Podiumnews.com / Horison / Humaniora

Menulis Sepak Bola, Mencetak Kultur Suporter

Oleh Nyoman Sukadana • 16 Juli 2026 • 18:55:00 WITA

Menulis Sepak Bola, Mencetak Kultur Suporter
Tabloid Bola (Sumber: CNN Indonesia/Istockphoto)

SEBELUM media sosial mendikte emosi publik, fanatisme sepak bola di Indonesia dirawat melalui media cetak. Momen penting tercatat pada 3 Maret 1984, saat BOLA terbit pertama kali sebagai sisipan harian Kompas.

Di bawah arahan Jakob Oetama, yang secara khusus menugaskan Ignatius Sunito dan Sumohadi Marsis untuk mengembangkan penerbitan olahraga, BOLA berkembang dari visi kecil di sudut redaksi menjadi ikon kebudayaan.

Pada akhir 1990-an, dengan jadwal terbit dua kali seminggu, tabloid ini berdenyut selaras dengan irama sepak bola Eropa dan dinanti setulus hati oleh pembacanya.

Pada era tersebut, internet masih menjadi barang langka. Di tengah keterbatasan digital, wartawan olahraga memegang peran krusial. Mereka tidak sekadar melaporkan skor akhir, melainkan membangun imajinasi pembaca melalui untaian kata yang hidup.

Wartawan menjelaskan taktik, perubahan formasi, hingga alasan sebuah klub dicintai, sehingga sepak bola dunia mula-mula hadir sebagai teks yang kuat di dalam pikiran generasi muda.

Mendekatkan yang Jauh

Tanpa gawai untuk mengakses informasi instan, generasi 1980-an dan 1990-an harus menunggu koran atau tabloid datang. Keterlambatan distribusi justru melahirkan ritual personal yang emosional: tabel klasemen digunting, jadwal ditempel, dan poster pemain dilepas hati-hati untuk menghiasi dinding kamar.

Melalui lembaran koran, pembaca diajak mengembara melintasi batas geografis dan mengenal karakteristik sepak bola dunia, seperti catenaccio Italia atau Total Football Belanda.

Kuasa kurasi ruang redaksi sangat menentukan liga atau pemain mana yang akan menjadi idola, mengingat keterbatasan halaman kertas. Namun, media cetak tidak sekadar menjual pesona; ia menyediakan konteks sosiologis dan historis yang kaya.

Fenomena ini sejalan dengan pemikiran tokoh budaya Stuart Hall, yang menyatakan bahwa media ikut memproduksi realitas melalui cara mereka menyajikan sebuah peristiwa.

Dengan berfokus pada dinamika sosiologis masyarakat lokal di belahan bumi lain, media masa lalu berhasil membawa pulang emosi, bukan sekadar berita.

Dari pengetahuan konseptual inilah tumbuh keterikatan batin yang mendalam, yang kelak melahirkan komunitas resmi suporter klub Eropa di Indonesia seperti BIGREDS dan Milanisti Indonesia pada awal 2000-an.

Guru Taktik dan Identitas

Pengaruh jurnalisme terhadap kultur suporter lokal bahkan jauh lebih nyata dan interaktif. Pada 4 Maret 1987, harian Jawa Pos mengambil langkah jurnalistik agresif dengan memasang seruan “Tret Tet Tet” di halaman utama untuk mengorganisasi dukungan massal bagi Persebaya Surabaya di Jakarta.

Setahun kemudian, tepatnya pada 8 November 1988, laporan jurnalistik Jawa Pos secara resmi memopulerkan istilah "Bonek" (bondho nekat) untuk menggambarkan kenekatan suporter dengan modal terbatas. Istilah yang lahir dari rahim pers ini akhirnya bermutasi menjadi identitas kultural besar yang bertahan lintas generasi.

Kasus Bonek menunjukkan bahwa media cetak tidak memilih berdiri di luar pagar tribun sebagai pengamat yang dingin dan berjarak. Media secara aktif ikut memberikan penamaan dan memperluas wilayah identitas.

Pola serupa, meski dengan dinamika berbeda, juga merekam dan memperkuat subkultur Aremania di Malang, Persib di Jawa Barat, hingga Persija di Jakarta, menjadikan dinamika tribun sebagai arsip kebudayaan yang abadi.

Selain identitas, media cetak bertindak sebagai guru taktik di ruang publik. Jakob Oetama selalu menekankan sebuah prinsip penting: jurnalisme harus mengusung misi mencerahkan kehidupan bangsa lewat informasi yang bermutu.

Di dunia olahraga, misi edukasi ini diterjemahkan lewat penyajian diagram formasi lapangan yang detail, statistik, serta istilah teknis seperti formasi 4-4-2, libero, dan overlap.

Pasokan argumen dan kedalaman analisis dari tulisan wartawan inilah yang mendewasakan kultur suporter, mengubah obrolan di warung kopi dari sekadar debat kusir soal gol menjadi perdebatan taktis yang bermutu.

Ruang Baru, Kedalaman Berubah

Masa kejayaan media cetak menemui titik akhir ketika lanskap industri bermigrasi secara masif ke ekosistem digital. Pada 26 Oktober 2018, Tabloid BOLA resmi berhenti terbit pada edisinya yang ke-2.915 setelah 34 tahun mengawal pencinta olahraga.

Langkah ini menjadi konsekuensi logis dari melonjaknya penetrasi internet di Indonesia yang kini menjangkau ratusan juta pengguna.

Di era digital, informasi sepak bola tiba secara instan dan demokratis. Suporter bukan lagi konsumen pasif; mereka kini menjadi produsen konten melalui podcast, video analisis, dan utas media sosial.

Namun, pergeseran medium ini mengubah hubungan pembaca dengan informasi. Di bawah tekanan arus algoritma, kompetisi kecepatan, dan pemburu klik (pageviews), mutu jurnalisme olahraga kerap mengalami penyusutan kedalaman.

Kuantitas artikel diutamakan, judul provokatif marak, dan budaya saling mengejek (trolling) lebih mudah menyebar daripada analisis komprehensif.

Kendati demikian, realitas ini tidak bisa dinilai secara hitam-putih. Arsip sejarah menunjukkan bahwa media cetak di masa lalu pun terkadang membuat judul berlebihan demi memanaskan rivalitas.

Sebaliknya, di tengah belantara digital saat ini, masyarakat masih bisa menemukan ulasan yang bernas dan objektif yang diproduksi oleh komunitas suporter mandiri.

Masalah utamanya kini bukan pada medium digitalnya, melainkan pada model bisnis industri dan bagaimana kebiasaan suporter dalam menyaring informasi di tengah banjir bandang data.

Secara keseluruhan, walau kertasnya telah menguning dan sebagian medianya sudah gulung tikar, cara memandang sepak bola yang ditanamkan oleh generasi jurnalisme cetak sebuah warisan pemikiran tentang kedalaman taktis dan konteks sosial belum sepenuhnya hilang dari kultur suporter hari ini. (*)

Menot Sukadana


Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.