Podiumnews.com / Aktual / Kesehatan

Istirahat Terlalu Lama Justru Perparah Gejala Nyeri Punggung Bawah

Oleh Nyoman Sukadana • 20 Januari 2026 • 23:33:00 WITA

Istirahat Terlalu Lama Justru Perparah Gejala Nyeri Punggung Bawah
Ilustrasi kondisi nyeri punggung bawah yang kini banyak menyerang usia 20-40 tahun. Ahli menyarankan penggunaan meja dan kursi ergonomis serta olahraga rutin untuk memutus pola hidup sedentari. (freepik)

SLEMAN, PODIUMNEWS.com Banyak orang beranggapan bahwa tidur berlama-lama di kasur yang empuk adalah obat terbaik saat nyeri punggung menyerang. Namun, pakar kesehatan justru mengeluarkan peringatan keras terhadap kebiasaan tersebut. Dokter spesialis Neurologi Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM, dr. Yoga Rossi Widya Utama, Sp.N, mengungkapkan bahwa istirahat dengan durasi yang terlalu panjang serta penggunaan kasur yang terlalu empuk justru berisiko memperparah gejala nyeri punggung bawah atau Low Back Pain (LBP).

Fenomena nyeri punggung bawah kini bukan lagi masalah eksklusif lansia. Berdasarkan data jurnal The Lancet tahun 2023, gangguan ini telah memengaruhi 619 juta orang di seluruh dunia dan diprediksi melonjak hingga 843 juta kasus pada tahun 2050. Di Indonesia, tren ini meningkat tajam pada kelompok usia produktif antara 20 hingga 40 tahun, yang dipicu oleh perubahan pola kerja pascapandemi Covid-19.

Menurut dr. Yoga, pola hidup sedentari atau kurang aktif bergerak menjadi biang keradi utama. Aktivitas di dalam ruangan yang padat, terutama pertemuan daring yang menuntut seseorang duduk dalam posisi yang sama selama berjam-jam, membuat otot, sendi, dan tulang punggung bawah rawan mengalami cedera.

"Nyeri punggung ini disebabkan oleh posisi tubuh yang sama terus-menerus, seperti duduk atau berdiri terus-menerus. Apalagi ketika tubuh tidak banyak bergerak, terutama karena kurang olahraga," papar dr. Yoga dalam keterangannya di RSA UGM, Selasa (20/1/2025).

Ia menjelaskan bahwa bagian yang paling sering terkena adalah otot punggung bawah. Hal ini terjadi karena tekanan konstan saat duduk dalam waktu lama tanpa jeda peregangan. Namun, kesalahan fatal sering terjadi saat seseorang mencoba mengobati nyeri tersebut. Alih-alih melakukan gerakan ringan, banyak pasien memilih tidur dalam durasi panjang.

"Istirahat dengan durasi panjang justru dapat memperparah gejala, terlebih saat kasur terlalu empuk karena tidak menjaga lekuk alami tulang," tegasnya. Kasur yang terlalu empuk membuat tulang belakang "tenggelam" dan kehilangan penyangga alaminya, sehingga ketegangan pada otot dan sendi justru meningkat.

Sebagai langkah pencegahan dini, dr. Yoga menyarankan para pekerja untuk mulai memperhatikan ergonomi di ruang kerja. Penggunaan kursi dan meja yang mendukung lekuk alami tulang belakang sangat disarankan. Selain itu, aktivitas fisik yang rutin seperti berjalan kaki, latihan otot ringan, hingga berenang menjadi fondasi utama untuk membangun kesehatan punggung yang kokoh.

Bagi mereka yang sudah mulai merasakan gejala seperti nyeri tumpul atau tajam di punggung bawah, kesulitan berdiri tegak, hingga rasa nyeri yang menjalar ke kaki, dr. Yoga menganjurkan dua langkah penanganan mandiri yang tepat. Pertama adalah istirahat yang cukup (bukan berlebihan) dan kedua adalah memberikan kompres pada area yang nyeri menggunakan air hangat atau dingin secara bergantian.

"Apabila gejala masih belum hilang, maka pasien dapat mengonsumsi obat pereda nyeri atau melakukan fisioterapi dengan ahli terapi berdasarkan hasil konsultasi dengan dokter," imbuhnya. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak meremehkan nyeri punggung, karena tanpa penanganan teknik yang tepat, kondisi ini dapat mengganggu produktivitas dalam jangka panjang.

Kesehatan tubuh, menurut dr. Yoga, dibangun dari fondasi dasar yang melibatkan aktivitas fisik intens, teknik gerak yang benar, asupan makanan bergizi, serta kualitas tidur yang cukup namun proporsional. Dengan meningkatnya risiko nyeri punggung di usia muda, kesadaran untuk memutus pola hidup sedentari menjadi kunci utama agar tidak menjadi bagian dari statistik ratusan juta penderita LBP di masa depan.

(riki/sukadana)