Tragedi Gotham dan Retaknya Dadu Sengkuni
"Dulu aku mengira hidupku adalah sebuah tragedi, tapi kini kusadari ini adalah sebuah komedi.” — Arthur Fleck
LAMPU neon berwarna pudar berkedip ritmis di sebuah gang sempit di sudut kota. Di bawahnya, seorang pria kurus dengan setelan jas murah yang mulai koyak sedang mematut diri di depan pecahan kaca. Tangannya yang gemetar menggoreskan gincu merah ke sudut bibirnya, memperpanjang senyuman melintasi pipi yang tirus. Namanya Arthur Fleck.
Dunia mengenalnya sebagai badut sewaan, namun sejarah budaya populer akan mengingatnya sebagai Joker. Di tempat lain yang terpisah oleh ratusan tahun narasi dan ribuan kilometer imajinasi, seorang pria lain duduk di sudut balairung istana yang megah namun pengap. Ia tidak memakai gincu, melainkan senyuman manis yang beracun, sambil jemarinya yang kurus memainkan sepasang dadu yang terbuat dari tulang sumsum ayahnya. Pria itu bernama Sengkuni.
Dan tidak jauh dari panggung politik penuh intrik itu, di pinggir medan laga yang berdebu, seorang ksatria dengan anting-anting emas yang berkilau menatap langit dengan tatapan paling sunyi yang pernah dimiliki seorang manusia. Dialah Adipati Karna.
Ketiga figur ini, meski terpisah oleh sekat zaman, medium cerita, dan latar budaya, sesungguhnya sedang berdiri di atas satu panggung teater yang sama. Mereka adalah anak-anak kandung dari sebuah tragedi kemanusiaan yang akut: runtuhnya kohesi sosial.
Dalam lanskap masyarakat modern yang kian terasing hari ini, kita menyaksikan sebuah metamorfosis psikologis yang mengerikan sekaligus memikat. Di era digital yang bising namun sepi, penderitaan tidak lagi diratapi di ruang-ruang privat yang khusyuk.
Rasa sakit, depresi, kegagalan kelas pekerja, hingga kecemasan eksistensial massal telah bergeser formatnya. Ia mengalami digitalisasi dan sublimasi menjadi sesuatu yang kita konsumsi setiap hari saat menyapu layar gawai: dark jokes (humor gelap), meme nihilistik, dan komedi berbasis penderitaan pribadi (self-deprecating humor).
Ketika Arthur Fleck melangkah gontai di koridor rumah sakit jiwa dan bergumam, "Dulu aku mengira hidupku adalah sebuah tragedi, tapi kini kusadari ini adalah sebuah komedi," ia sedang membacakan manifesto zaman kita. Zaman di mana kita memilih menertawakan kehancuran untuk menunda kegilaan.
Namun, apakah tawa ini adalah tanda ketangguhan jiwa, atau justru sebuah alarm bahwa kemanusiaan kita sedang membusuk dari dalam? Untuk membedah anatomi nihilisme modern ini, kita harus melepaskan kacamata penghakiman moral yang kaku dan mulai menggunakan pisau analisis psikoanalisis serta filsafat eksistensial. Kita perlu melihat bagaimana Joker, Karna, dan Sengkuni bukan sekadar karakter fiksi atau tokoh pewayangan masa lalu, melainkan cermin retak yang menelanjangi kegilaan masyarakat urban abad ke-21.
Pabrik Pencetak Monster
Setiap peradaban dibangun di atas sebuah janji suci yang disebut kontrak sosial. Filsuf seperti Jean-Jacques Rousseau percaya bahwa manusia pada dasarnya baik, namun institusi masyarakat yang korup dan timpanglah yang menjadikannya jahat.
Sebaliknya, Thomas Hobbes memperingatkan bahwa tanpa aturan hukum dan ikatan sosial yang kuat, manusia akan kembali ke kondisi alamiahnya (state of nature) yang kejam, pendek, dan liar.
Kohesi sosial adalah semen yang merekatkan bata-bata kontrak sosial tersebut. Ia adalah rasa saling percaya, empati kolektif, dan jaringan pengaman sosial yang memastikan bahwa orang-orang yang paling lemah di dalam sebuah kelompok tidak akan dibiarkan jatuh berantakan sendirian.
Namun, apa yang terjadi ketika semen itu luntur dan mengering? Kota Gotham dalam narasi Todd Phillips (2019) adalah sebuah laboratorium sosiologis yang sempurna untuk menggambarkan kegagalan kontrak sosial ini.
Gotham adalah kota metropolitan yang menderita kelelahan kronis. Di atas, kaum elite seperti Thomas Wayne hidup di menara gading kapitalisme, memandang masyarakat kelas bawah sebagai sekelompok "badut" yang malas. Di bawah, layanan kesehatan mental ditutup karena pemotongan anggaran pemerintah, sampah menumpuk di jalanan, dan jalanan dikuasai oleh apatisme massal.
Ketika Arthur Fleck dipukuli oleh sekelompok remaja di gang sepi tanpa alasan, atau ketika ia dipecat karena dikhianati oleh rekan kerjanya, Gotham tidak hanya gagal melindunginya secara hukum—Gotham telah membunuh empati di dalam dirinya. Benturan antara harapan Arthur yang naif untuk menjadi seorang komedian yang membawa tawa, dengan realitas Gotham yang dingin dan kejam, menciptakan apa yang disebut oleh Albert Camus sebagai keabsurdan (the absurd).
Dalam esai monumentalnya, The Myth of Sisyphus, Camus menjelaskan bahwa keabsurdan lahir dari ketidakselarasan antara pencarian makna hidup oleh manusia dengan dunia yang nyatanya tidak peduli. Manusia modern hari ini terjebak dalam keabsurdan yang persis sama.
Kita hidup di dalam apa yang disebut oleh filsuf kontemporer Byung-Chul Han sebagai the burnout society (masyarakat lelah). Kita dituntut oleh sistem kapitalisme digital untuk terus berprestasi, menjadi produktif tanpa batas, dan menampilkan citra diri yang sukses dan bahagia di media sosial.
Namun di balik layar gawai, realitas yang dihadapi adalah kecemasan finansial, kesepian sistemik, dan hilangnya ruang aman komunitas. Kita dipaksa memakai persona (topeng sosial) yang selalu tersenyum, sementara di dalam dada, shadow (sisi gelap alam bawah sadar) kita kian menggelembung penuh luka.
Intrik Politik Sengkuni
Jika Joker adalah anarki yang meledak dari kelas bawah secara spontan (bottom-up), maka kosmologi pewayangan Nusantara menawarkan bentuk nihilisme yang jauh lebih dingin, terstruktur, dan manipulatif melalui sosok Sengkuni.
Sengkuni sering kali disederhanakan dalam panggung ketoprak atau wayang kulit sebagai simbol kelicikan murni. Namun, jika kita melacak silsilah traumanya melalui pendekatan psikoanalisis Sigmund Freud, kita akan menemukan bahwa Sengkuni adalah produk dari sebuah "hari buruk" yang berkepanjangan.
Dalam salah satu versi fragmen epik yang kelam, Sengkuni menyaksikan seluruh keluarganya dari Kerajaan Gandhara dijebloskan ke dalam penjara bawah tanah yang sempit oleh penguasa Hastinapura, Destarata.
Di dalam sel yang gelap itu, mereka hanya diberi satu porsi makanan setiap harinya untuk puluhan orang. Sadar bahwa mereka semua akan mati, sang ayah memutuskan agar seluruh porsi makanan itu diberikan kepada Sengkuni kecil, agar ia tetap hidup dan membawa satu-satunya misi: membalas dendam.
Sebelum mengembuskan napas terakhir, sang ayah memukul kaki Sengkuni hingga pincang, sebuah tanda fisik agar rasa sakit itu tidak pernah menguap dari ingatannya.
Mari kita gunakan kacamata Freud untuk membedah psikis Sengkuni. Sepanjang hidupnya di Istana Hastinapura, Sengkuni harus melakukan represi (repression) yang luar biasa terhadap memori kematian keluarganya.
Ia harus mengadopsi mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) berupa pembentukan reaksi (reaction formation)—ihwal bertindak sebagai penasihat agung yang setia, bermanis budi kepada para penguasa, dan selalu tertawa renyah di setiap perjamuan.
Namun, tawanya adalah tawa teatrikal yang menipu, sama seperti kondisi medis pseudobulbar affect (PBA) milik Arthur Fleck yang membuatnya tertawa histeris saat mengalami tekanan emosional berat.
Sengkuni mengubah tragedi genosida keluarganya menjadi sebuah "komedi politik" yang panjang. Bagi Sengkuni, seluruh tatanan moral, sumpah para ksatria, dan konsep keadilan di Hastinapura adalah sebuah lelucon besar yang munafik.
Bagaimana mungkin sebuah kerajaan bisa berbicara tentang kebajikan (dharma) jika fondasinya dibangun di atas darah keluarga Gandhara yang mati kelaparan? Karena sistem tersebut sudah gila sejak awal, Sengkuni merasa berhak untuk mempermainkannya.
Ia tidak menggunakan senjata, melainkan dadu. Permainan dadu Sengkuni yang legendaris—yang berhasil merampas kerajaan Pandawa dan mempermalukan Drupadi—adalah bentuk ejekan filosofis Sengkuni terhadap takdir dan tatanan sosial. Ia adalah seorang nihilistik sejati yang menggunakan intrik dari dalam sistem (top-down) untuk memastikan bahwa Dinasti Kuru akan hancur lebur dalam perang Baratayuda.
Kesadaran Terjepit Kasta
Di antara radikalitas Joker dan dinginnya Sengkuni, Adipati Karna berdiri sebagai monumen dari penderitaan yang paling sunyi. Jika kita mempertanyakan: apakah pilihan mereka menjadi jahat adalah sebuah keputusan yang lahir dari kesadaran penuh?—Karna adalah jawaban terbaik untuk mengurai benang kusut tersebut.
Karna lahir dari rahim Kunti, namun dibuang ke sungai sejak bayi demi menjaga nama baik sang ibu. Ia dibesarkan oleh seorang kusir kereta bernama Adirata, menempatkannya pada kasta paling rendah dalam stratifikasi sosial saat itu.
Karna memiliki bakat memanah yang luar biasa, namun setiap kali ia mencoba melangkah masuk ke dalam ruang publik untuk menunjukkan kemampuannya, sistem sosial selalu membanting pintunya rapat-rapat. Ia ditolak belajar oleh Resi Drona, dihina oleh Pandawa sebagai "anak kusir", dan diusir dari sayembara Dropadi hanya karena status sosialnya.
Secara filosofis, apakah Karna sadar ketika ia memilih untuk bersekutu dengan Duryodana dan kaum Kurawa yang jahat? Ya, ia sangat sadar. Namun, kesadarannya adalah kesadaran yang dijepit oleh determinisme sosial. Ketika seluruh dunia yang mengaku "suci dan bermoral" (kaum ksatria dan Pandawa) memperlakukannya seperti sampah, hanya Duryodana—seorang pangeran yang dicap jahat oleh sejarah—yang maju, memeluknya, memanusiakannya, dan memberinya gelar Raja di Angga.
Karna terjebak dalam dilema etika yang membingungkan. Di satu sisi, ada dharma (kewajiban moral universal) yang menuntutnya membela kebenaran. Di satu sisi lain, ada utang budi dan kesetiaan pribadi kepada satu-satunya manusia yang memberinya martabat.
Ketika Karna memilih bertarung di pihak Kurawa, ia mengambil keputusan sadar yang lahir dari keputusasaan eksistensial. Ia tahu Kurawa berada di pihak yang salah, ia tahu ia kemungkinan besar akan gugur, namun ia memilih setingkat dengan kegelapan demi mempertahankan kehormatan dirinya yang telah diinjak-injak oleh tatanan sosial yang munafik.
Karna adalah potret dari banyak manusia modern hari ini: orang-orang idealis yang akhirnya terpaksa berkompromi dengan korupsi, kriminalitas, atau sistem yang bobrok, bukan karena mereka mencintai kejahatan, melainkan karena sistem yang "bersih" tidak pernah memberi mereka tempat untuk sekadar menyambung hidup.
Candu Nihilisme Digital
Kini, mari kita tarik benang merah dari ketiga tokoh tragis ini ke dalam realitas layar gawai kita hari ini. Mengapa generasi modern begitu gandrung dengan humor gelap dan meme nihilistik? Mengapa kita merasa begitu terkoneksi dengan transformasi Arthur Fleck menjadi Joker?
Jawabannya terletak pada teori sosiolog Jean Baudrillard mengenai simulacra dan hyperreality. Baudrillard berargumen bahwa di era postmodern, kita tidak lagi berinteraksi dengan realitas asli, melainkan dengan tanda, simbol, dan citra yang direkayasa media.
Meme di internet adalah contoh sempurna dari simulacra. Ketika krisis ekonomi melanda, ketika ancaman perang dunia mengemuka, atau ketika seseorang mengalami depresi klinis yang mendalam, hal pertama yang mereka lakukan bukanlah mengorganisasi gerakan sosial atau pergi ke ruang terapi publik. Mereka mengubah rasa sakit itu menjadi format visual yang lucu: sebuah meme.
Meme nihilistik berfungsi sebagai perisai psikologis kolektif. Dengan mengubah tragedi personal menjadi sebuah komedi digital yang bisa dibagikan, kita sedang melakukan distorsi terhadap bobot rasa sakit tersebut. Ketika kita melihat ribuan orang memberikan tanda "suka" (like) dan tertawa pada sebuah lelucon tentang keinginan untuk menyerah pada hidup, kita merasa tidak sendirian. Rasa sakit itu mengalami sublimasi—ia dilepaskan dari sifatnya yang menakutkan dan diubah menjadi komoditas visual yang menghibur.
Namun, di sinilah letak bahaya eksistensial terbesar yang pernah diingatkan oleh Friedrich Nietzsche. Nietzsche membagi nihilisme menjadi dua bentuk: nihilisme aktif dan nihilisme pasif.
Nihilisme aktif adalah sebuah kekuatan destruktif yang sehat; ketika seseorang menyadari bahwa nilai-nilai lama dan moralitas masyarakat sudah korup dan tidak lagi memiliki makna, ia menghancurkan nilai-nilai tersebut dengan tujuan untuk menciptakan kembali (re-evaluate) nilai-nilai baru yang lebih luhur dan memanusiakan.
Sebaliknya, nihilisme pasif adalah sebuah penyakit jiwa zaman. Ia adalah kondisi di mana manusia menyadari bahwa dunia ini rusak, kosong, dan tidak adil, namun alih-alih memberontak untuk memperbaikinya, mereka memilih untuk menyerah, menjadi apatis, dan hanya duduk di sudut ruangan sambil menertawakan kehancuran tersebut tanpa melakukan apa pun.
Joker yang menari di atas mobil polisi di tengah kota Gotham yang membara, Sengkuni yang terkekeh menyaksikan kain Dropadi ditarik di balairung istana, dan netizen modern yang sibuk mengetik komentar sarkas di tengah runtuhnya keadilan hukum—mereka semua adalah perwujudan dari nihilisme pasif yang akut.
Tawa kita di media sosial hari ini, jika tidak hati-hati, bisa berubah menjadi candu yang meninabobokan daya kritis kita. Kita menertawakan korupsi pejabat, kita membuat lelucon tentang ketimpangan sosial, kita memparodikan kemiskinan kita sendiri, dan setelah layar gawai dimatikan, kita kembali tidur dalam kondisi tertindas tanpa pernah berniat merajut kembali kohesi sosial yang robek.
Menolak Menjadi Badut
Kisah Joker, Adipati Karna, dan Sengkuni mengajari kita sebuah hukum besi sosiologi yang tak terbantahkan: masyarakat yang kehilangan empati sedang menanam benih monster di halamannya sendiri.
Ada sebuah pepatah kuno dari Afrika yang berbunyi: "Anak yang tidak pernah dipeluk oleh desanya, suatu hari akan membakar desa tersebut hanya untuk merasakan kehangatannya." Ketiga tokoh ini adalah anak-anak yang dingin itu. Mereka membakar dunia bukan karena mereka membenci kehangatan, melainkan karena dunia tidak pernah menyediakan ruang bagi mereka untuk dicintai.
Sebagai manusia modern yang hidup di tengah kecanggihan teknologi namun dalam kemiskinan emosional, kita memiliki tanggung jawab filosofis untuk memutus siklus tragis ini. Menertawakan penderitaan melalui humor gelap atau meme nihilistik adalah hal yang sah-sah saja sebagai mekanisme pertahanan diri sementara untuk menjaga kewarasan psikis kita di hadapan dunia yang absurd ini. Humor adalah tanda bahwa ego kita menolak untuk dihancurkan oleh realitas eksternal yang kejam.
Namun, kita tidak boleh berhenti pada tawa. Kita tidak boleh membiarkan diri kita tenggelam ke dalam persona Joker, atau larut dalam kelicikan politis Sengkuni, atau menyerah pada kepasrahan tragis Karna.
Jika kita hanya bisa menertawakan tragedi tanpa pernah memiliki keberanian moral untuk membangun kembali jembatan empati yang putus, kita tidak lebih dari sekadar badut-badut yang sedang tertawa riang di dalam sebuah teater yang sedang terbakar hebat.
Tantangan terbesar kita hari ini bukanlah mengalahkan sosok "Joker" di luar sana, melainkan menyembuhkan "Arthur Fleck" yang sedang kesepian di sebelah kita, merangkul "Karna" yang sedang didiskriminasi oleh sistem, dan memastikan tidak ada lagi anak kecil yang kakinya harus dipukul hingga pincang di dalam kegelapan penjara seperti "Sengkuni".
Hanya dengan merajut kembali kohesi sosial, mengembalikan keadilan struktural, dan menghidupkan kembali empati yang radikal, kita bisa mengubah tatanan dunia yang absurd ini—bukan menjadi sebuah panggung komedi hitam yang merusak, melainkan menjadi sebuah rumah kemanusiaan yang hangat dan utuh bagi semua orang. (*)
Menot Sukadana