Podiumnews.com / Kolom / Opini

Merawat Bali Lewat Narasi Harapan

Oleh Nyoman Sukadana • 23 Desember 2025 • 22:02:00 WITA

Merawat Bali Lewat Narasi Harapan
Menot Sukadana (dok/pribadi)

WAJAH Bali hari ini seolah sedang bercermin pada paradoks antara kemasyhuran nama dan realitas yang kian menyesakkan. Di satu sisi, layar digital kita terus dibombardir oleh potret kemacetan yang mengular, pesisir yang tercekik limbah plastik, hingga banjir yang sesekali melumpuhkan nadi kehidupan.

Namun, di balik riuhnya kritik yang viral tersebut, sesungguhnya masih terdapat denyut nadi yang konsisten berdetak melalui ketangguhan masyarakat adat serta semangat inovasi kaum muda lokal yang berupaya memulihkan martabat rumah mereka.

Dalam situasi yang penuh ketidakpastian inilah, jurnalisme optimis hadir bukan sekadar sebagai pemberi kabar, melainkan sebagai kompas moral bagi publik guna merawat Bali melalui narasi yang menyalakan kembali api harapan.

Akar Jurnalisme Pemulihan

Jurnalisme optimis bukanlah sebuah upaya naif untuk menutup mata terhadap kenyataan pahit atau sekadar menyajikan berita manis yang menghibur hati. Akar teorinya di Indonesia berkelindan erat dengan pemikiran Ashadi Siregar yang mengkristalkannya saat merespons tragedi gempa Yogyakarta pada tahun 2006.

Pada masa itu, ia melihat kecenderungan media yang terjebak dalam penghitungan angka kematian secara dingin. Sebagai antitesis, Ashadi mempromosikan jurnalisme yang mampu menangkap roh kebangkitan masyarakat serta menonjolkan bagaimana warga bergotong-royong memulihkan keadaan tanpa harus menunggu komando.

Secara global, gerakan ini dimotori oleh pengembangan Solutions Journalism yang disebarkan oleh tokoh-tokoh seperti David Bornstein, Tina Rosenberg, dan Courtney Martin melalui Solutions Journalism Network yang didirikan pada tahun 2013. Mereka menekankan bahwa laporan berita harus memiliki ketajaman yang sama dalam membedah respons terhadap masalah sebagaimana ia membedah masalah itu sendiri.

Selain itu, Cathrine Gyldensted juga dikenal sebagai pelopor jurnalisme konstruktif yang menerapkan prinsip psikologi positif dalam pelaporan berita untuk menghindari efek keputusasaan publik.

Bali sesungguhnya tidak sendirian dalam menghadapi dilema antara kemajuan pariwisata massal dan degradasi lingkungan. Kota kanal Venesia di Italia telah lebih dulu mengalami serangan sentimen negatif yang melabelinya sebagai kota mati.

Namun, narasi media di sana perlahan bergeser dari sekadar meratapi fenomena banjir menjadi pendokumentasian proyek sistem gerbang air yang ambisius serta gerakan pembersihan lingkungan yang inovatif.

Transformasi narasi ini terbukti berhasil mengubah persepsi dunia dari sebuah kota yang hampir tenggelam menjadi kota yang sedang berjuang keras untuk beradaptasi secara bertanggung jawab melalui tindakan nyata.

Inovasi di Tengah Krisis

Tentu saja kita tidak boleh menafikan bahwa Bali sedang menghadapi tantangan sistemik yang sangat nyata dan mendesak. Penurunan kunjungan wisatawan pada akhir tahun 2025 merupakan sebuah sinyal peringatan bahwa kenyamanan publik sedang berada dalam titik nadir. Permasalahan penutupan tempat pembuangan akhir, kepadatan kendaraan, hingga bencana ekologis akibat alih fungsi lahan adalah luka-luking yang menganga di balik paras cantik pulau ini.

Konten negatif yang viral di media sosial sesungguhnya adalah alarm yang mengingatkan bahwa ada penyakit dalam yang harus segera dibenahi. Namun, membiarkan diri larut dalam pesimisme kolektif tanpa arah justru hanya akan mempercepat keruntuhan pariwisata kita secara perlahan.

Jurnalisme optimis mengajak kita semua untuk melihat dengan jeli apa yang sesungguhnya sedang bekerja di tengah badai krisis. Di balik berita mengenai kemacetan, terdapat fakta mengenai dimulainya pembangunan sistem transportasi massal berbasis rel sebagai solusi jangka panjang yang harus dikawal secara kritis.

Di sektor lingkungan, kita menyaksikan tumbuhnya ribuan unit pengelolaan sampah mandiri berbasis desa yang diperkuat oleh aturan adat. Banyak komunitas muda di wilayah Gianyar hingga Tabanan yang kini mulai mengembangkan pertanian regeneratif sebagai benteng pertahanan untuk membendung laju beton.

Jurnalisme harapan bertugas menempatkan para pelaku perubahan ini sebagai tokoh utama dalam narasi agar publik menyadari bahwa upaya perbaikan sedang berlangsung.

Merajut Kembali Taksu Bali

Dalam konteks kekinian di Bali, jurnalisme optimis berfungsi sebagai perekat sosial yang mampu menggerakkan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat. Ketika media hanya melaporkan sepinya pariwisata sebagai laporan yang melumpuhkan, maka yang akan timbul adalah rasa putus asa.

Sebaliknya, ketika media mengangkat kisah bagaimana para pelaku usaha lokal mulai menerapkan sertifikasi hijau demi menjawab tantangan global, maka yang muncul adalah semangat kolektif untuk bergerak.

Optimisme ini bukanlah bentuk pemakluman terhadap kelalaian, melainkan cara menagih akuntabilitas dengan menyodorkan bukti keberhasilan kecil yang layak didukung oleh kebijakan besar, seperti moratorium pembangunan vila di zona hijau guna menyelamatkan identitas asli pulau.

Pada akhirnya, Bali adalah sebuah organisme hidup yang memiliki kemampuan alamiah untuk menyembuhkan dirinya sendiri layaknya tubuh manusia yang sedang memulihkan kesehatan. Segala tantangan lingkungan dan sosial yang kita hadapi hari ini merupakan ujian berat bagi ketahanan budaya atau yang secara mendalam sering disebut sebagai Taksu.

Selama masih ada warga yang memiliki kepedulian tulus dan selama inovasi terus lahir dari rahim kegelisahan, maka Bali tidak akan pernah benar-benar sepi. Kita membutuhkan lebih banyak penutur cerita yang berani menggali pelajaran dari krisis ini untuk membangun masa depan yang lebih baik.

Percaya bahwa di setiap kerumitan masalah selalu tersedia fondasi untuk membangun kebangkitan yang berkelanjutan merupakan esensi paling mendasar dari upaya merawat Bali lewat narasi harapan. (*)

Menot Sukadana (Jurnalis dan  penggagas Podium Ecosystem: Media, Consulting, Lifestyle & Community)