Arsitek Gede Adi Pawitra: Menjaga Bali Lewat Komitmen
DENPASAR, PODIUMNEWS.com - Seorang arsitek tidak sekadar merancang bangunan, estetika, atau koordinasi teknis semata. Lebih dari itu, mereka memikul tanggung jawab moral, komitmen, dan hukum atas setiap garis desain yang mereka torehkan.
Menjadi arsitek di Bali membawa tantangan yang jauh berbeda. Terlebih bagi seorang Nak Bali (putra daerah), tanggung jawab tersebut berkelindan dengan janji menjaga keseimbangan antara manusia, Tuhan, dan alam semesta.
Pemerhati pembangunan sekaligus Direktur PT Maha Widya Konsultan, Ir I Gede Adi Pawitra ST MT mencermati bahwa pembangunan sering kali disalahartikan sebagai sekadar deretan beton masif, gedung pencakar langit, dan modernisasi fisik yang dingin.
Pembangunan Bukan Sekadar Fisik
Bagi Adi Pawitra, pembangunan di Bali memiliki dimensi yang jauh lebih dalam. Pulau Dewata bukan sekadar garis koordinat wilayah; ia adalah ruang hidup bagi budaya, seni, tradisi spiritual, dan ekologi yang saling berkelindan.
"Di sinilah integritas seorang arsitek diuji. Arsitektur memiliki peran krusial dalam menjaga Bali. Kita tidak hanya membangun raga (fisik), tetapi juga harus memastikan 'ruh' Bali tetap hidup dan berkelanjutan," ujarnya, Sabtu (14/2/2026) di Denpasar.
Filosofi Tri Hita Karana—keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam—harus menjadi kompas utama bagi setiap arsitek dalam berkarya.
Menjawab Tantangan Modernitas
Di tengah gempuran era digital dan pesatnya pertumbuhan pariwisata, tantangan arsitektur kian kompleks. Kebutuhan akan ruang fungsional yang estetis dan ramah lingkungan harus mampu bersandingan dengan wajah Bali yang kental akan tradisi.
Menurut Adi Pawitra, seorang arsitek wajib memiliki perencanaan yang matang dan terukur dengan berpijak pada regulasi tata ruang yang berlaku. Aspek-aspek seperti:
Pemetaan lahan yang presisi.
Kapasitas infrastruktur yang memadai. Daya dukung lingkungan yang diperhitungkan secara cermat.
Selain aturan formal, ia juga menekankan pentingnya menghormati kearifan lokal yang tidak tertulis, terutama saat bersinggungan dengan kawasan suci atau wilayah yang disakralkan (pingit).
Komitmen untuk Masa Depan
Penerapan desain yang bijak memastikan pembangunan tidak merusak tatanan sosial, budaya, dan lingkungan. Bagaimanapun, warisan leluhur inilah yang menjadi daya tarik utama pariwisata—napas ekonomi masyarakat Bali.
"Sebagai pelaku industri konstruksi di Bali, fokus kami bukan sekadar desain yang indah. Ini adalah tentang komitmen untuk membangun tanpa merusak, berkembang tanpa melupakan akar budaya, dan maju tanpa kehilangan arah. Tujuannya satu: agar Bali tetap bisa dinikmati oleh anak cucu kita kelak," pungkas Gede Adi Pawitra.
(sukadana)