Podiumnews.com / Khas / Sosok

Ketika Seniman Menolak Matang

Oleh Nyoman Sukadana • 10 Januari 2026 • 17:58:00 WITA

Ketika Seniman Menolak Matang
Romi Sukadana bersama kurator dan rekan seniman saat pembukaan pameran Divergent Mind di Grya Santrian Gallery, Sanur, Jumat (9/1/2026).

SEORANG seniman kerap dianggap matang ketika gaya visualnya menetap, konsisten, dan mudah dikenali. Kematangan dipahami sebagai garis lurus yang akhirnya berhenti pada satu titik. Namun pandangan itu justru ditantang oleh perjalanan artistik I Made Sukadana, atau yang dikenal dengan nama Romi Sukadana.

Jumat (9/1/2026), Romi mempersembahkan perjalanan kreatifnya melalui pameran bertajuk Divergent Mind di Grya Santrian Gallery. Sebanyak 24 karya dari rentang waktu 2011 hingga 2026 dipamerkan bukan sebagai arsip gaya yang mapan, melainkan sebagai jejak pikiran yang bergerak, melompat, dan berubah.

Pameran ini membuka cara pandang terhadap Romi bukan hanya sebagai pelukis, tetapi sebagai individu yang terus berdialog dengan dirinya sendiri. Bagi Romi, seni tidak lahir dari rencana rasional yang sepenuhnya terkendali. Proses kreatif justru tumbuh dari dialog spontan antara pengalaman hidup, intuisi, dan medium.

Pada titik inilah berpikir divergen hadir bukan sekadar strategi intelektual, melainkan pengalaman tubuh dan kesadaran. Karya lahir dari gejolak batin, bukan dari keinginan untuk setia pada satu gaya atau identitas visual tertentu.

“Tujuan saya menggelar pameran ini adalah pengakuan terhadap diri saya sendiri,” ujar Romi saat pembukaan pameran, Jumat (9/1/2026). Ia memandang seniman memiliki otoritas penuh terhadap karya yang dihasilkannya, tanpa harus terikat oleh apa yang pernah ia lakukan sebelumnya. Eksperimen dengan teknik dan medium baru baginya bukan penyimpangan, melainkan bagian dari kejujuran berkesenian.

Pandangan itu tercermin jelas dalam karya-karyanya. Tidak ada linieritas tema. Tidak ada pola visual yang sengaja diulang. Satu karya bisa berangkat dari lanskap alam, sementara karya lain meminjam ikon global seperti Monalisa. Pemandangan yang tampak real tidak disajikan secara realis. Bali hadir bukan sebagai eksotika klise, tetapi sebagai ruang tafsir yang terus bergerak.

Perubahan itu, menurut Romi, mengalir secara alami. Ia tidak memaksakan kesinambungan gaya. Setiap karya berdiri sebagai pengalaman yang berbeda. Dalam konteks inilah istilah Divergent Mind menemukan maknanya. Berpikir menyimpang bukan berarti kehilangan arah, melainkan keberanian untuk tidak terjebak dalam satu jalur.

Kurator pameran, I Made Susanta Dwitanaya, memandang Divergent Mind sebagai proses kreatif yang berakar pada psikologi kreativitas. Ia menjelaskan bahwa berpikir divergen ditandai oleh keberlimpahan ide, kelenturan berpindah gaya dan tema, keberanian menjadi berbeda, serta kemampuan mengembangkan gagasan secara berlapis.

Dalam sosok Romi Sukadana, ciri-ciri itu hadir secara alami. Perjalanan berkaryanya tidak bergerak lurus menuju satu bentuk kematangan visual, tetapi menyebar ke berbagai kemungkinan. Justru di sanalah letak kejujurannya sebagai seniman.

Pengalaman berpameran di berbagai negara seperti Jerman, Malaysia, Singapura, dan Korea Selatan turut membentuk cara pandangnya. Pameran ketujuh yang digelar di Bali ini menjadi ruang pulang, tempat ia menengok kembali perjalanan pikiran yang terus bergerak dan belum ingin selesai.

Divergent Mind pada akhirnya bukan hanya tentang karya seni, tetapi tentang sosok. Tentang keberanian seorang seniman untuk menolak selesai. Tentang kesadaran bahwa matang tidak selalu berarti menetap, dan bahwa menyimpang kadang justru menjadi cara paling jujur untuk tetap hidup dalam seni.

(tika/sukadana)