Berpolitik, Siapa Menipu Siapa
PODIUM-Denpasar
Satu fakta yang tidak dapat diingkari adalah bahwa dulunya, ketika demokrasi diperkenalkan di Indonesia, ada sejumlah politisi (politisi busuk) yang kerjanya hanya menipu dan menipu. Ketika pemilu tiba, si politisi melakukan tour ke sana ke mari guna mengkampanyekan sejuta janji kepada rakyat. Bahkan terkadang janji yang ditaburnya itu telah diyakininya tidak akan mungkin terlaksana, tetapi karena didorong oleh nafsu yang membara maka terpaksa ditaburnya pula dengan harapan rakyat akan memilihnya.
Bagi sebagian politisi, janji adalah senjata yang sangat efektif untuk menyasar kepercayaan rakyat. Akibat janjilah rakyat menaruh harapan dan juga impian kepada para politisi. Tetapi janji yang tidak pernah ditepati itu akhirnya menjadi bumerang bagi si politisi itu sendiri. Semakin ditipu, tentunya rakyat akan semakin cerdas. Kecerdasan ini pun terbagi dua. Pertama, kecerdasan untuk bertahan, di mana rakyat akan menganggap semua politisi itu sebagai penipu sehingga janji-janji itu akan mendapat cibiran dari rakyat. Kondisi ini akan menjadikan rakyat kebal terhadap janji-janji di kemudian hari. Dalam kondisi ini, janji para politisi sudah tidak lagi mampu mempengaruhi rakyat untuk menentukan pilihan politiknya.
Kedua, kecerdasan untuk balik menipu. Ini adalah kecerdasan tertinggi yang dimiliki oleh rakyat, di mana tidak hanya bertahan, tetapi rakyat juga akan melakukan gerakan perlawanan dengan jurus yang serupa, jurus menipu. Jika dulu politisi menipu rakyat, maka sekarang kondisinya berubah, rakyat menipu politisi. Gejala sosial ini sudah mulai muncul di beberapa tempat dalam beberapa tahun terakhir. Kita tentu sering mendengar (kalau diberi uang kamu ambil, tapi kamu jangan pilih dia).
Menipu Politisi
Munculnya perlawanan rakyat terhadap politisi busuk melalui gerakan tipu politisi adalah fenomena yang wajar. Tentunya, politisi tidak bisa menyalahkan sebagian rakyat yang saat ini gemar menipu politisi. Kondisi ini tidak lahir dengan sendirinya, tetapi para politisi busuk punya kontribusi besar dalam memprakarsai lahirnya gerakan ini.
Sudah berpuluh tahun rakyat ditipu oleh politisi busuk. Dengan demikian sudah sepatutnya jika rakyat melakukan aksi balas dendam. Aksi balas dendam ini tentunya sulit dibendung dan akan memakan korban tanpa tebang pilih. Artinya, politisi baik pun tidak luput dari aksi balas dendam ini.
Jika dulu rakyat menaruh harapan kepada politisi agar janji-janji itu ditepati, sekarang sebaliknya, justru politisi yang menaruh harapan kepada rakyat agar benar-benar memilihnya alias tidak ditipu. Nampaknya gerakan tipu politisi ini akan semakin meluas seiring meningkatnya kecerdasan rakyat dari masa ke masa. Sebagaimana halnya para politisi busuk di masa lalu yang menipu rakyat tanpa beban, sekarang rakyat pun dengan santai saja menipu politisi. (KP-EDITORIAL)