Podiumnews.com / Khas / Sosok

Empat Rumah, Empat Ujian di Pasekan

Oleh Nyoman Sukadana • 19 Juli 2026 • 22:58:00 WITA

Empat Rumah, Empat Ujian di Pasekan
Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa bersama Ketua K3S Badung Nyonya Rasniathi Adi Arnawa mengunjungi warga rentan di Banjar Pasekan. (foto/sukadana)

PINTU rumah Ni Ketut Sasih menjadi awal kunjungan Minggu itu. Tubuhnya belum sepenuhnya pulih setelah terserang stroke. Geraknya terbatas. Untuk berpindah tempat, ia membutuhkan bantuan orang lain.

Sebuah kursi roda kemudian diserahkan kepadanya. Benda itu diharapkan membantu mobilitas Sasih selama menjalani masa pemulihan.

Dari rumah Sasih, rombongan bergerak ke kediaman Ni Nyoman Sentong. Ujian yang dihadapi Sentong berbeda. Ia mengalami patah tulang yang membuat aktivitas sehari-harinya terganggu.

Sentong menerima kursi roda dan alat bantu jalan atau walker. Kedua alat tersebut diharapkan membuatnya lebih mudah bergerak tanpa selalu bergantung kepada anggota keluarga.

Perjalanan berlanjut menuju rumah Ni Luh Made Oka Nariadi.

Kondisi di rumah ini lebih rumit. Oka Nariadi mengalami kelumpuhan akibat kecelakaan. Dalam keterbatasan fisiknya, ia juga merawat dua anak penyandang disabilitas.

Kelumpuhan membuat ruang geraknya menyempit. Namun, tanggung jawabnya sebagai seorang ibu tetap harus dijalani. Dua anaknya juga membutuhkan perhatian, pendampingan, dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

Keterangan mengenai bagaimana keluarga tersebut membagi tugas pengasuhan belum banyak terungkap. Namun, kondisi yang terlihat sudah menunjukkan bahwa persoalan keluarga Oka Nariadi tidak dapat diselesaikan hanya dengan bantuan sesaat.

Mereka membutuhkan pendampingan yang berkelanjutan, mulai dari bantuan kebutuhan dasar, pelayanan kesehatan, hingga kepastian memperoleh program perlindungan sosial.

Rumah terakhir yang dikunjungi adalah kediaman Putu Gede Bayu Wira Putra.

Usianya baru sembilan tahun. Pada umur ketika anak-anak lain menghabiskan waktu untuk belajar dan bermain, Bayu harus menjalani pengobatan akibat leukemia.

Empat rumah itu berada di Banjar Pasekan, Desa Abianbase, Kecamatan Mengwi. Jaraknya mungkin tidak terlalu jauh satu sama lain. Namun, setiap rumah menyimpan ujian yang berbeda.

Ada tubuh yang sedang berusaha pulih setelah stroke. Ada tulang yang belum kembali kuat. Ada seorang ibu lumpuh yang merawat dua anak penyandang disabilitas. Ada pula anak sembilan tahun yang harus menjalani pengobatan penyakit berat.

Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa bersama Ketua Koordinator Kegiatan Kesejahteraan Sosial Kabupaten Badung Nyonya Rasniathi Adi Arnawa mendatangi keempat rumah tersebut, Minggu (19/7/2026).

Mereka membawa kursi roda, walker, dan paket sembako. Namun, kunjungan tersebut juga digunakan untuk memeriksa serta memverifikasi data warga yang membutuhkan bantuan.

Adi Arnawa mengatakan pendataan menjadi bagian penting dalam program perlindungan sosial. Pemerintah harus memastikan warga yang memenuhi kriteria tidak terlewat hanya karena belum masuk dalam daftar penerima.

“Saya bersama Ibu Ketua Tim Penggerak PKK sekaligus Ketua K3S Kabupaten Badung mengunjungi beberapa warga yang mengalami disabilitas, baik disabilitas fisik maupun disabilitas mental,” ujarnya.

Menurut Adi Arnawa, Pemkab Badung telah memiliki program bantuan bagi warga dalam kondisi bedridden. Mereka adalah warga yang tidak mampu lagi beraktivitas secara mandiri akibat stroke maupun kondisi kesehatan lainnya.

“Melalui program ini, kami memberikan bantuan tunai sebesar Rp1 juta setiap bulan,” ungkapnya.

Program tersebut menjadi salah satu bentuk perlindungan bagi keluarga yang harus menanggung kebutuhan perawatan dalam waktu panjang. Namun, program hanya dapat diterima apabila kondisi warga diketahui dan tercatat dengan benar.

Karena itu, Adi Arnawa meminta Dinas Sosial, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, dan kader sosial aktif turun ke lapangan.

“Jangan sampai ada masyarakat yang berhak menerima bantuan justru terlewat. Saya minta seluruh jajaran terus melakukan pendataan, pendampingan, dan memastikan program-program pemerintah benar-benar sampai kepada masyarakat yang membutuhkan,” tegasnya.

Pendataan menjadi penting karena persoalan warga rentan sering kali tidak terlihat dari luar rumah. Sebagian keluarga mungkin tidak mengetahui program yang tersedia. Sebagian lainnya tidak memahami prosedur pengajuan bantuan.

Kader sosial dan perangkat desa menjadi pihak yang paling dekat untuk menemukan kondisi tersebut. Mereka mengetahui warga yang sakit, hidup dengan disabilitas, atau membutuhkan bantuan untuk menjalani aktivitas sehari-hari.

Ketua K3S Badung Nyonya Rasniathi Adi Arnawa mengatakan bantuan yang diberikan tidak hanya dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan fisik.

“Kami ingin memastikan bahwa masyarakat yang sedang menghadapi ujian hidup tidak merasa sendiri,” katanya.

Kursi roda dan alat bantu jalan memang dapat memudahkan aktivitas. Paket sembako juga dapat meringankan kebutuhan rumah tangga. Namun, perhatian dan pendampingan tetap dibutuhkan agar keluarga memiliki semangat untuk menjalani keadaan yang tidak mudah.

“Yang tidak kalah penting adalah menghadirkan semangat, perhatian, dan kasih sayang agar mereka tetap optimistis menjalani kehidupan,” tambah Rasniathi.

Empat rumah di Pasekan memberi gambaran bahwa perlindungan sosial tidak dapat dijalankan dengan satu jenis bantuan untuk semua orang.

Ni Ketut Sasih membutuhkan dukungan selama pemulihan pascastroke. Ni Nyoman Sentong memerlukan alat bantu untuk bergerak setelah mengalami patah tulang. Keluarga Oka Nariadi menghadapi persoalan kelumpuhan sekaligus pengasuhan dua anak penyandang disabilitas. Bayu membutuhkan pengobatan dan dukungan keluarga dalam menghadapi leukemia.

Kebutuhan mereka berbeda. Pendekatan yang diberikan juga semestinya tidak sama.

Kunjungan ke rumah warga dapat menjadi langkah awal untuk memahami kebutuhan itu. Tantangan berikutnya adalah memastikan bantuan terus berjalan setelah rombongan meninggalkan Banjar Pasekan.

Sebab, ujian di dalam empat rumah tersebut tidak selesai dalam satu hari. Kehidupan tetap berlangsung setelah kursi roda diserahkan, paket sembako dibuka, dan pendataan selesai dilakukan.

(sukadana)


Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.