Berkawan dengan AI, Menjadi Pembelajar Sejati
PERCAKAPAN saya dengan Nanoq da Kansas bermula dari obrolan ringan di WhatsApp. Tidak ada rencana menulis esai. Tidak ada niat mengangkat isu besar tentang teknologi atau masa depan seni. Ia hanya bercerita, dengan bahasa yang lugas dan jujur, tentang caranya belajar musik beberapa tahun terakhir dengan bantuan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) Dari obrolan yang tampak sepele itu, saya justru menemukan satu pelajaran penting tentang sikap seorang seniman dalam menghadapi perubahan zaman.
Nanoq adalah seniman dan budayawan asal Jembrana, Bali. Dalam beberapa tahun terakhir, ia gemar membuat lagu dan komposisi musik dengan bantuan AI. Namun sejak awal ia menegaskan satu hal penting. Ia tidak meminta AI membuatkan lagu. Ia tidak menyerahkan proses kreatifnya kepada mesin. Yang ia lakukan hanyalah ngobrol dan berdiskusi. Bertanya tentang kemungkinan akor, struktur lagu, atau sekadar memantulkan ide. Setelah itu, ia sendiri yang menulis, menyanyikan, dan merekam lagu tersebut, atau membiarkannya dinyanyikan oleh murid-muridnya. AI hanya menjadi teman belajar, bukan pengganti kerja kreatif.
Ia menulis kepada saya bahwa ia tidak pintar, tetapi ia belajar dengan cara berkawan dengan AI. Kalimat itu terdengar sederhana, bahkan merendah. Namun justru di situlah letak kedalamannya. Ia tidak memposisikan diri sebagai korban kemajuan teknologi, juga tidak berlagak sebagai pionir yang paling maju. Ia hanya seorang pembelajar yang sadar bahwa dunia terus bergerak, dan satu-satunya cara untuk tidak tertinggal adalah dengan tetap belajar.
Di tengah banyak seniman yang merasa tersaingi, terancam, bahkan terpinggirkan oleh kehadiran AI, sikap Nanoq terasa seperti antitesis. Ia tidak sibuk menolak teknologi dengan alasan idealisme. Ia juga tidak sibuk memamerkan kecanggihan. Ia memilih jalan tengah yang barangkali paling sulit, yakni membuka diri tanpa kehilangan kendali atas proses kreatifnya.
Penolakan terhadap AI di kalangan seniman sering disertai tuduhan yang terdengar keras. Salah satu yang paling sering muncul adalah tudingan plagiarisme. Karya yang dibuat dengan bantuan AI kerap dianggap tidak sah, tidak orisinal, bahkan dicap sebagai hasil penjiplakan massal. Tuduhan ini terdengar serius, tetapi sering kali dilontarkan tanpa pemahaman yang jernih tentang apa itu plagiarisme sesungguhnya.
Plagiarisme bukan soal alat. Plagiarisme adalah tindakan mengambil karya, gagasan, atau ekspresi orang lain dan mengakuinya sebagai milik sendiri tanpa pengakuan yang layak. Intinya ada pada niat dan tindakan manusia, bukan pada medium yang digunakan. Seseorang bisa melakukan plagiarisme dengan mesin ketik, dengan laptop, dengan kamera, bahkan dengan ingatan. AI tidak menghapus atau menciptakan niat plagiarisme. Ia hanya alat yang bekerja berdasarkan perintah.
Jika seseorang menggunakan AI untuk menyalin mentah-mentah puisi orang lain, lalu mengklaimnya sebagai karya sendiri, itu jelas plagiarisme. Namun jika seseorang berdiskusi dengan AI, mengolah gagasan, menulis ulang dengan pengalaman dan bahasanya sendiri, lalu menghasilkan karya yang memiliki jejak personal yang kuat, tuduhan plagiarisme menjadi tidak relevan. Sama seperti seorang pelukis yang belajar dari museum, atau penulis yang tumbuh dari membaca ratusan buku.
Kita sering lupa bahwa seni sejak lama hidup dari dialog. Tidak ada karya yang lahir dari ruang hampa. Semua seniman adalah pembaca, pendengar, dan pengamat. Puisi yang kita anggap orisinal pun berdiri di atas bahasa yang sudah digunakan jutaan orang sebelum kita. Novel yang kita puji sebagai jenius pun dibangun dari struktur cerita yang telah diwariskan berabad-abad. Orisinalitas bukan berarti menciptakan dari nol, melainkan memberi tafsir personal atas warisan bersama.
AI, dalam konteks ini, tidak jauh berbeda dari perpustakaan raksasa. Ia menyimpan pola, kemungkinan, dan pengetahuan yang telah ada. Yang membedakan hanyalah kecepatan dan cara aksesnya. Namun tetap manusialah yang menentukan arah, memilih mana yang dipakai, mana yang dibuang, dan bagaimana semuanya dirangkai menjadi sesuatu yang bernama karya.
Ketakutan terhadap plagiarisme sering kali menyembunyikan kegelisahan lain, yakni kecemasan akan kehilangan otoritas. Ketika teknologi membuat proses belajar lebih cepat dan akses pengetahuan lebih luas, batas-batas lama menjadi goyah. Mereka yang selama ini merasa aman dengan jarak pengetahuan yang eksklusif mulai merasa terancam. Dalam situasi seperti itu, tuduhan plagiarisme menjadi senjata moral yang mudah digunakan.
Padahal, persoalan etika dalam berkarya tidak pernah sederhana. Ia tidak bisa diselesaikan hanya dengan melarang alat. Yang dibutuhkan adalah kesadaran dan kejujuran. Seorang seniman yang jujur tidak akan bersembunyi di balik AI. Ia tahu kapan AI membantu, dan kapan ia harus berdiri sendiri. Ia tidak menipu pembaca atau pendengar dengan klaim palsu tentang proses kreatifnya.
Saya sendiri berkawan dengan AI dalam menulis. Saya berdiskusi, menguji gagasan, dan memeriksa alur berpikir. Dalam banyak hal, AI membantu merapikan pikiran yang semrawut. Namun saya tetap menulis dengan pengalaman, luka, dan kegelisahan saya sendiri. Tidak ada AI yang bisa menggantikan ingatan masa kecil, rasa kehilangan, atau kelelahan hidup yang membentuk suara batin seorang penulis.
Namun saya juga tidak menutup mata pada risiko. Ketika produktivitas menjadi tujuan utama, menulis bisa kehilangan kedalaman. Teks menjadi rapi, tetapi kosong. Di titik ini, masalahnya bukan plagiarisme, melainkan keterasingan. Keterasingan penulis dari pengalamannya sendiri. AI hanya mempercepat sesuatu yang sudah rapuh sejak awal.
Percakapan saya dengan Nanoq kemudian bergerak ke wilayah yang lebih getir, yakni soal hidup seniman. Soal ekonomi. Ia bercerita bahwa suatu hari ia menjual ayam-ayamnya secara obral karena kebutuhan dapur yang mendesak. Di media sosial, orang mungkin melihat hidup yang tampak baik-baik saja. Padahal kenyataannya jauh lebih rapuh. Di sinilah kita kembali dihadapkan pada realitas bahwa seni di negeri ini masih sulit menjadi sandaran hidup.
Dalam situasi seperti itu, memperdebatkan kemurnian proses tanpa memikirkan keberlangsungan hidup terasa seperti kemewahan. Ketika perut lapar, perdebatan tentang alat sering kehilangan konteks. Teknologi, termasuk AI, mungkin tidak menyelesaikan persoalan struktural yang dihadapi seniman. Namun ia bisa menjadi alat bantu untuk bertahan, belajar, dan membuka kemungkinan baru.
Berkawan dengan AI bukan soal mengikuti tren atau mengejar sensasi. Ia adalah sikap mental. Sikap untuk tetap rendah hati sebagai pembelajar. Sikap untuk tidak merasa paling murni, paling sah, atau paling berhak menghakimi cara orang lain berkarya. Plagiarisme tetap harus ditolak, tetapi jangan dijadikan tameng untuk menutup diri dari perubahan.
Seni tidak akan mati karena AI. Yang bisa mematikan seni justru adalah ketakutan, kesombongan, dan keengganan untuk belajar. Fleksibilitas seniman adalah kunci untuk bertahan, baik secara ekonomi maupun secara batin. Di tengah dunia yang terus berubah, menjadi pembelajar sejati mungkin adalah satu-satunya bentuk kesetiaan paling jujur pada seni itu sendiri. (*)
Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.