Podiumnews.com / Horison / Humaniora

Akar Narasi, Tajamnya Pena

Oleh Nyoman Sukadana • 20 Januari 2026 • 20:22:00 WITA

Akar Narasi, Tajamnya Pena
Ilustrasi aktivitas jurnalisme warga melalui catatan, ponsel, dan perangkat sederhana sebagai simbol partisipasi publik dalam menyampaikan informasi dari lingkungan sekitar. (podiumnews)

DUNIA informasi hari ini serupa kain yang ditenun tergesa-gesa; warnanya mencolok namun benangnya rapuh. Dahlan Iskan, seorang tokoh pers nasional dan mantan pimpinan grup media besar Jawa Pos, sempat memotret zaman ini sebagai masa di mana setiap tangan bisa memegang alat tenun digital tanpa perlu modal jutaan lembar rupiah.

Bagi Dahlan yang telah membangun imperium cetak dari nol, kemudahan ini adalah disrupsi besar. Namun, di tengah banjir tekstil informasi yang serba instan, kita justru kehilangan kehangatan cerita yang jujur. Media komunitas hadir bukan untuk memintal bualan, melainkan untuk menyatukan kembali serat-serat keresahan warga yang tercerai-berai.

Mereka membuktikan bahwa sebilah pena yang digerakkan oleh jemari komunitas jauh lebih berharga daripada mesin raksasa yang hanya mampu menghasilkan narasi hampa tanpa nyawa. Kemudahan akses yang disoroti Dahlan Iskan telah melahirkan tsunami informasi yang dangkal.

Banyak media lahir hanya sebagai entitas digital yang hidup dari klik dan sering mati tanpa sempat memberi arti. Di tengah belantara media instan inilah, muncul anomali yang memberikan harapan: media berbasis komunitas. Nama seperti Mojok.co, BaleBengong.id, dan Tatkala.co bukan sekadar portal berita.

Mereka adalah bukti bahwa dampak sebuah media tidak dihitung dari saldo bank pemiliknya, melainkan dari seberapa dalam akarnya menghujam ke dalam keresahan komunitasnya. Mereka adalah jawaban atas kegelisahan Dahlan Iskan. Mereka lahir dari kemudahan teknologi, namun dirawat dengan keteguhan integritas yang tua.

Ruang Publik Tanpa Tuan

Jika kita meminjam kacamata filsuf Jürgen Habermas, media arus utama saat ini sering mengalami penjajahan oleh kepentingan pasar. Berita bukan lagi alat kontrol sosial, melainkan komoditas yang dijual per tayangan iklan. Namun, media komunitas seperti BaleBengong.id di Bali tidak sudi tunduk pada hukum pasar yang impersonal ini.

Digerakkan oleh pasangan Anton Muhajir dan Luh De Suriyani, BaleBengong menjadi antitesis dari media pesanan. Anton dengan kelincahan digitalnya bersinergi dengan Luh De Suriyani, seorang jurnalis senior dengan reputasi investigasi lingkungan yang tajam. Kolaborasi personal mereka adalah fondasi bagi sebuah laboratorium sosial.

Di BaleBengong, seorang petani yang tanahnya terancam atau warga desa yang jalannya rusak memiliki panggung yang sama terhormatnya dengan para pejabat. Secara mendalam, apa yang dilakukan Anton dan Luh De adalah manifestasi dari pemikiran Hannah Arendt tentang space of appearance.

Arendt berargumen bahwa manusia mencapai eksistensi politiknya ketika mereka berani tampil di ruang publik untuk berbicara demi kepentingan bersama. BaleBengong tidak hanya memberitakan peristiwa, mereka membangun kapasitas warga untuk menuliskan realitas mereka sendiri. Dampaknya nyata, mulai dari advokasi isu lingkungan hingga penggalangan solidaritas sosial.

Satir Pengusik Kuasa

Bergeser ke Yogyakarta, kita melihat bagaimana Puthut EA memimpin Mojok.co untuk melawan kekakuan narasi politik dengan senjata paling mematikan: satir. Mojok adalah bukti bahwa untuk menjadi media yang berdampak, kita tidak perlu selalu memasang wajah serius. Mojok mempraktikkan apa yang dibayangkan oleh Jean Baudrillard tentang membongkar hiperrealitas.

Di era di mana politik dipenuhi dengan citra palsu, Mojok hadir untuk merobek topeng itu dengan tulisan yang terasa seperti obrolan di angkringan, namun isinya menusuk tepat ke jantung persoalan. Puthut EA berhasil membangun ekosistem penulis yang sangat loyal.

Ia membuktikan bahwa media komunitas dapat memiliki pengaruh nasional selama mereka memiliki karakter yang kuat. Hal ini sering kali hilang dari media yang didirikan hanya karena kemudahan teknologi namun tanpa ruh intelektual. Dampaknya sangat signifikan. Politik tidak lagi menjadi barang mewah yang hanya bisa dibahas di hotel berbintang oleh para analis.

Politik menjadi diskusi renyah yang bisa diakses oleh siapa saja. Mojok telah mendemokrasikan cara berpikir kritis tanpa harus menggurui pembacanya.

Benteng Literasi Pinggiran

Sementara itu, dari ketenangan pesisir utara Bali di Singaraja, Made Adnyana Ole melalui Tatkala.co menunjukkan bahwa media bisa menjadi benteng kebudayaan yang kokoh meski jauh dari pusat kekuasaan. Di era yang serba cepat dan instan, Tatkala justru memilih untuk melambat.

Mereka tidak peduli dengan balapan berita terbaru yang biasanya basi dalam hitungan jam. Mereka lebih memilih mendokumentasikan pemikiran, esai sastra, dan sejarah lokal yang sering dianggap sampah oleh algoritma media besar karena dianggap tidak laku dijual. Tatkala adalah manifestasi dari pemikiran Michel Foucault tentang savoir des gens atau pengetahuan lokal.

Foucault menekankan pentingnya mengangkat narasi lokal yang sering ditekan oleh narasi besar yang terpusat di ibu kota. Made Adnyana Ole memahami bahwa tanpa dokumentasi kebudayaan yang kuat, sebuah masyarakat akan kehilangan pijakan identitasnya.

Tatkala menjadi arsip hidup yang menjaga harga diri intelektual di daerah tetap tegak. Hal ini membuktikan bahwa kualitas narasi memiliki pasarnya sendiri yang setia dan mendalam.

Daulat Intelektual Organik

Ketiga media ini memiliki satu aset yang tidak bisa dibeli oleh korporasi media mana pun: kedaulatan. Karena mereka tidak memiliki utang budi pada pemodal raksasa, mereka memiliki kemewahan untuk bersikap jujur. Mereka adalah apa yang disebut Antonio Gramsci sebagai intelektual organik.

Mereka adalah individu yang tidak hanya berteori di atas kertas, tetapi ikut berkubang dalam lumpur persoalan komunitasnya dan mengorganisir kesadaran publik melalui narasi yang otentik. Pernyataan Dahlan Iskan mengenai kemudahan mendirikan media memang benar secara teknis bagi siapa pun yang ingin sekadar memiliki platform.

Namun, membangun nyawa sebuah media agar tetap berdampak memerlukan keteguhan mental yang jauh melampaui kemampuan teknis. BaleBengong, Mojok, dan Tatkala telah melewati fase itu. Mereka bertahan bukan karena iklan judi daring atau kontrak pencitraan pejabat.

Mereka bertahan karena mereka telah menjadi bagian dari identitas pembacanya. Secara ekonomi politik, media ini menerapkan strategi de-komodifikasi. Informasi tidak lagi dipandang sebagai layanan untuk pengiklan, melainkan sebagai layanan publik untuk warga. Di tengah tsunami hoaks, media komunitas ini adalah mercusuar yang menjaga akal sehat publik tetap menyala.

Dampak Sebagai Modal

Pada akhirnya, dampak sebuah media tidak lagi diukur dari kemegahan gedungnya atau jutaan pengikut yang pasif. Dampak adalah seberapa banyak orang yang berani bergerak dan berpikir jernih setelah membaca narasinya. BaleBengong telah berhasil menggalang solidaritas warga untuk isu lingkungan.

Mojok telah mengubah cara anak muda melihat kekuasaan. Tatkala telah menjaga martabat literasi di tengah arus banalitas digital. Fenomena ini adalah pesan kuat bagi industri media kita. Di tengah kemudahan teknologi, publik tetap haus akan kebenaran yang memiliki konteks dan empati.

Para pendiri media ini telah membuktikan bahwa kedaulatan kata jauh lebih sakti daripada tumpukan modal. Mereka adalah para penjaga gerbang peradaban yang memastikan bahwa suara warga yang tulus tidak akan pernah benar-benar hilang.

Sebagaimana kutipan dari Paulo Freire bahwa hanya melalui komunikasi yang melahirkan dialog, hidup manusia memiliki makna. Media komunitas ini telah memberikan makna pada demokrasi kita dengan cara yang paling fundamental: merawat dialog, menjaga fakta, dan membela suara yang terpinggirkan. Dampak mereka adalah bukti bahwa integritas tidak pernah bisa digantikan oleh algoritma secepat apa pun. (*)

Menot Sukadana