pernah berhenti. Saya bisa berdiri di sini karena dukungan suami, anak-anak, dan keluarga,” katanya.

Sementara itu, Anang memandang pendidikan sebagai proses yang tidak mengenal garis akhir. Kelulusan dari program magister tidak membuatnya berhenti belajar.

Sebaliknya, lingkungan akademik yang dirasakan selama berkuliah di UNAIR justru mendorongnya untuk melanjutkan studi ke jenjang doktoral.

“Lingkungan UNAIR mendukung saya dalam menuntut ilmu dan mencapai keinginan. Oleh sebab itu, saya bertekad melanjutkan studi S3 di kampus ini karena saya percaya bahwa mengejar pendidikan tidak ada batasnya,” ujarnya.

Bagi Anang, pendidikan tidak semata-mata bertujuan memperoleh gelar.

“Yang penting bukan gelarnya, tapi bagaimana kita bisa terus berkontribusi dan memberikan manfaat bagi orang lain. Pendidikan adalah proses untuk terus belajar dan bertumbuh,” katanya.

Sementara itu, Azriel menjadi representasi generasi muda yang tumbuh dalam keluarga yang menjadikan pendidikan sebagai nilai penting. Ia tidak hanya menyaksikan orang tuanya belajar, tetapi juga berjalan bersama mereka di panggung akademik.

Ketiganya kemudian menutup momen wisuda dengan mempersembahkan penampilan spesial di hadapan para wisudawan dan tamu undangan.

Tepuk tangan pun bergemuruh.

Barangkali, bukan semata karena mereka adalah keluarga artis.

Melainkan karena di tengah dunia yang sering mengukur kesuksesan dari popularitas dan pencapaian materi, keluarga 3A menunjukkan bahwa belajar tidak pernah terlambat dan pendidikan dapat menjadi ruang untuk tumbuh bersama.

Tiga toga. Tiga gelar. Satu keluarga. Satu cerita.

(sukadana)


Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.