Kematian Pria Asal Karangasem Misterius, Dianiaya Atau Kecelakaan Lalin?
DENPASAR, PODIUMNEWS.com – Kematian pria asal Karangasem bernama I Kadek Suparta (26) menjadi misteri bagi aparat kepolisian. Apalagi korban ditemukan terkapar di jalan raya dan diduga jadi korban penganiayaan oleh sekelompok orang.
Informasi terbaru, kasus ini telah dilaporkan oleh kakak kandung korban, I Wayan Suardika, terkait kasus penganiayaan ke Polresta Denpasar, Rabu (4/11/2026). Penyelidikan ini dipimpin langsung oleh Kasat Reskrim Polresta Denpasar, AKP I Gusti Nyoman Jaya Widura, S.T.K., S.I.K., M.H., bersama Tim Opsnal.
Sejalan penyelidikan berlangsung, polisi telah mengumpulkan keterangan saksi, rekaman CCTV, serta bukti fisik di lapangan.
Menurut Kasi Humas Polresta Denpasar Iptu Gede Adhi Saputra Jaya SH, berdasarkan hasil rekaman CCTV, terlihat korban bersama teman kerjanya, Nabila, pergi ke Pantai Jerman, Kuta, untuk mengikuti acara minum minuman keras, Minggu (1/11/2026) sekitar pukul 22.00 Wita.
Kemudian, pada Senin (2/11/2026) sekitar pukul 04.35 Wita, dalam kondisi mabuk berat korban dibonceng rekannya. Mereka tiba di kos kawasan Taman Griya, Tuban. Tak lama korban asal Banjar Dinas Bugbug Kelodan, Desa Bugbug, Karangasem ini pamitan pergi mengendarai motor Scoopy seorang diri.
Namun, kata Iptu Gede Adhi, pascakejadian kondisi hujan deras dan gelap. Korban ditemukan terkapar di pinggir Jalan Bypass Ngurah Rai (depan Krisna Oleh-Oleh). Ia ditemukan di dekat trotoar oleh seorang petugas kebersihan DLHK Badung, Ni Wayan Sumini.
"Sepeda motor korban ditemukan di sebelah tubuhnya dalam kondisi rusak parah di bagian depan," ucapnya.
Dalam proses evakuasi, korban dibawa mobil pikap yang ditumpangi pasangan suami istri, Paiman, hingga membawa korban ke RS Bali Jimbaran, Kuta Selatan sekitar pukul 05.35 Wita.
Iptu Gede Adhi menyebutkan, para saksi yang menolong korban sempat mencium aroma bau alkohol. Sedangkan HP korban masih berada di tangannya. Untuk barang berharga milik korban tidak ada yang hilang.
Lantaran terkendala biaya di RS Bali Jimbaran, pihak keluarga korban memutuskan membawa pulang paksa dan melarikannya ke RSUP Prof Ngoerah, Sanglah, Denpasar. Namun setiba di rumah sakit sekitar pukul 21.4 Wita, kesadaran korban menurun drastis.
Yang menarik, kata Iptu Gede Adhi, sebelum mengembuskan napas terakhir, korban sempat curhat kepada kakaknya.
Begini katanya,"awalnya sempat minum dan direbut (dikerumuni), kemudian ditaruh saja di rumah sakit." Pernyataan inilah yang kemudian memicu narasi adanya dugaan penganiayaan hingga viral di media sosial.
Nasib berkata lain, Rabu (4/11/2026) pukul 00.40 Wita, korban dinyatakan meninggal dunia di ruang HCU RSUP Prof. Ngoerah. Pihak keluarga menolak untuk autopsi dan telah menandatangani surat pernyataan penolakan. Kendati demikian, polisi masih menunggu pihak keluarga membuat laporan resmi ke polisi.
Mantan Kanitreskrim Polsek Mengwi ini melanjutkan, dari hasil koordinasi pihak kepolisian dan pihak medis, korban mengalami luka lecet, lebam, serta patah tulang di bagian wajah, beberapa bagian tubuh, dan patah tulang simetris pada kedua lengan.
Sejauh ini pihak tim medis masih melakukan pencocokan apakah pola luka tersebut lebih condong pada kecelakaan lalu lintas atau penganiayaan.
Sementara kondisi sepeda motor korban mengalami kerusakan berat pada bagian depan atas (komponen besi dari stang ke atas rusak parah, garpu bengkok, dan spion lepas).
Karakteristik kerusakan ini diduga kuat akibat benturan keras berenergi tinggi, yang dinilai tidak sesuai dengan pola perusakan oleh tenaga manusia.
Sedangkan, dari kesimpulan para saksi mata, kondisi korban yang mabuk berat, serpihan kendaraan di TKP, serta tingkat kerusakan motor mengarah kuat pada insiden kecelakaan lalu lintas (laka lantas).
Iptu Gede Adhi menegaskan bahwa jika hasil penyelidikan menyeluruh dan hasil visum et repertum (VER) nantinya memastikan peristiwa ini murni merupakan kecelakaan lalu lintas, penanganan laporan tersebut akan dilimpahkan ke Sat Lantas Polresta Denpasar.
(hes/kturnip)