Search

Home / Khas / Sosial Budaya

Rawat Tradisi, Pengelipuran Diapresiasi Dunia

Made Suteja   |    28 Oktober 2023    |   19:48:00 WITA

Rawat Tradisi, Pengelipuran Diapresiasi Dunia
Suasana Desa Wisata Penglipuran. (dok/kemenparekraf)

DESA Wisata Pengelipuran kembali meraih apresiasi dari badan dunia berkat keberhasilan mengembangkan pariwisata dengan memberdayakan komunitas masyarakat dan merawat tradisi serta melestarikan warisan lokal.

Desa wisata yang terletak di kawasn Bali Timur, tepatnya Kabupaten Bangli itu meraih penghargaan Best Tourism Village dari Organisasi Pariwisata Dunia di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa, UNWTO (United National World Tourism Organization). Desa tersebut terpilih menjadi salah satu dari 54 UNWTO Best Tourism Villages 2023.

Kelian atau Pengelola Desa Wisata Penglipuran I Wayan Budiarta, didampingi Sekretaris Utama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Ni Wayan Giri Adnyani, menerima piagam secara langsung dari Sekjen UNWTO Zurab Pololikashvili, di Samarkand, Uzbekistan, Kamis (19/10/2023).

“Penghargaan ini menjadi satu motivasi kami, masyarakat Penglipuran, untuk tetap menjaga dan melestarikan tradisi dan budaya. Sehingga, kepariwisataan di Desa Wisata Penglipuran bisa berkelanjutan,” ujar I Wayan Budiarta.

Penglipuran yang berada di kabupaten berhawa sejuk itu berhasil terpilih di antara 260 kandidat dan lebih dari 60 negara yang terdaftar. Selain Desa Penglipuran, ada tiga desa wisata di Indonesia lainnya yang masuk dalam upgrade programme dari inisiatif ini, yaitu Desa Bilebante (NTB), Desa Pela (Kaltim), dan Desa Taro (Bali).

Tiga desa wisata Indonesia tersebut menjadi bagian dari 20 desa bimbingan yang dipersiapkan untuk menjadi Best Tourism Villages UNWTO di periode selanjutnya. Desa-desa tersebut terdaftar di bawah UNWTO Best Tourism Villages Upgrade Programme yang merupakan desa-desa dengan potensi besar dari berbagai penjuru dunia.

Best tourism villages diadakan untuk menjaring desa percontohan yang berhasil mengembangkan pariwisata, dengan memberdayakan komunitas masyarakat setempat, dan melestarikan tradisi serta warisan lokal. Upgrade programme sendiri merupakan program pemberian dukungan dari UNWTO dan mitra kepada desa wisata yang hampir memenuhi kriteria sebagai best tourism villages, namun masih kurang dalam beberapa aspek penilaian.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno menyambut baik penghargaan yang diberikan UNWTO kepada desa-desa wisata di Indonesia. Sebagaimana misi dari Kemenparekraf, yakni untuk kebangkitan berbasis ekonomi yang berkeadilan masyarakat, pihaknya terus mendorong pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan, di mana salah satu turunannya adalah village tourism atau desa wisata.

“Saya sangat optimistis, ini akan menjadi inspirasi bagi desa wisata lainnya di Indonesia untuk mengoptimalkan sumber daya alam, sumber daya manusia, dan warisan budaya yang kita miliki,” ujar Sandiaga.

Mengacu data Kemenparekraf, hingga 2023, sebanyak 190 desa telah menjadi anggota dari Best Tourism Village Network yang harapannya akan menjadi jaringan desa global terbesar. Keberhasilan Desa Nglanggeran pada 2021 dan Desa Penglipuran pada 2023 yang meraih penghargaan Best Tourism Villages merupakan pengakuan internasional terhadap kualitas desa wisata di Indonesia.

Sebelumnya, berkat kebersihan dan kerapiannya, Desa Penglipuran juga berhasil menyabet beberapa penghargaan, di antaranya Kalpataru, Indonesia Sustainable Tourism Award (ISTA) pada 2017, dan destinasi wisata ini masuk dalam Sustainable Destinations Top 100 versi Green Destinations Foundation.

Menjaga Alam dan Tradisi

Beberapa tahun terakhir, Desa Wisata Penglipuran memang menjadi salah satu destinasi wisata populer di Bali. Ketika rangkaian KTT G20 digelar di Indonesia pada 2022, sejumlah delegasi G20 mengunjungi desa ini. Mereka ingin mengetahui tradisi menjaga keseimbangan alam dan tradisi budaya pada masyarakat desa tersebut.

Apa yang menarik di Penglipuran? Ketika pengunjung memasuki desa ini, pengunjung akan menemui deretan tanaman hijau. Semakin ke dalam suasana desa terasa sejuk dan asri dengan pemandangan pagar tanaman yang menghiasi seluruh area desa.

Pengunjung hanya dapat berjalan kaki mengelilingi desa ini. Dilarang menggunakan kendaraan bermotor, hal ini dilakukan untuk menjaga lingkungan Desa Penglipuran agar bebas dari polusi. Membuang sampah sembarangan, dilarang keras. Karena itu di Desa Penglipuran, sudah disediakan tempat sampah setiap 30 meter.

Desa Penglipuran adalah warisan leluhur sejak abad ke-13. Masyarakat desa mempertahankan tradisi nenek moyang mereka yang sudah berusia ratusan tahun. Sejak 1993 pemerintah menjadikan desa adat ini sebagai desa wisata.

Tata ruang desa terdiri tiga bagian yang berjejer dari utara ke selatan, disebut dengan Tri Mandala, yakni Utama Mandala, Madya Mandala, dan Nista Mandala. Utama Mandala terletak pada posisi paling tinggi di utara. Terdapat dua pura, yaitu Pura Penataran dan Pura Puseh yang terletak berdampingan. Di sinilah tempat masyarakat desa beribadah. Di kawasan ini juga ada hutan bambu yang begitu bersih dan asri.

Sementara Madya Mandala adalah tempat pemukiman penduduk yang terdiri dari 78 pintu (angkul). Setiap angkul dihuni oleh satu klan. Masing-masing angkul jumlah kepala keluarganya bervariasi. Secara keseluruhan, terangnya, terdapat 245 KK dengan jumlah penduduk 1.100 orang lebih. Terakhir adalah Nista Mandala. Terletak paling selatan yang juga menjadi lokasi pemakaman penduduk.

Selain tata ruang, bangunan di desa itu juga memiliki keunikan tersendiri. Terdapat sejumlah bangunan dengan klasik, yakni angkul-angkul atau dalam Bahasa Indonesia disebut dengan pintu gerbang. Seperti dilansir dari laman penglipuran.net, angkul ini dibuat serupa antara satu pintu gerbang dengan pintu gerbang lainnya.

Menurut I Wayan Budiarta, keindahan alam Penglipuran yang menjadikannya sebagai destinasi wisata hanyalah sebuah bonus. Baginya, yang paling utama adalah tingginya kesadaran warga melestarikan budaya warisan leluhur. Atraksi budaya, kuliner maupun festival Penglipuran yang digelar setiap tahun melibatkan seluruh warga desa tak terkecuali.

Dalam kesehariannya, mereka menerapkan konsep Tri Hita Karana yang menitikberatkan pada hubungan harmonis antarmanusia, lingkungan alam, serta Sang Pencipta. (riki/sut)

 

 


Baca juga: Kisah Mistis Pelinggih Mobil di Desa Sangket