Podiumnews.com / Horison / Humaniora

Sisyphus, Karna, dan Kesadaran Hidup

Oleh Nyoman Sukadana • 31 Januari 2026 • 11:33:00 WITA

Sisyphus, Karna, dan Kesadaran Hidup
Ilustrasi Karna dan Sisyphus menghadapi absurditas hidup, kesetiaan, dan martabat manusia di tengah dunia yang tak pernah memberi jawaban pasti. (podiumnews)

DUNIA yang kita tempati hari ini sering kali terasa seperti sebuah panggung yang dingin dan tidak acuh. Setiap pagi, jutaan manusia bangun untuk memulai ritus yang hampir serupa: bekerja keras melampaui batas lelah, terjebak dalam kemacetan yang merayap, mencicil barang-barang konsumtif yang nilainya lekas menyusut, serta mengejar pengakuan sosial yang besok pagi mungkin sudah menguap dilupakan orang.

Di Bali, kegaduhan ini tidak lagi sekadar latar belakang karena ia telah menjadi tekanan eksistensial yang nyata. Kita menyaksikan ruang hidup yang kian menyempit akibat alih fungsi lahan yang ugal-ugalan. Kita merasakan kompetisi ekonomi yang kian "saling sikut" di tengah terbatasnya peluang, serta budaya gengsi yang memaksa setiap orang mengenakan topeng kemapanan meski batinnya terengah-engah. Hidup bagi banyak orang modern di Bali mulai terasa seperti sebuah mesin besar yang berputar tanpa henti namun sering kali tanpa tujuan yang jernih.

Dalam situasi yang mencekam inilah, pemikiran Albert Camus mengenai absurditas menemukan relevansinya yang paling tajam. Albert Camus, filsuf, penulis, sekaligus jurnalis peraih Nobel Sastra, memandang absurditas bukan sebagai kekacauan nihilistik, melainkan sebuah ketegangan abadi antara hasrat manusia untuk menemukan makna dan dunia yang tetap bungkam. Ia adalah jarak antara damba manusia akan keteraturan, berhadapan dengan kenyataan dunia yang acak dan dingin. Kita merindukan jawaban pasti, namun dunia justru hanya memberikan kebetulan-kebetulan yang terkadang getir.

Ketegangan yang Tak Terelakkan

Masyarakat modern sering kali mencoba menutupi absurditas ini dengan kesibukan yang artifisial. Kita percaya bahwa bekerja lebih keras akan menjamin ketenangan hidup, atau kepemilikan aset yang berderet akan menghadirkan rasa cukup. Namun, realitas sering kali berkata sebaliknya bahwa harta tidak menjamin kedamaian dan status sosial tidak serta-merta menghalau kesepian.

Camus menolak dua sikap ekstrem dalam menghadapi kenyataan pahit ini. Pertama, ia menolak sikap menyerah melalui keputusasaan yang melumpuhkan. Kedua, ia menolak apa yang ia sebut sebagai philosophical suicide atau lompatan filosofis, yakni melarikan diri pada penghiburan palsu berupa dogma atau janji makna mutlak yang tidak terbukti. Sebagai gantinya, ia menawarkan jalan ketiga yang penuh martabat yaitu hidup dengan kesadaran penuh di jantung absurditas itu sendiri, tanpa ilusi dan tanpa pelarian.

Sisyphus: Kebahagiaan dalam Kesia-siaan

Dalam esainya yang monumental, The Myth of Sisyphus, Camus menggunakan tokoh mitologi Yunani sebagai alegori manusia modern. Sisyphus dihukum oleh para dewa untuk mendorong batu besar ke puncak gunung. Namun, setiap kali batu itu hampir mencapai puncak, ia selalu menggelinding jatuh kembali ke dasar. Sisyphus harus turun kembali dan mengulangi tugas itu selamanya dalam sebuah siklus yang sia-sia, berulang, dan tanpa akhir.

Secara kasat mata, hidup Sisyphus adalah sebuah tragedi tanpa henti. Namun, Camus menutup esainya dengan kalimat yang mengguncang kesadaran kita: kita harus membayangkan Sisyphus berbahagia. Mengapa demikian? Karena kebahagiaan Sisyphus tidak terletak pada keberhasilannya menaruh batu di puncak, sebab ia tahu hal itu mustahil. Kebahagiaannya justru terletak pada kesadarannya akan nasibnya sendiri.

Setiap kali Sisyphus berbalik arah untuk menuruni gunung demi mengambil batunya kembali, di saat itulah ia menjadi "tuan" atas nasibnya. Ia sadar sepenuhnya bahwa usahanya tidak akan pernah menang menurut ukuran dunia, namun ia tetap memilih untuk terus mendorongnya. Di situlah Camus menempatkan martabat tertinggi manusia pada kesadaran yang terjaga dan bukan pada kemenangan yang semu.

Adipati Karna: Kesetiaan pada Jalan Tragis

Menariknya, resonansi pemikiran Camus ini telah lama berdenyut dalam khazanah pewayangan melalui sosok Adipati Karna. Dalam narasi Barat, Sisyphus adalah simbol manusia yang berhadapan dengan rutinitas sia-sia. Dalam narasi Timur, Karna adalah simbol manusia yang berhadapan dengan dilema etis yang mustahil.

Karna bukanlah tokoh yang hidup dalam kebutaan. Ia menyadari sepenuhnya posisi dilematisnya sebagai saudara tertua Pandawa yang dibesarkan oleh Kurawa. Ia menyadari bahwa secara moral dan politis, ia berada di pihak yang "salah" dan ditakdirkan untuk kalah. Karna memahami dengan sangat jernih bahwa kesetiaannya pada Duryudana akan membawanya pada maut di ujung panah saudaranya sendiri, Arjuna.

Namun, perhatikan sikap Karna yang tidak menarik diri dari pertempuran. Ia tidak mencari pembenaran ideologis untuk berpindah pihak demi keselamatan nyawa atau nama baik. Ia juga tidak menukar kesadarannya dengan penghiburan palsu. Karna memilih untuk tetap setia pada janji dan jalan hidupnya meskipun ia tahu akhir dari jalan itu adalah kehancuran. Dalam kerangka pemikiran Camus, Karna adalah figur absurd yang paripurna. Ia menerima realitas tanpa melarikan diri dan tetap menjalani perannya dengan martabat yang utuh. Martabat Karna tidak ditentukan oleh kemenangan, melainkan oleh kejujurannya pada pilihan hidupnya sendiri di tengah dunia yang tidak adil.

Membaca Bali: Kesadaran sebagai Perlawanan Sunyi

Jika kita menarik pemikiran Camus dan teladan Karna ke dalam realitas Bali hari ini, kita akan menemukan bahwa absurditas hadir dalam bentuk yang sangat keseharian. Ia ada dalam tekanan ekonomi yang memaksa orang bekerja tanpa libur, dalam kompetisi status yang melelahkan di banjar, hingga dalam tuntutan sosial yang sering kali tidak masuk akal secara finansial.

Banyak orang Bali hari ini hidup dalam rutinitas yang menyerupai batu Sisyphus. Mereka mengejar pengakuan yang cepat memudar dan terus menunda pertanyaan paling mendasar mengenai untuk apa semua ini dilakukan. Membaca realitas ini melalui Camus dan Karna bukan berarti mengajak kita menjadi pesimis atau menolak tradisi. Sebaliknya, ini adalah ajakan untuk bersikap jujur pada kondisi hidup kita sendiri.

Absurditas tidak harus disangkal dengan pura-pura bahagia atau ditutupi dengan pamer kemewahan di media sosial. Absurditas justru harus disadari sepenuhnya. Dari kesadaran itulah lahir sebuah jeda, sebuah ruang untuk berhenti sejenak dari kegilaan dunia, menimbang ulang arah hidup, serta memilih untuk hidup dengan integritas. Dalam masyarakat yang kian sibuk mengejar kepemilikan, memilih untuk menjadi sadar adalah bentuk perlawanan yang paling kuat.

Kita mungkin tidak bisa mengubah struktur ekonomi dunia yang tidak adil atau menghentikan alih fungsi lahan yang masif, namun kita punya kuasa penuh atas bagaimana kita merespons semua itu. Martabat manusia tidak ditentukan oleh hasil akhir atau tumpukan aset yang ditinggalkan. Ia ditentukan oleh sejauh mana kita mampu hidup dengan sadar dan jujur di tengah dunia yang tidak selalu menjelaskan dirinya sendiri.

Pelajaran paling relevan dari Sisyphus dan Karna adalah sebuah pengingat abadi bahwa hidup memang tidak selalu bisa dimenangkan, tetapi ia selalu bisa dijalani dengan kepala tegak dan kesadaran yang utuh. Di puncak gunung Sisyphus atau di medan laga Kurusetra, kemenangan sejati bukanlah jatuhnya lawan atau sampainya batu di puncak. Kemenangan sejati adalah ketika manusia berani berkata: aku tahu jalan ini berat dan mungkin berakhir tragis, namun aku memilih untuk tetap menjalaninya dengan sadar. (*)

Menot Sukadana