Gagang Belati yang Menikam Tuannya Sendiri
DALAM setiap babad kekuasaan, senjata bukan sekadar alat pembunuh; ia adalah saksi bisu atas kerapuhan janji. Namun, ada satu jenis luka yang tak pernah benar-benar sembuh dalam ingatan kolektif kita: luka yang diakibatkan oleh senjata milik sendiri. Riwayat pengkhianatan dalam politik kita bukanlah cerita tentang musuh yang datang dari balik bukit dengan genderang perang yang bertalu-talu. Ia adalah cerita tentang gagang yang tiba-tiba berbalik arah, tentang jemari kepercayaan yang berubah menjadi cengkeraman maut, dan tentang belati yang justru menikam sang tuan saat ia merasa paling aman di singgasana.
Kutukan Gandring: Belati Lingkar Dalam
Mari kita mulai dari gubuk seorang pandai besi di Tumapel. Keris Empu Gandring bukan sekadar logam yang ditempa; ia adalah gumpalan ambisi yang belum tuntas. Ken Arok, sang arsitek penggulingan Tunggul Ametung, paham betul bahwa untuk memegang kekuasaan, seseorang harus memiliki "tangan ketiga". Ia tidak menikam sang Akuwu secara langsung. Ia meminjam tangan Kebo Ijo, kawan dekatnya, agar dirinya tetap terlihat bersih di hadapan publik. Di sinilah letak ironi pertama: Kebo Ijo merasa bangga memegang keris titipan sang kawan, tanpa sadar bahwa gagang keris itu sebenarnya sedang diarahkan ke punggungnya sendiri oleh Ken Arok.
Tragedi ini menjadi pola dasar bagi politik musuh dalam selimut di Nusantara. Bahaya terbesar seorang pemimpin bukanlah pasukan lawan yang mengepung benteng, melainkan jarak antara gagang keris dan punggung sang pemiliknya. Dalam panggung modern, keris itu telah bermutasi menjadi instrumen hukum, pembocoran rahasia, atau operasi intelijen. Ring 1 atau lingkaran terdekat sering kali menjadi tempat yang paling berbahaya. Mereka memiliki akses tanpa batas ke ruang privat, mereka tahu di mana sambungan baju zirah sang tuan yang paling lemah. Seperti kutukan tujuh turunan Gandring, kekuasaan yang dibangun di atas pengkhianatan kawan akan selalu dihantui oleh ketakutan bahwa gagang yang ia pegang hari ini akan menjadi belati yang menusuknya esok hari.
Palmerston: Fondasi Dingin Realpolitik
Mengapa fenomena tikam kawan ini seolah menjadi kewajaran? Jawabannya tertanam dalam prinsip dasar realpolitik yang sering diatribusikan kepada Lord Palmerston (Henry John Temple). Kalimatnya yang masyhur, "Tidak ada kawan abadi, yang ada hanya kepentingan abadi," telah menjadi fondasi pemikiran pragmatisme politik modern yang sangat dingin. Di tangan Palmerston, politik dibersihkan dari sisa-sisa sentimen moralitas dan persahabatan personal.
Ketika kepentingan menjadi satu-satunya kompas, maka kawan hanyalah variabel sementara yang bisa dibuang saat beban politik mulai memberatkan. Machiavelli, dalam The Prince, melengkapi pondasi ini dengan analisis bahwa seorang penguasa harus selalu memiliki paranoid yang sehat terhadap lingkaran dalam. Baginya, menteri atau pembantu yang mulai memikirkan kepentingan sendiri adalah belati yang sedang menunggu momentum untuk berputar. Pragmatisme Palmerston inilah yang hari ini menormalisasi kemunafikan; di mana jabat tangan di depan kamera hanyalah prosedur formalitas sebelum pengkhianatan dilakukan di balik pintu yang tertutup.
Paradoks Brutus: Idealisme atau Pengkhianatan?
Di belahan bumi yang berbeda, sejarah Romawi menyuguhkan paradoks yang lebih dingin melalui Marcus Junius Brutus. Jika Ken Arok berkhianat demi ambisi pribadi, Brutus berkhianat demi sebuah gagasan abstrak bernama Republik. Brutus mencintai Julius Caesar, namun ia lebih mencintai Roma. Saat belati Brutus menembus jubah Caesar, yang tewas bukan hanya seorang penguasa, melainkan kepercayaan personal yang luluh lantak.
Brutus adalah pengingat bahwa atas nama idealisme, atau yang hari ini kita sebut sebagai penyelamatan partai, seorang kawan bisa berubah menjadi eksekutor paling dingin. Paradoks Brutus sering kali dijadikan pembenaran oleh para politisi modern saat mereka berpindah kubu: "Saya tidak mengkhianati pimpinan saya, saya hanya setia pada kepentingan yang lebih besar." Padahal, sering kali itu hanyalah kemunafikan yang dibungkus dengan jargon mulia untuk menutupi tulang punggung yang mulai membungkuk demi amanat logistik baru. Bagi mereka, tak ada kawan abadi; yang abadi hanyalah kalkulasi kursi di bawah payung besar Palmerstonian.
Karna: Anomali Tulang Punggung
Di tengah riwayat belati yang menikam tuan, muncul sebuah anomali besar dari epos Mahabharata: Adipati Karna. Karna adalah antitesis dari kemunafikan Palmerston. Ia berdiri di sisi Kurawa, pihak yang secara moral dianggap bersalah. Namun, Karna menolak menjadi musuh dalam selimut bagi Duryudana, meski ia dijanjikan takhta tertinggi oleh pihak Pandawa jika ia mau berkhianat.
Karna memilih setia pada hutang rasa. Ia paham betul arti tulang punggung yang tegak yang sering disinggung Tan Malaka. Tan Malaka menyatakan bahwa kelebihan manusia adalah pada tulang punggungnya; karena itulah ia bisa berdiri tegak dan tidak merangkak seperti binatang. Karna menolak merangkak demi keselamatan jiwanya. Baginya, martabat yang diberikan Duryudana saat ia dihina sebagai anak kusir adalah hutang yang hanya bisa dibayar dengan nyawa. Karna adalah pengingat bagi kita hari ini bahwa di tengah rimba kepentingan abadi, masih ada ruang bagi loyalitas yang tak bisa dibeli. Ia setia hingga akhir, sebuah prinsip yang di kemudian hari kita temukan pada Robert Wolter Monginsidi yang memilih setia pada iman dan keyakinannya daripada grasi yang menghina harga diri.
Lubis: Cermin Munafik Bangsa
Lantas, mengapa pengkhianatan begitu subur dalam ladang politik kita? Wartawan legendaris Mochtar Lubis pernah memberikan jawaban yang pedas dalam pidatonya tahun 1977. Ia menyebut bahwa ciri pertama manusia Indonesia adalah munafik. Penyakit ini lahir dari mentalitas feodal yang menekan orang untuk selalu berkata "asal bapak senang" demi posisi.
Dalam budaya politik yang munafik, kesetiaan hanyalah topeng sementara. Gagang yang menikam tuan menjadi fenomena harian karena orang-orang di lingkaran terdalam tidak diikat oleh nilai, melainkan oleh transaksi kepentingan. Mereka tidak memiliki integritas Monginsidi yang menulis "Setia hingga akhir dalam keyakinan" sebelum dieksekusi. Sebaliknya, mereka memiliki tulang punggung yang elastis; bisa tegak saat memuji di depan kamera, namun segera merayap di balik layar saat melihat peluang untuk menggulingkan tuan lamanya. Suasana kebatiman politik kita hari ini telah menjadi pasar gelap loyalitas, di mana setiap orang membawa kerisnya sendiri di balik selimut koalisi.
Tegak atau Merangkak?
Riwayat belati dan pengkhianatan mengajarkan kita bahwa politik bukan sekadar soal siapa yang menang, tapi soal siapa yang tetap berdiri tegak saat badai kepentingan menerjang. Kekuasaan yang hanya dikelilingi oleh para penjilat adalah kekuasaan yang sedang menunggu belati dari dalam selimut. Kita merindukan suasana kebatiman politik yang diisi oleh orang-orang yang berani berkata jujur di dalam lingkaran, namun setia pasang badan di luar.
Politik hari ini membutuhkan lebih banyak keberanian untuk menjaga tulang punggung yang tegak daripada kelincahan dalam memutar gagang belati. Sebab pada akhirnya, sejarah tidak akan menulis tentang seberapa lihai Anda menikam tuan Anda, tapi tentang seberapa kuat Anda menjaga kehormatan saat godaan untuk merangkak datang menggoda. Sebagaimana tegukan kopi hitam yang pahit namun jujur, integritas adalah satu-satunya hal yang akan tetap tertinggal sebagai ampas berharga di dasar cangkir sejarah, sementara kemunafikan akan hanyut terbawa arus waktu yang tak pernah kembali. (*)
Menot Sukadana