Erotisme Saku
DULU anak tongkrongan era 90-an punya kode rahasia: setwilda. Sekitar wilayah dada.
Ada lagi bupati. Buka paha tinggi-tinggi.
Dua istilah jadul itu ternyata belum mati. Ia hanya ganti baju—bermigrasi mulus ke layar kaca berasio 9:16.
Lihat saja linimasa ponsel hari ini.
Jempol bergerak kencang. Mengabaikan berita perang. Melewati ribut-ribut politik. Lalu mendadak macet.
Seorang perempuan bergaun sutra merah disudutkan ke dinding. Belahan dadanya rendah sekali. Terlalu rendah untuk ukuran ruang tamu kita. Roknya terbelah tinggi, paha tersingkap. Lalu pria berdasi menerkamnya dengan ciuman bertubi-tubi.
Tepat di detik ke-60, adegan putus. Layar membeku.
Muncul perintah: Unduh aplikasi untuk lanjut menonton.
Itulah drama pendek vertikal. Sedang merajalela di layar saku.
Padahal di televisi kita, negara tampil begitu tertib.
Ada KPI. Matanya elang. Atlet renang di-blur. Dada patung putri duyung disensor kain. Pembawa acara berkebaya pun bisa kena semprit. Televisi dijaga bak ruang suci.
Tapi di layar enam inci, urusannya berpindah meja: ke Kementerian Komunikasi dan Digital. Komdigi.
Bukan berarti negara tidur. Sepanjang tahun, ratusan ribu tautan bermasalah dibabat. Situs-situs pornografi ditenggelamkan.
Masalahnya, pagar digital tidak bekerja seperti gunting sensor televisi.
Di televisi, siaran ada jadwalnya. Bisa ditunggu. Direkam. Lalu dijatuhi surat teguran.
Di internet?
Potongan video diproduksi di Hangzhou atau Beijing. Diterjemahkan mesin. Lalu disorongkan algoritma ke jutaan layar di Indonesia dalam hitungan detik.
Surat peringatan belum sempat diketik, videonya sudah ditonton ratusan ribu kali.
Negara masih berjaga dengan logika jam siaran.
Industri hiburan sudah melesat memakai logika umpan algoritma.
Sejarah seperti berputar.
Ingat bioskop kita di pengujung dekade 1980-an hingga pertengahan 1990-an?
Kala itu bioskop lokal limbung dihantam maraknya kaset video dan kehadiran televisi swasta. Di tengah industri yang kehilangan penonton, sejumlah produser menemukan jalan pintas untuk memanggil orang kembali ke loket: sensualitas.
Lahirlah film-film semacam Gairah Malam atau Ranjang Pemikat. Ceritanya tipis saja. Sekadar jembatan antar-adegan buka kancing.
Film Warkop DKI era Soraya Intercine Films juga ikut meminjam daya pikat serupa. Ada deretan "Gadis Warkop". Ada Eva Arnaz. Ada Kiki Fatmala. Baju renang, piknik pantai, dan adegan intip jadi bumbu wajib.
Tapi Warkop punya etika humor.
Sensualitas ditaruh dalam bingkai tawa. Dono melongo menatap paha mulus, lalu tercebur ke got atau menabrak gerobak bakso. Birahi diolok-olok. Ditertawakan bersama di ruang bioskop yang riuh.
Pada jenis drama pendek yang belakangan membanjiri linimasa, suasananya berbalik.
Humornya hilang.
Yang dipajang di etalase adalah ketegangan seksual murni. Aroma perselingkuhan. Dominasi pria kaya.
Rumusnya paten: tiga detik pertama harus sanggup menyandera jempol.
Tubuh dipasang jadi umpan penghenti laju gulir.
Begitu penonton penasaran, pintu dikunci rapat-rapat.
Mau lihat adegan lanjutannya di sofa kantor? Beli koin.
Saldo dompet digital pun terpotong. Erotisme dipecah menjadi komoditas mikro yang ditagih per menit.
Dulu, menikmati tontonan berani semacam itu menuntut keberanian sosial. Mesti antre di loket bioskop kelas dua. Malu-malu melirik kiri-kanan karena takut tepergok tetangga.
Sekarang?
Rasa malu itu lenyap. Sudah diprivatisasi seutuhnya.
Bisa dinikmati sendirian di sudut kamar yang temaram. Di bilik toilet kantor. Di sela jam kerja.
Tanpa tatapan orang lain. Tanpa rasa bersalah.
Koin habis. Layar padam.
Ponsel meluncur masuk kantong celana.
Biarlah negara dan para pejabat terus berdebat soal moral dan pasal sensor di ruang rapat. Zaman boleh melesat ke era kecerdasan buatan.
Tapi malam ini, urusan setwilda dan bupati resmi diselesaikan secara mandiri. Dan jarak antara birahi naluriah dengan uang receh ternyata tetap sama: cuma sejengkal kain saku celana. (*)
Menot Sukadana