Memaksimalkan Bricolage Usaha Berbasis Komunitas
USAHA-USAHA berbasis komunitas, dalam hal ini berbasis rumah tangga dan desa adat atau bebanjaran di Bali sejatinya memiliki sumber daya yang sangat penting, meski seminimal yang mereka miliki. Sumber daya ini sangat penting sebagai kekuatan untuk menghadapi berbagai krisis yang terjadi. Hal inilah yang sering disebut dengan bricolage. Bricolage adalah sebentuk kreatifitas dan daya imajinasi yang memungkinkan pelaku usaha berbasis komunitas untuk memunculkan inovasi dari sumber daya yang terbatas, dan menciptakan peluang di tengah situasi yang tidak normal pada masa pandemic ini.
Kajian-kajian untuk mengidentifikasi sekaligus juga mentransformasi sumberdaya yang dimiliki oleh usaha berbasis komunitas, seperti misalnya UMKM berbasis desa, banjar, dan rumah tangga sangatlah penting. Salah satunya adalah untuk menggerakkan dan memperkuat bricolage usaha dalam menghadapi krisis. Salah satu sumberdaya tersebut adalah modal social dihasilkan dari kerekatan sosial (social embeddedness) pelaku usaha berbasis komunitas tersebut. Kerekatan social yang dimaksudkan adalah dukungan social yang diberikan oleh masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya dalam bentuk koneksi social.
Kerekatan, koneksi social, dan modal social usaha kecil inilah yang membantu menjalankan proses bisnis dan melakukan pengembangan usaha, sekaligus juga mampu memberikan sumber daya cadangan manakala krisis menerpa. Krisis tidak bisa diatasi jika setiap orang bekerja sendiri-sendiri namun melalui jaringan sosial yang terus diakumulasikan untuk kebertahanan bisnis (bussines resilience). Kerekatan social, yang dipadukan dengan modal social, menjadi sangat urgen pada masa-masa krisis yang datang tidak tentu tanpa bisa diprediksi. Salah satunya adalah krisis pada masa pandemic saat kebertahanan usaha kecil betul-betul diuji.
Pelajaran Krisis Pandemi
Pandemi Covid-19 melumpuhkan berbagai jenis usaha, dari mulai usaha besar dan tidak terkecuali adalah usaha kecil berbasis komunitas yaitu UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah). Namun, sebagian usaha-usaha kecil mampu bertahan dan berkembang karena memanfaatkan ekosistem digital. Usaha kecil ini memerlukan inisiatif untuk beradaptasi dengan situasi krisis dengan melakukan terobosan menggunakan perangkat teknologi. Manajemen usaha kecil ini dituntut untuk mampu beralih kepada penggunaan teknologi aplikasi pemasaran jika ingin terus menggeliat. Literasi digital masih menjadi persoalan yang harus dipecahkan meski 97% wilayah Indonesia sudah terhubung dalam marketplace online. Adaptasi ke wilayah digital ini memerlukan terobosan yang agresif sekaligus massif.
Transformasi digital hanya menjadi salah satu hal penting dalam resiliensi bisnis (business resilience), suatu kebertahanannya sebagai usaha yang secara komprehensif dengan memperhatikan aspek internal dan eksternal dari modal yang dimiliki oleh usaha kecil ini yang sudah tentu memiliki sumber daya yang terbatas. Sumber daya yang terbatas bukanlah menjadi penghalang untuk mendayagunakan apa yang mereka miliki melalui pendekatan bricolage. Pendekatan ini tidak perlu rencana ideal, tidak juga harus menggunakan sumber daya dan peralatan yang komplet. Kreatifitas dan daya imajinasi memungkinkan mereka untuk memunculkan inovasi dari sumber daya yang terbatas, dan menciptakan peluang yang tidak disadari oleh orang lain.
Hal lain yang juga sangat penting adalah pentingnya budaya informalitas yang dimiliki oleh usaha kevil untuk mendukung resiliensi bisnis mereka. Dalam perspektif bricolage, justru budaya informalitas ini memberikan adalah fleksibilitas dan kapasitas adaptif dari usaha kecil karena rantai pengambilan keputusan yang lebih pendek dan cair yang memungkinkan usaha kecil berbasis komunitas untuk melakukan respon yang lebih cepat manakala krisis terjadi.
Prinsip utama dalam proses adaptif terkait situasi pandemi ini adalah bagaimana pelaku sektor usaha informal membangun keseimbangan antara urusan kesehatan dan keselamatan jiwa terutama kaitannya dengan pencegahan penyebaran virus corona pada satu sisi dan pada sisi yang lain urusan keberlanjutan usaha terutama yang berkaitan dengan penghidupan pelaku usaha dan karyawan yang bekerja di dalamnya.
Situasi krisis tersebut memberikan pelajaran bahwa ekosistem usaha kecil yang kuat dan terintegrasi menjadi sangat penting. Hal itulah yang sering disebut dengan ekosistem kewirausahaan. Pada sisi lain, kritik yang sering tersampaikan adalah bahwa penciptaan ekosistem kewirausahaan usaha kecil terlalu top-down (berporos pada kepentingan pemerintah) dan ketergantungan terhadap kebijakan pemerintah. Sering kali juga program kewirausahaan yang menyasar kelompok usaha kecil bukan merupakan merupakan prioritas di desa tersebut. Sebagian besar visi pembangunan yang ada di desa berkiblat untuk infrastruktur yang padat karya, sedangkan hanya sedikit disalurkan untuk program pemberdayaan komunitas. Hal ini semakin diperparah dengan tertinggalnya perekonomian desa akibat transformasi ekonomi akibat rural-urban migration.
Usaha pemberdayaan komunitas sejatinya belum menyentuh pada ranah kemampuan mengindentifikasi potensi diri, modal sosial, hingga menuju kemandirian pelaku usaha kecil. Hal ini mengakibatkan munculnya berbagai permasalahan yang muncul dari dinamika pengembangan usaha kecil yang belum menemukan jawaban komprehensif. Permasalahan permodalan dan keterbatasan pemasaran sangat membelenggu. Inovasi serta kualitas produksi berlangsung stagnan. Hal yang juga tidak bisa diremehkan adalah manajemen usaha yang tidak professional dan transparan dan kualitas sumber daya manusia yang tidak memiliki visi dan orientasi kewirausahaan dalam pengembangan usahanya.
Kompleksitas kondisi internal pengerajin ditambah dengan kondisi eksternal yang tidak bersahabat. Pemerintah, swasta, dan stakeholder lainnya kurang bersinergi dan berkomitmen bersama untuk kemajuan usaha kecil. Hasilnya adalah usaha kecil tetap saja tidak mampu bersaing dengan industri lainnya. Nasib para pengerajin juga tetap tidak menentu sehingga usaha mereka belum berkembang dengan maksimal.
Gambaran kompleksitas permasalahan tersebut juga sayangnya belum menemukan solusi pemecahan yang jelas, holistik, dan terintegratif. Ketidakjelasan arah pemecahan masalah tersebut sangat merugikan usaha kecil, padahal potensi yang dimiliki usaha kecil sangatlah besar sebagai penggerak ekonomi masyarakat kecil. Usaha kecil berbasis komunitas di sebagian besar wilayah di negeri ini memiliki potensi yang sangat besar sebagai penggerak perekonomian rakyat.
Kewirausahaan berperan sangat penting dalam mempromosikan sumber-sumber resiliensi melalui sikap dan perilaku mereka. Budaya informalitas yang kental dan struktur tata Kelola organisasi yang sederhana pada usaha sector informal memungkinkan emergent strategi diterapkan. Proses bisnis dan keputusan berjalan secara spontan dan berkembang dari waktu ke waktu, tidak mensyaratkan perencanaan yang bersifat formal, sebagai wujud respons atas perubahan situasi lingkungan.
Pada saat bersamaan, akses terhadap modal sosial perlu dipertahankan dan termasuk membangun kepercayaan dan pemberdayaan dengan karyawan dan pemangku kepentingan sehingga tercipta keterikatan social (social embeddedness) pada satu sisi, dan kemampuan adaptif pada sisi yang lain. Harapannya sumber-sumber resiliensi individu di atas dapat terinternalisasi dalam budaya kerja organisasi dan diadopsi oleh karyawan sehingga usaha yang dijalankan lebih tangguh terhadap tekanan eksternal.
UMKM pada masa pandemi ini sangat penting memperhatikan faktor eksternal dan juga internal serta bagaimana mengombinasikannya untuk memperoleh kompetensi inti dan keunggulan bersaing yang berkelanjutan. UMKM yang mampu bersaing pada masa pandemi ini adalah yang mampu memahami bagaimana keunggulan bersaing secara berkelanjutan itu dapat dicapai. Pemenang persaingan dalam pasar global adalah perusahaan yang dapat memberikan responsiveness yang tepat waktu dan cepat dengan inovasi produk yang fleksibel, yang dipadukan dengan kapabilitas manajemen untuk melakukan koordinasi yang efektif serta menempatkan kompetensi internal maupun eksternal secara tepat. (*)
Oleh: Ni Luh Wayan Sayang Telagawathi (Dosen Ilmu Manajemen, Undiksha Singaraja, Bali)