Podiumnews.com / Aktual / Politik

Rentan Klaster Baru, Masyarakat Mulai Salah Artikan New Normal

Oleh Podiumnews • 14 September 2020 • 17:35:43 WITA

Rentan Klaster Baru, Masyarakat Mulai Salah Artikan New Normal
Anggota Komisi I DPRD Bali I Nyoman Oka Antara, Senin (14/9). (Foto: Istimewa)

 

DENPASAR, PODIUMNEWS.com – Jumlah kasus positif Covid-19 beberapa hari belakangan terus mengalami peningkatan. Bahkan, klaster baru muncul. Kabar penambahan jumlah kasus positif juga merambah ke DPRD Bali.  

Dikabarkan bahwa sejumlah anggota dewan dan supir serta staff ikut tertular. Akan tetapi, hingga saat ini kabar tersebut belum bisa terkonfirmasi apakah benar tidaknya. Mengingat, Sekretariat DPRD Bali seakan tertutup. 

Hingga Hari Senin (14/9) saja, jumlah kasus positif terkonfirmasi sebanyak 7.312 kasus, sedangkan yang dinyatakan sembuh mencapai 5.782 orang, jumlah meninggal 179 orang. Dengan demikian, yang kasus yang masih aktif sebanyak 1.351. 

Meningkatnya jumlah kasus positif tak lepas dari sikap masyarakat yang menganggap remeh dan mengabaikan protokol kesehatan. Masyarakat dinilai mulai 'meboye'. "Tetap saja masyarakatnya tidak yakin meninggal karena Covid melainkan lebih yakin meninggal karena penyakit bawaan,” kata Anggota Komisi I DPRD Bali I Nyoman Oka Antara, Senin (14/9). 

Menurutnya, pemerintah serta semua pihak harus lebih gencar lagi dalam melakukan sosialisasi. Apalagi di Bali akan ada Hari Raya Galungan dan Kuningan. Tentunya, klaster baru juga kemungkinan akan bertambah melalui transmisi lokal. Misalnya klaster rumah tangga maupun klaster pasar. Lantaran banyak masyarakat akan berbelanja untuk kebutuhan Hari Raya. 

Bukan itu saja, masyarakat menganggap bahwa protokol kesehatan hanya sebatas penggunaan masker. Begitu juga dipasar, pengawasan terhadap kerumunan juga tidak ada. "Kalau adat sudah berjuang maksimal dan kalau di Karangasem selalu melakukan keliling desa menyampaikan himbauan akan bahaya penularan Covid-19,” akunya. 

Selain itu, sejak diterapkan New Normal di Bali, banyak orang yang salah kaprah. Aktivitas masyarakat semakin meningkat, seperti kegiatan upacara adat dengan menghadirkan banyak orang dan kegiatan judi tajen. Inilah, kata dia, semakin yang tidak terkontrol.  

Parahnya lagi, saat upacara pernikahan, banyak orang datang kundangan. Banyak diantara mereka tidak memakai masker dan mengabaikan jaga jarak. Ini juga bisa menularkan virus apalagi diantara mereka ada orang tanpa gejala (OTG) bisa menyebarkan virus leluasa. Disinilah perlunya sosialisasi dan peran desa adat untuk menyampaikan himbauannya dan bisa ditaati dengan sanksi adat setempat. Kalau tidak diawasi oleh desa adat, penularan virus tidak akan pernah bisa terputus.  

"Kalau masyarakat ke pasar tidak pakai masker, biasanya langsung di pulangkan petugas pasar. Kalau upacara adat luput dari pantauan Satgas Covid. Boleh dibilang New Normal kebabalasan dan salah diartikan masyarakat. New Normal diartikan masyarakat sudah bisa bebas melakukan kegiatan tanpa perhatikan prokes," tegasnya. 

Parahnya lagi, terhadap sabungan ayam atau judi tajen yang mulai dibuka. Ini juga bisa menularkan virus pada keluarga. Datang dari arena judi tajen tidak perhatikan protokol kesehatan. Oka Antara juga mengakui, adanya sabungan ayam yang kembali dibuka, semuanya kembali pada perputaran ekonomi dan disana memang ada kehidupan ekonomi. "Disana (arena tajen, red) ada perputaran ekonomi, ada kehidupan yang dirasakan masyarakat sehingga menjadi dilema, tajen bisa jalan tanpa diawasi ketat dan kita tidak turut campur, itu ranahnya kepolisian,” pungkasnya. (RYN/PDN)