Dokter Ingatkan Anak Kos Waspadai Nyeri Perut Berulang
YOGYAKARTA, PODIUMNEWS.com - Dokter spesialis penyakit dalam RSA Universitas Gadjah Mada (UGM) mengingatkan mahasiswa dan anak kos agar tidak mengabaikan keluhan nyeri perut yang terjadi secara berulang. Keluhan tersebut dapat menjadi indikasi gangguan kesehatan yang memerlukan pemeriksaan lanjutan, terutama jika tidak membaik dengan penanganan mandiri.
Dokter spesialis penyakit dalam RSA UGM, dr Noviantoro Sunarko Putro SPPD menjelaskan bahwa nyeri perut termasuk salah satu keluhan kesehatan yang paling sering dialami masyarakat, termasuk kalangan mahasiswa. Data menunjukkan nyeri perut akut menyumbang sekitar 7 hingga 10 persen dari seluruh kunjungan ke Unit Gawat Darurat (UGD).
“Nyeri perut bagian atas atau dispepsia ditandai rasa tidak nyaman di area lambung, nyeri atau terasa terbakar di ulu hati, cepat kenyang, perut terasa penuh setelah makan, dan sering sendawa,” ujar Noviantoro saat menjadi pembicara dalam talk show kesehatan nyeri perut dan skrining ultrasonografi perut gratis di Klinik Gadjah Mada Medical Center UGM, Sabtu (17/1/2026).
Ia menjelaskan, penyebab dispepsia dapat berasal dari gangguan organik maupun fungsional. Gangguan organik meliputi luka pada lambung, asam lambung naik, efek samping obat, hingga kemungkinan penyakit serius. Sementara gangguan fungsional dapat dipicu pola makan tidak teratur, kurang aktivitas fisik, serta faktor psikologis seperti stres.
Bagi mahasiswa atau anak kos yang tinggal sendiri, Noviantoro menyebut penanganan awal sering kali dilakukan secara mandiri dengan mengonsumsi obat yang mudah diperoleh. Namun, ia mengingatkan agar keluhan nyeri perut yang bersifat berulang tidak dianggap sepele.
“Jika nyeri perut sering muncul, perlu dicermati kemungkinan penyebab lain, termasuk yang berkaitan dengan siklus menstruasi pada perempuan. Untuk memastikan titik dan penyebab nyeri, diperlukan pemeriksaan lanjutan seperti USG,” jelasnya.
Dokter spesialis radiologi RSUP Dr Sardjito, dr Bestari Ariningrum Setyawati MSi Med SpRad menambahkan bahwa USG perut merupakan pemeriksaan penunjang lini pertama untuk membantu proses diagnosis. Ia menekankan pentingnya keterbukaan pasien dalam menyampaikan lokasi dan karakter nyeri kepada tenaga medis.
“Kami mengharapkan pasien mampu menjelaskan keluhan secara spesifik saat anamnesis. Informasi yang jelas sangat membantu agar hasil diagnosis lebih akurat,” ujarnya.
Bestari juga menyarankan pemeriksaan USG perut dilakukan secara berkala, meskipun tanpa keluhan, sebagai upaya deteksi dini. Pemeriksaan setidaknya setahun sekali dinilai penting untuk memantau kondisi organ dalam.
Kepala Klinik GMC UGM, Dr Yayuk Soraya AAK menyampaikan bahwa nyeri perut termasuk dalam sepuluh besar keluhan yang paling sering ditangani di GMC. Melalui kegiatan edukasi kesehatan ini, pihaknya mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, agar lebih peduli terhadap kesehatan sejak dini.
“Upaya promotif dan preventif perlu diperkuat agar masyarakat tidak menunggu sakit baru memeriksakan diri,” ujarnya.
Salah satu peserta kegiatan, tenaga kependidikan UGM Shoofia Ayu, menilai talk show tersebut membuka pemahaman bahwa nyeri perut memiliki kompleksitas tinggi dan tidak dapat didiagnosis secara sembarangan. Ia mengaku terdorong untuk lebih peduli terhadap kesehatan organ dalam dan mengajak rekan-rekannya melakukan pemeriksaan secara rutin.
(riki/sukadana)