Impotensi sebagai Matinya Potensi
KITA sering mendengar kata impotensi dengan nada setengah berbisik. Ia diasosiasikan dengan gangguan fungsi seksual pria, sesuatu yang medis, biologis, bahkan memalukan. Kata itu terasa sempit, tubuh sekali, seolah-olah hanya menyangkut organ dan hormon.
Padahal, jika kita kembali pada akar katanya, maknanya jauh lebih luas. Dalam bahasa Inggris, impotence berasal dari bahasa Latin impotentia. Awalan im- berarti tidak, sementara potentia berarti daya, kemampuan, kuasa. Secara harfiah, impotensi berarti ketiadaan daya, ketidakmampuan untuk berkuasa atas kemungkinan diri sendiri.
Dalam pengertian ini, impotensi tidak berhenti pada tubuh. Ia menyentuh sesuatu yang lebih dalam, potensi.
Bagaimana jika impotensi kita pahami sebagai matinya potensi? Bukan ketidakmampuan organ untuk berfungsi, melainkan ketidakmampuan seseorang untuk menjadi dirinya sendiri. Bukan gangguan biologis, tetapi gangguan eksistensial.
Di negeri ini, impotensi semacam itu terasa begitu akrab. Kita tumbuh dalam masyarakat yang sangat menghargai stabilitas. Stabilitas pekerjaan, stabilitas ekonomi, stabilitas status sosial. Kata-kata seperti aman, mapan, dan pensiun terjamin lebih sering dipakai dalam percakapan keluarga ketimbang kata bahagia, merdeka, atau bermakna.
Di ruang-ruang makan, keputusan hidup sering tidak dibicarakan sebagai panggilan jiwa, melainkan sebagai strategi bertahan. Anak yang pandai menggambar diarahkan menjadi arsitek, bukan pelukis. Anak yang suka menulis diminta masuk fakultas hukum. Anak yang suaranya merdu didorong menjadi pegawai negeri. Semua dengan alasan yang terdengar masuk akal, masa depan.
Sejak awal, potensi sudah dinegosiasikan dengan ketakutan. Kita bisa membayangkan seorang ASN yang sejak kecil gemar menyanyi. Suaranya merdu, jiwanya hidup setiap kali berada di atas panggung. Namun orang tuanya lebih senang melihat ia berseragam rapi, bekerja di kantor pemerintahan, menerima gaji tetap setiap bulan. Ia pun menurut. Ia lulus seleksi, diangkat menjadi pegawai, bekerja puluhan tahun.
Ia tetap menyanyi, tetapi hanya di sela-sela. Di acara keluarga. Di perayaan kantor. Di media sosial. Bakatnya tidak mati sepenuhnya, tetapi tidak pernah benar-benar hidup. Ia menjadi penyanyi paruh waktu bagi jiwanya sendiri.
Atau seorang dokter yang gemar melukis sejak lama. Sejak kecil ia akrab dengan kanvas dan cat minyak. Lukisan-lukisannya indah, bahkan mungkin melampaui kualitas pelukis yang sudah lebih dulu dikenal. Namun keluarga melihat profesi dokter sebagai simbol kehormatan dan jaminan ekonomi. Ia pun menempuh pendidikan kedokteran, menjalani koas, membuka praktik.
Ia menjadi dokter yang baik. Profesional. Dihormati. Tetapi setiap kali memegang kuas, ada rasa yang berbeda, rasa yang lebih utuh. Andaikan sejak muda ia dibiarkan menjadi pelukis, mungkin ia akan hidup dengan cara yang lebih selaras dengan dirinya sendiri.
Di titik ini, persoalannya bukan lagi sekadar pilihan karier. Yang dipertaruhkan adalah daya untuk menjadi.
Giorgio Agamben, filsuf kontemporer asal Italia yang banyak membahas soal kekuasaan dan kondisi manusia modern, menyebut manusia sebagai makhluk potensial. Menurutnya, manusia tidak hanya ditentukan oleh apa yang ia aktualkan, tetapi juga oleh apa yang ia bisa lakukan dan bahkan apa yang ia pilih untuk tidak lakukan. Potensi bukan sekadar kemampuan untuk menjadi sesuatu, tetapi juga kemampuan untuk menahan diri dari menjadi sesuatu yang lain.
Di situlah kebebasan bersemayam. Manusia yang memiliki potensi bukanlah manusia yang segera mengaktualkan semua kemampuannya, melainkan manusia yang sadar bahwa ia mempunyai kemungkinan-kemungkinan, dan bebas memilih di antara kemungkinan itu. Potensi selalu mengandung ruang, jarak, dan kesempatan untuk berkata tidak.
Masalahnya, masyarakat modern justru tidak sabar terhadap potensi. Ia menuntut aktualisasi secepat mungkin. Anak harus segera menentukan jurusan. Lulusan harus segera bekerja. Setiap kemampuan harus segera menghasilkan. Potensi yang tidak segera menjadi produktif dianggap sia-sia.
Di sinilah tragedi itu terjadi. Kita memaksa aktualisasi, tetapi justru membunuh potensi. Kita mengarahkan anak menjadi sesuatu yang dianggap aman dan berguna, tetapi menutup kemungkinan-kemungkinan lain yang mungkin lebih otentik bagi dirinya.
Dalam arti inilah impotensi sosial bekerja. Bukan karena seseorang tidak memiliki kemampuan, melainkan karena kemampuannya tidak pernah diberi ruang untuk tumbuh. Potensi dipadatkan menjadi fungsi. Kemungkinan dipersempit menjadi satu jalur. Daya dikurung oleh rasa takut.
Dan ketika daya itu terlalu lama dikurung, ia melemah. Bukan karena tidak ada, tetapi karena tidak pernah dipercaya.
Barangkali kita semua pernah berada di titik itu. Titik ketika kita tahu ada sesuatu dalam diri yang ingin tumbuh, tetapi kita sendiri ragu memberi ruang. Kita menundanya. Kita menegosiasikannya. Kita menghiburnya dengan alasan-alasan rasional. Nanti saja. Setelah mapan. Setelah aman. Setelah pensiun.
Padahal potensi tidak selalu menunggu. Ia bisa berubah menjadi penyesalan yang samar. Menjadi iri yang tak diakui ketika melihat orang lain berani menempuh jalan yang dulu ingin kita pilih. Menjadi lelah yang tidak sepenuhnya bisa dijelaskan, karena yang lelah bukan hanya tubuh, melainkan bagian diri yang lama ditekan.
Kita hidup, bekerja, menjalani rutinitas. Dari luar, semuanya tampak baik-baik saja. Namun di dalam, ada kemungkinan yang tak pernah diberi kesempatan menjadi nyata.
Jika impotensi kita maknai sebagai ketiadaan daya, maka barangkali persoalan terbesar kita bukan kekurangan bakat, melainkan kekurangan keberanian untuk menjaga potensi tetap hidup. Kita terlalu cepat mengubah potensi menjadi fungsi. Terlalu cepat mengorbankan kemungkinan demi kepastian.
Negeri ini mungkin tidak kekurangan orang pintar. Tidak kekurangan sarjana, pejabat, profesional. Tetapi bisa jadi kita kekurangan manusia yang benar-benar hidup dari potensi terdalamnya.
Dan mungkin pertanyaannya kini menjadi sangat pribadi. Apakah kita sedang hidup sebagai diri yang kita pilih, atau sebagai diri yang dipilihkan?
Jika jawabannya yang kedua, maka impotensi itu bukan lagi istilah medis. Ia adalah kenyataan eksistensial. Sebuah keadaan ketika potensi perlahan mati, bukan karena tidak ada, tetapi karena terlalu lama disangkal.
Menjaga potensi tetap hidup memang tidak selalu menjanjikan kenyamanan. Ia mengandung risiko, ketidakpastian, bahkan kemungkinan gagal. Tetapi tanpa keberanian untuk merawat kemungkinan, kita hanya akan menjadi manusia-manusia yang berfungsi, tanpa benar-benar berdaya.
Dan barangkali, yang paling menyakitkan bukanlah gagal menjadi sesuatu, melainkan tidak pernah mencoba menjadi diri sendiri. (*)
Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.