Di Balik Toga Uceng: Air Mata untuk Ayah dan Janji yang Lunas
BALAI Senat Universitas Gadjah Mada (UGM) siang itu, Kamis (15/1/2025), sesak oleh manusia. Wangi bunga papan ucapan selamat menyeruak di selasar, sementara di dalam ruangan, suasana pengukuhan Guru Besar yang biasanya kaku dan formal mendadak berubah menjadi panggung emosi yang menggetarkan. Di atas mimbar, berdiri seorang lelaki yang selama ini dikenal publik memiliki artikulasi tajam, argumen hukum yang dingin, dan keberanian yang kerap membuat kuping penguasa memerah.
Zainal Arifin Mochtar, atau yang akrab disapa Uceng, sedang berada di puncak karier akademiknya. Namun, saat sampai pada baris-baris penutup pidatonya, suara yang biasanya lugas itu bergetar. Kalimatnya terhenti sejenak. Uceng menyeka air matanya. Di balik toga kebesaran yang ia kenakan, tersimpan sebuah beban emosional yang telah ia panggul bertahun-tahun: sebuah janji kepada sang ayahanda yang telah berpulang.
Warisan di Bawah Atap Seng
Perjalanan Uceng menuju gelar profesor bukanlah sebuah garis lurus yang mulus. Ia mengaku tahun 2017 merupakan masa paling sedih dalam hidupnya, ketika sang ayah meninggal dunia. Bagi Uceng, pencapaian ini bukanlah batu yang tiba-tiba jatuh dari langit, meminjam istilah Pramoedya Ananta Toer. Gelar ini adalah muara dari sebuah proses panjang yang dimulai dari sebuah rumah mungil beratapkan seng di Makassar, tak jauh dari Stadion Mattoangin.
Di rumah itulah, di bawah atap seng yang sering berderu saat hujan, ia dan keluarganya berbagi kisah. "Di bawah atap seng rumah itulah, saya dan keluarga berbagi kisah, kegembiraan, serta kesedihan dalam satu ikatan darah," kenangnya. Sang ayah bukan hanya sekadar orang tua, melainkan mentor pertama yang menanamkan kecintaan pada literasi.
Janji itu ia pikul sejak ayahnya tiada. "Pertama, mengurus dan merawat ribuan buku peninggalan sang ayah, yang kini telah saya tunaikan. Kedua, menuntaskan perjalanan akademik hingga meraih gelar guru besar," ungkapnya dengan suara parau. Saat ia berdiri di podium itu, janji kedua itu resmi lunas. Tangis itu adalah simbol bakti seorang anak yang akhirnya berhasil membayar hutang kehormatan kepada orang tuanya.
Intelektual Organik dan Dirty Vote
Meski upacara tersebut penuh haru, Uceng tetap menunjukkan ketajamannya sebagai pemikir hukum tata negara. Ia menegaskan bahwa menjadi profesor, baginya, relatif hanya persoalan administratif. Hal yang jauh lebih berat adalah sikap, tanggung jawab intelektual, dan keberpihakan pada kepentingan publik.
"Tanggung jawab kita kelak akan ditagih. Dari sanalah akan ditentukan Indonesia akan menjadi seperti apa, suatu saat kelak," tegas Uceng. Ia berharap para profesor dapat menjadi intelektual organik, yang mampu memberdayakan masyarakat di tengah situasi pembodohan dan pembiaran yang kian terasa sistematis.
Implementasi nyata dari sikap ini terlihat dalam keterlibatannya pada film dokumenter Dirty Vote. Uceng memilih untuk tidak diam di zona nyaman akademisi. Melalui film tersebut, ia membedah data dan fakta desain kecurangan pemilu, mempertegas posisinya sebagai intelektual yang bersuara lantang. Ia menutup pidatonya dengan refleksi mendalam, "Karena kepada-Nya kita meminta dan kepada-Nya kita semua berserah diri."
Kesaksian Para Sahabat
Keunikan lain dari pengukuhan ini adalah hadirnya tokoh-tokoh yang seringkali memiliki posisi politik berseberangan, namun dipersatukan oleh rasa hormat pada integritas Uceng. Ganjar Pranowo yang hadir di lokasi memberikan apresiasi atas ruang gerak Uceng sebagai profesor maupun aktivis. "Mudah-mudahan amanah ini akan terus terbawa menjadi sikap intelektual yang organik," pesan Ganjar.
Jusuf Kalla pun turut mengungkap harapan agar pemikiran Uceng bermanfaat bagi demokrasi Indonesia. "Ini negara demokrasi, masyarakat kepada wakil itu tentu diharapkan memberikan suatu kritikan apabila dibutuhkan," jelas JK.
Bahkan sosok Eddy O.S. Hiariej, yang oleh Uceng dijuluki sebagai saudara sekaligus musuh debat, hadir dengan rasa bangga. "Saya yakin bahwa gelar guru besar yang dimiliki oleh Prof. Uceng itu akan barokah untuk kemajuan pengetahuan hukum dan untuk pembangunan sistem hukum di negara kita," ucap Eddy.
Pelukan Terakhir di Mimbar
Puncak keharuan terjadi usai prosesi seremonial berakhir. Saat turun dari mimbar, Uceng langsung menghambur ke pelukan ibunda tercinta, Hj. Zaitun Abbas. Dalam dekapan sang ibu, tangis Uceng pecah. Ia merefleksikan perjalanan hidupnya yang penuh jatuh dan bangun sebagai bagian dari proses panjang yang ditempuh.
Bagi banyak orang, hari itu adalah pengukuhan seorang Guru Besar baru bagi UGM. Namun bagi Uceng, hari itu adalah tentang kepulangan kepada nilai-nilai luhur yang ditanamkan sejak dini. Toga yang ia kenakan memang simbol otoritas akademik, namun air mata yang ia teteskan adalah simbol cinta yang tak pernah padam pada keluarga dan bangsa. "Saya persembahkan terima kasih kepada banyak pihak yang telah memberi sumbangsih, baik langsung maupun tidak langsung, dalam langkah dan jejak saya hingga hari ini," tutupnya.
(riki/sukadana)