Podiumnews.com / Kolom / Catatan Ekonomi

Mendedah Peluang Co-Creation UMKM

Oleh Nyoman Sukadana • 13 Oktober 2026 • 13:36:00 WITA

Mendedah Peluang Co-Creation UMKM
Ni Luh Wayan Sayang Telagawathi (Dok/Podiumnews)

UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) dalam menjalankan usahanya sehari-hari dengan kapasitas sendiri biasanya menghadapi keterbatasan sumber daya dalam hal modal sosial, budaya, ekonomi, dan teknologi. Sebaliknya, perusahaan besar memiliki sumber daya sendiri yang cukup atau setidaknya akses ke sumber daya eksternal lainnya. Sebagai Akibatnya, UMKM sering mengalami inefisiensi dan inefektifitas dalam mengelola dan memanfaatkan sumber daya. 

Situasi ini menurunkan keunggulan kompetitif yang memengaruhi kemampuan bertahan hidup di dunia bisnis yang terus berubah. Oleh karena itu, perusahaan-perusahaan besar biasanya akan menerapkan strategi yang berbeda untuk bekerja sama dengan UMKM lain, pemerintah, para ahli, lembaga, institusi akademik, pemasok, distributor, dan pihak-pihak lain untuk mencapai manfaat bersama dan mengembangkan bisnis mereka agar dapat mempertahankan eksistensi mereka dari waktu ke waktu. 

Belajar dari strategi perusahaan-perusahaan besar untuk selalu mampu bersaing dan mencari peluang meningkatkan kinerja bisnis dan pemasarannya, perlu mengintegrasikan sumber daya dalam platform penciptaan nilai bersama melalui interaksi dengan UMKM lain dalam komunitas. Penciptaan nilai bersama dalam komunitas UMKM memunculkan isu relevan ketika setiap anggota mengembangkan kapasitasnya melalui interaksi antar aktor baik eksternal maupun internal komunitas. Kesadaran dan juga keyakinan untuk mengembangkan jejaring dan relasi dengan pemangku kepentingan yang lebih luas tidak terjadi begitu saja. Kerangka berpikir ini memerlukan basis pengetahuan bagi pelaku UMKM.  

Penciptaan Nilai Bersama

Jejaring kolaborasi yang kuat dan memiliki pondasi yang kokoh lahir dari komitmen berbagai pemangku kepentingan dengan tujuan yang sama. Peran dan interaksi semacam itu memungkinkan integrasi sumber daya yang membangun platform penciptaan nilai bersama. Inilah yang sering disebut dengan co-creation. Kajian-kajian sebelumnya mengeksplorasi penciptaan nilai bersama di UMKM dan membahas jaringan dan model pemasaran kewirausahaan.

Namun, studi tentang co-creation (penciptaan nilai bersama) dalam komunitas UMKM dari perspektif multi-aktor masih terbatas, dan tentu saja belum mencakup model yang diusulkan. Pertanyaannya kini adalah hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam mengkonstruksi model platform penciptaan nilai bersama yang mengukur interaksi eksternal dan internal untuk integrasi sumber daya UMKM tersebut? 

Kerangka co-creation yang mendasar adalah menjelaskan bagaimana interaksi eksternal dan internal mendorong integrasi sumber daya operasional (pengetahuan dan keterampilan) yang dapat menjadi alat untuk mengevaluasi efektivitas aktivitas yang dilakukan oleh komunitas UMKM. Melalui interaksi eksternal dan internal, semua pemangku kepentingan mendapatkan manfaat dari pertukaran layanan dan integrasi sumber daya yang dapat membangun kapasitas dan mengurangi kelemahan individu dengan meningkatkan sumber daya kolektif dari dalam. Penerapan konsep co-creation pada komunitas dapat menjadi solusi alternatif untuk menghadapi berbagai tantangan dan bersaing dengan perusahaan besar. 

Kesenjangan yang terjadi adalah bagaimana menciptaan model platform penciptaan nilai bersama dalam komunitas UMKM di mana seorang anggota berinteraksi dengan pemangku kepentingan lain di luar komunitas (jaringan kolaboratif) dan anggota lain di dalam komunitas (interaksi dinamis) untuk mendorong integrasi sumber daya. Data-data di lapangan seringkali menunjukkan bagaimana UMKM justru berjalan secara individual tanpa memikirkan arti penting dan kekuatan kolaborasi. Alih-alih menciptakan nilai bersama, UMKM akan sulit berkembang karena tidak membuka diri untuk mengintegrasikan sumber daya yang mereka miliki dalam platform penciptaan nilai bersama. Penerapan konsep ini menawarkan strategi pengembangan alternatif untuk keberlanjutan bisnis mereka.

Kerangka dasar dari penciptaan nilai bersama adalah interaksi antar aktor untuk membangun integrasi sumber daya kolektif. Hal ini dimungkinkan dan dibatasi oleh norma, kepercayaan, aturan, dan makna (pengaturan kelembagaan) yang secara endogen menghasilkan ekosistem layanan yang saling terkait dan terjalin. Interaksi tersebut melibatkan pertukaran layanan (pengetahuan dan keterampilan) di antara banyak aktor, termasuk produsen, pemasok, pemerintah, ahli, akademisi, konsultan, pesaing, lembaga, distributor, dan pemangku kepentingan lainnya. 

Penciptaan nilai bersama dalam UMKM membutuhkan kemampuan untuk membangun hubungan dengan aktor lain. Kemampuan ini dapat ditingkatkan melalui kerja sama, kombinasi keahlian kolektif, jaringan, dan keselarasan. Semua sumber daya harus diintegrasikan untuk menciptakan nilai bersama dalam praktik bisnis terbaik. Penciptaan nilai bersama yang melibatkan banyak pemangku kepentingan (aktor) diperlukan untuk mengembangkan bisnis dan merek perusahaan. Aktor-aktor tersebut dapat memberikan ide dan sudut pandang untuk mendukung kinerja bisnis UMKM. 

Pemetaan Jejaring Kolaboratif

Komunitas UMKM menjadi mekanisme yang relevan untuk membangun penciptaan nilai bersama. Perspektif lain menyoroti pentingnya memanfaatkan kapasitas UMKM dengan bekerja sama dan bertukar pengetahuan dengan perusahaan atau organisasi lain untuk mempercepat inovasi dan kinerja perusahaan. Upaya individu terlalu rapuh untuk mengembangkan bisnis sendiri yang dapat menyebabkan inefisiensi dan inefektifitas. Oleh karena itu, UMKM membutuhkan keahlian melalui jaringan kolaboratif dengan aktor eksternal dan interaksi dinamis dengan aktor internal dalam komunitas untuk mengintegrasikan sumber daya kolektif. Tujuannya adalah menciptakan nilai bersama.

Jaringan kolaboratif merujuk pada proses interaksi untuk bekerja sama dan membangun hubungan dengan banyak aktor di luar organisasi untuk meningkatkan kapasitas dengan memperoleh dan menyelaraskan kemampuan aktor lain. Jaringan kolaboratif dalam UMKM menjadi ekosistem pembelajaran bagi para aktor untuk bekerja sama, mengembangkan, serta membangun kompetensi dan bisnis strategis dengan mitra yang berpartisipasi Hubungan yang baik dengan aktor lain dalam jaringan, seperti dengan pemasok, meningkatkan sumber daya kolektif dan kemampuan untuk mengidentifikasi kompetensi mitra lain. 

Perspektif lain mengidentifikasi dua jenis fase interaksi berurutan dalam inovasi kolektif, yaitu tingkat makro yang berkaitan dengan jaringan kolaboratif secara eksternal, dan interaksi tingkat mikro yang mengacu pada peran multi-aktor di dalam organisasi. Pemetaan kompetensi memungkinkan suatu organisasi untuk mengidentifikasi spesialisasi aktor lain sehingga dapat memanfaatkan sumber daya unik untuk mencapai integrasi optimal melalui pertukaran sumber daya. Mengetahui spesialisasi dan penguasaan mitra potensial memungkinkan tindakan komplementer yang optimal untuk mengintegrasikan semua sumber daya yang dibutuhkan.

Kemampuan ini juga membantu organisasi mencapai efisiensi dan efektivitas dalam integrasi sumber daya. Ketika suatu organisasi berencana untuk bekerja sama dengan aktor lain, organisasi tersebut harus mengembangkan kemampuan untuk menentukan sumber daya yang dibutuhkan dan menemukan kemampuan aktor lain yang sesuai dengan kebutuhannya. Hal ini dapat mengoptimalkan kemampuan spesifik aktor lain untuk mendorong proses pembelajaran dan pengembangan pengetahuan. Selain itu, interaksi eksternal UMKM menunjukkan keterkaitan dengan interaksi internal untuk melakukan inovasi terbuka. 

Interaksi dengan berbagai jenis aktor harus mempertimbangkan beberapa aspek heterogenitas aktor: tujuan, kompetensi, keterampilan, pengetahuan, persepsi, budaya, kekuasaan, dan posisi. Dalam jaringan kolaborasi, aktor dengan tujuan yang beragam menyadari bahwa mungkin ada tujuan yang tumpang tindih di antara banyak aktor eksternal dan persyaratan organisasi. Pada situasi ini diperlukan koordinasi untuk meningkatkan efektivitas penciptaan nilai bersama untuk mengurangi inefisiensi dan untuk mendorong kemajuan dalam penciptaan nilai bersama. 

Kajian lain mengusulkan dua dimensi jaringan kolaboratif, yaitu kemampuan jaringan pemangku kepentingan dan pemetaan kompetensi pemangku kepentingan. Perspektif lainnya mendefinisikan kemampuan jaringan sebagai kemampuan organisasi untuk menemukan, menarik, dan membentuk hubungan dengan aktor lain untuk merangsang kesediaan mereka untuk terlibat dalam aktivitas penciptaan bersama. Aktor-aktor tersebut dapat berupa perusahaan, pemerintah, pesaing, konsumen, dan lembaga lain atau pihak individu, yang umumnya dikenal sebagai pemangku kepentingan, dengan siapa suatu organisasi ingin mengembangkan hubungan untuk memenuhi kebutuhan sumber daya mereka. (*)

Oleh: Ni Luh Wayan Sayang Telagawathi (Dosen Ilmu Manajemen, Undiksha Singaraja, Bali)


Nyoman Sukadana
Editor

Nyoman Sukadana

Akrab disapa Menot adalah seorang jurnalis, kolumnis, publisher dan penulis buku asal Bali.