Pena: Senjata Terhebat yang Menolak Mati
SEJARAH dunia sering kali ditulis dengan darah, tapi ia selalu digerakkan oleh tinta. Kita mungkin terbiasa melihat penaklukan wilayah lewat dentuman meriam atau presisi jalur yang dipandu kompas, bahkan kini dunia gemetar di bawah bayang-bayang hulu ledak nuklir. Namun, jika kita telisik lebih dalam, ada senjata yang jauh lebih permanen dan mematikan ketimbang semua alat pemusnah massal itu: Pena. Meski fisiknya rapuh dan mudah patah, ia adalah satu-satunya instrumen yang sanggup meruntuhkan singgasana tiran tanpa perlu melepaskan satu butir peluru pun.
Ada sebuah adagium klasik yang berbunyi, "The pen is mightier than the sword", Pena lebih tajam daripada pedang. Kalimat yang dipopulerkan oleh Edward Bulwer-Lytton dalam naskah dramanya pada abad ke-19 ini bukanlah sekadar rangkaian kata puitis untuk menghibur pembaca. Ia adalah sebuah pengakuan jujur, bahkan sebuah peringatan, atas kegagalan kekuatan fisik dalam menundukkan hakikat terdalam manusia. Pedang, bayonet, dan bedil mungkin bisa menghentikan detak jantung atau memaksa tubuh untuk patuh, namun mereka berhenti di permukaan kulit. Mereka tidak memiliki daya untuk menembus benteng pikiran atau merasuk ke dalam relung jiwa.
Kontradiksi Kekuatan yang Menaklukkan
Di sinilah letak kesaktian pena. Ia bekerja secara infiltrasi, bukan invasi. Ia masuk ke dalam kepala melalui mata, berdialektika dengan kesadaran, dan jika ia berhasil menetap di sana, ia akan menggerakkan tangan dan kaki jutaan orang untuk sebuah perubahan yang tak bisa dihentikan oleh satu batalyon infanteri sekalipun. Sejarah dunia bukanlah narasi tentang siapa yang paling banyak membunuh, melainkan narasi tentang gagasan siapa yang paling gigih bertahan di atas kertas.
Bagi kita di Nusantara, khususnya di Bali, pena bukanlah barang asing yang baru dibawa oleh kolonialisme. Tradisi kita telah mengenal ketajaman ini jauh sebelum mesin cetak Gutenberg menyentuh tanah Asia. Mari kita menengok kembali pada tradisi Lontar. Para mpu dan pujangga zaman dulu tidak menggunakan tinta cair yang lembut, melainkan menggunakan sebilah pisau kecil nan tajam yang disebut Pengutik.
Rahim Peradaban dan Daun Lontar
Menulis di atas daun lontar adalah sebuah ritual melukai. Setiap aksara adalah goresan luka yang kemudian dihitamkan dengan jelaga kemiri agar abadi. Di sini, metafora ketajaman menjadi nyata secara fisik. Tanpa fokus yang presisi dan ketajaman pikiran atau landep, daun lontar itu akan pecah dan rusak. Inilah yang melahirkan karya-karya besar yang menjadi genetik bangsa ini.
Bayangkan, seandainya Mpu Tantular tidak pernah menggoreskan kalimat "Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa" dalam Kakawin Sutasoma pada abad ke-14, barangkali para Bapak-Bapak Bangsa kita seperti Muhammad Yamin atau Bung Karno tidak akan punya bahan bangunan intelektual untuk menyatukan ribuan pulau yang berbeda ini. Slogan itu tidur selama ratusan tahun di atas daun lontar yang sunyi, lalu dibangunkan oleh pena para pejuang kita untuk menjadi lem pemersatu bangsa. Pena para mpu membuktikan satu hal: Raja bisa mangkat, istana bisa runtuh dan terkubur tanah, namun tulisan mereka membuat kejayaan peradaban itu tetap hidup melampaui dimensi waktu dan ruang.
Ledakan Gutenberg dan Senjata Massal
Dunia berubah secara radikal ketika Johannes Gutenberg menemukan mesin cetak pada tahun 1440. Inilah momen di mana pena mendapatkan mesin turbo. Sebelum Gutenberg, buku adalah barang mewah yang harus ditulis tangan selama bertahun-tahun oleh kaum biarawan. Ilmu pengetahuan bersifat eksklusif, tersimpan rapat di perpustakaan kastil atau biara yang tertutup bagi rakyat jelata.
Penemuan Gutenberg meruntuhkan monopoli informasi tersebut. Pengetahuan mendadak menjadi massal. Inilah demokratisasi informasi yang pertama kali terjadi di muka bumi. Otoritas yang tadinya memonopoli kebenaran mulai gemetar, karena rakyat yang mulai bisa membaca adalah rakyat yang mulai berani bertanya. Pena yang digerakkan oleh mesin cetak adalah detonator bagi Revolusi Ilmiah, Renaissance, hingga Reformasi Gereja. Gutenberg membuktikan bahwa cara terbaik mempersenjatai rakyat bukanlah dengan memberi mereka pedang, melainkan dengan memberi mereka akses pada buku yang dicetak massal.
Mengapa Penguasa Takut pada Pena
Sejarah mencatat bahwa tiran paling bengis sekalipun akan gemetar saat berhadapan dengan seorang penulis yang jujur. Napoleon Bonaparte, sang penakluk Eropa, pernah berujar dengan getir: "Saya lebih takut pada tiga surat kabar yang bermusuhan daripada seribu bayonet." Napoleon tahu betul bahwa bayonet hanya bisa menguasai tanah, tapi surat kabar bisa meruntuhkan legitimasi kekuasaannya di hadapan rakyat.
Ketakutan para penguasa ini lahir karena pena memiliki kemampuan untuk melucuti narasi tunggal. Penguasa selalu ingin mengontrol kebenaran, sementara pena memiliki watak untuk mencari kebenaran yang lain. Itulah sebabnya, sepanjang sejarah, musuh pertama dari setiap kediktatoran bukanlah militer lawan, melainkan penyair, jurnalis, dan filsuf. Sensor, pembredelan, hingga pembakaran buku adalah bentuk pengakuan paling nyata dari penguasa bahwa mereka sebenarnya tidak berdaya melawan ide yang sudah tertuang dalam tulisan.
Tirto dan Fajar Pers Perjuangan
Jika kita bicara sejarah pers dan ketajaman pena di Indonesia, dosa besar jika kita tidak menyebut nama Raden Mas Tirto Adhi Soerjo (TAS). Dialah Sang Pemula, Bapak Pers Indonesia yang pertama kali membuktikan di tanah Hindia bahwa sebatang pena bisa membuat Gubernur Jenderal Belanda tidak bisa tidur nyenyak.
Melalui surat kabar Medan Prijaji yang didirikannya pada tahun 1907, Tirto menciptakan genre jurnalisme yang belum pernah ada sebelumnya: jurnalisme advokasi. Bagi Tirto, pena bukan sekadar alat pencatat berita seremonial, tapi alat untuk membalas dendam atas ketidakadilan. Ia membuka rubrik khusus di mana rakyat kecil yang tertindas oleh pejabat kolonial atau bangsawan korup bisa mengadu. Tirto kemudian akan mengulas kasus itu dengan bahasa yang begitu tajam, pedas, dan langsung menghujam jantung kekuasaan.
Belanda begitu ketakutan karena Tirto tidak hanya menulis, ia membangun kesadaran hukum bagi kaum pribumi, yaitu apa yang ia sebut sebagai kaum yang terperintah. Tirto adalah bukti bahwa pena bisa menjadi pengadilan rakyat sebelum pengadilan hukum itu sendiri ada. Itulah sebabnya Tirto berkali-kali dibuang dan diasingkan. Belanda sadar, membiarkan Tirto memegang pena di tengah rakyat sama saja dengan membiarkan sebuah bom waktu meledak di tangan mereka. Pramoedya Ananta Toer kemudian mengabadikan sosoknya sebagai Minke dalam Tetralogi Buru, sebuah penghormatan abadi bagi Sang Panglima Pena.
Sinergi Pena dan Kemandirian Modal
Memasuki era pergerakan nasional 1920-an, perjuangan pena semakin sistematis. Di sini kita belajar satu poin krusial: Pena yang tajam membutuhkan sandaran logistik yang kokoh. Gagasan besar butuh mesin untuk sampai ke tangan pembaca. Ada sebuah fragmen sejarah yang sangat mendalam tentang hubungan Bung Hatta dengan pamannya, Mak Etek Ayub (Ayub Rais). Saat Hatta memimpin pergerakan di Belanda melalui majalah Indonesia Merdeka, ia dihadapkan pada masalah klasik: mahalnya biaya cetak dan sensor pemerintah kolonial. Hatta sadar bahwa untuk merdeka secara pikiran, ia harus merdeka secara alat produksi.
Mak Etek Ayub, sang saudagar Minang yang militan, bukan membelikan Hatta kemewahan, melainkan menjamin logistik agar Hatta bisa memiliki mesin cetaknya sendiri. Ia mendidik Hatta mengelola keuangan dengan ketat agar dapur redaksi tetap mengepul. Dari paman Hatta, kita belajar bahwa pena yang merdeka lahir dari kemandirian ekonomi. Tanpa mesin cetak sendiri, pena pejuang akan mudah dipatahkan oleh pemilik modal yang berpihak pada penindas. Hatta membuktikan bahwa intelektualitas yang dibarengi dengan manajemen logistik yang kuat adalah senjata yang tak terkalahkan.
Tan Malaka Mendahului Zaman
Berbicara tentang visi, kita harus menengok Tan Malaka. Jauh sebelum Republik Indonesia benar-benar berdiri secara fisik, ia sudah mendirikannya di atas kertas melalui buku Naar de Republiek Indonesia pada tahun 1925. Buku ini ditulis di pengasingan, di sela-sela pelariannya dari kejaran intelijen internasional, dan diselundupkan masuk ke Nusantara.
Inilah level tertinggi dari kekuatan pena: ia bisa menciptakan visi yang melampaui geografi dan waktu. Tulisan Tan Malaka menjadi cetak biru yang dibaca secara sembunyi-sembunyi oleh para tokoh bangsa. Ia membuktikan bahwa seorang pelarian politik yang tak memiliki satu prajurit pun bisa menggerakkan sebuah bangsa melalui sebatang pena dan selembar kertas yang ia sebarkan dari negeri asing. Pena Tan Malaka adalah kompas yang menunjukkan arah ke mana bangsa ini harus melangkah.
Penjara Sebagai Laboratorium Ide
Ketakutan penguasa terhadap pena mencapai puncaknya saat mereka membuang para pejuang ini ke penjara atau pulau terpencil. Mereka mengira dengan membatasi ruang gerak fisik, suara para tokoh ini akan padam. Mereka salah besar. Penjara justru menjadi laboratorium di mana pena para pejuang ini diasah hingga mencapai tingkat ketajaman yang paling mematikan.
Lihatlah Bung Karno di sel sempit penjara Banceuy yang pengap. Di sana hanya ada meja kecil dan tumpukan kertas, namun di situlah lahir pidato pembelaan Indonesia Menggugat. Kalimat-kalimatnya menelanjangi moral kolonialisme di hadapan hukum internasional. Begitu pula dengan Nelson Mandela di penjara Robben Island. Selama 27 tahun, ia menulis draf otobiografinya secara rahasia di malam hari, menanamnya di dalam tanah kebun penjara agar tidak ditemukan sipir, sebelum akhirnya diselundupkan keluar oleh rekan-rekan sejawatnya.
Dan tentu saja, kita diingatkan pada Pramoedya Ananta Toer di Pulau Buru. Ketika penguasa secara sengaja merampas pena dan kertas darinya agar ia mati secara intelektual, Pram justru menulis di kepala. Ia menceritakan kisah-kisahnya kepada sesama tahanan saat mereka kerja paksa, menjadikan kawan-kawan seperjuangan sebagai kertas hidup. Begitu mesin tik akhirnya berada di tangannya, lahirlah Tetralogi Buru. Rezim yang membuangnya kini sudah runtuh dan menjadi catatan kaki sejarah yang pahit, namun tulisan Pram tetap abadi, diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa. Pram membuktikan: "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah."
Refleksi Saraswati ke Tumpek Landep
Kembali ke akar kita di Bali. Tradisi kita memiliki filosofi yang sangat dalam tentang proses kreatif manusia melalui rangkaian hari raya yang dimulai dari Saraswati hingga Tumpek Landep. Ini bukan sekadar ritual seremonial, melainkan panduan hidup sebuah gagasan.
Saraswati adalah simbol turunnya bahan baku pengetahuan atau input. Namun, pengetahuan itu tidak boleh hanya dikumpulkan sebagai tumpukan informasi yang mati. Ia harus melalui fase Pagerwesi, yaitu membangun pagar besi etika agar ilmu tersebut tidak digunakan untuk merusak. Puncaknya adalah Tumpek Landep, ritual Ngelandepang Ide atau menajamkan pikiran sebagai output. Pena menjadi senjata terhebat bukan karena mereknya yang mahal atau teknologinya yang canggih, melainkan karena ia telah melalui fase penajaman logika dan nurani. Di era banjir informasi saat ini, pena-pena digital kita terasa kian tumpul karena kita terlalu rajin merayakan Saraswati dengan mengumpulkan info atau melakukan copy-paste, tapi lupa melakukan ritual Tumpek Landep untuk menajamkan analisa kritis.
Menulis Adalah Bekerja Untuk Keabadian
Sejarah telah membuktikan berkali-kali: jeruji besi, pulau pengasingan, sensor ketat, hingga ancaman hukuman mati sekalipun, tidak pernah benar-benar berhasil mengalahkan tinta yang jujur. Pedang bisa patah, bedil bisa macet, meriam bisa berkarat, dan penguasa bisa tumbang. Namun, pikiran yang sudah tertuang dalam tulisan akan terus berteriak melintasi dimensi waktu dan ruang.
Menulis adalah bentuk perlawanan paling elegan terhadap kelupaan. Ia adalah cara kita menitipkan pesan kepada masa depan bahwa kita pernah ada, kita pernah berpikir, dan kita pernah berjuang. Senjata terhebat manusia bukanlah yang bisa menghentikan detak jantung lawan, melainkan yang bisa membuat jantung jutaan orang berdegup untuk satu gagasan yang sama tentang kebenaran dan kemanusiaan. Di hadapan pena yang tajam, setiap tirani adalah fana. Di hadapan tulisan yang jujur, setiap kebohongan akan menemu ajalnya. Maka, teruslah menulis. Sebab, selama pena kita masih tajam dan pikiran kita masih merdeka, maka selama itulah harapan bagi peradaban yang lebih baik akan tetap terjaga. Karena pada akhirnya, raga kita semua akan berlalu, namun tulisan kita, jika ia memiliki nyawa, akan bekerja untuk keabadian. (*)
Menot Sukadana