Perubahan Iklim Picu Lonjakan Kasus DBD di Indonesia
DENPASAR, PODIUMNEWS.com – Perubahan iklim dan cuaca ekstrem disebut menjadi pemicu meningkatnya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia. Kenaikan suhu, curah hujan yang tinggi, serta musim hujan yang lebih panjang membuat nyamuk Aedes aegypti semakin mudah berkembang dan memperluas wilayah penyebarannya.
Pakar Imunologi Universitas Airlangga (UNAIR), Dr Agung Dwi Wahyu Widodo, mengatakan dalam keterangan tertulis yang diterima di Denpasar, Rabu (17/6/2026), kondisi iklim yang tidak menentu di kawasan ASEAN, khususnya Indonesia, berdampak langsung terhadap peningkatan kasus DBD.
“Kebanyakan iklim dan cuaca ekstrem yang terjadi di ASEAN, terutama Indonesia, berdampak cukup kuat terhadap peningkatan kasus. Kenaikan suhu, curah hujan yang tinggi, serta perpanjangan musim hujan menyebabkan perluasan daerah jelajah nyamuk. Usia nyamuk bertambah dan mereka tidak gampang mati,” ujar Agung.
Menurutnya, perubahan iklim menyebabkan nyamuk Aedes aegypti memiliki peluang hidup lebih lama dan menjangkau wilayah yang sebelumnya tidak menjadi daerah endemis. Kondisi tersebut meningkatkan risiko penularan virus dengue di tengah masyarakat.
Agung mengingatkan bahwa ancaman DBD kini semakin kompleks. Virus dengue tidak lagi hanya menyebabkan demam dan penurunan trombosit, tetapi juga dapat menyerang organ lain, termasuk hati dan sistem saraf.
“Bahkan, ada kasus khusus di mana virus Dengue langsung menginfeksi sistem saraf anak-anak dan menimbulkan gejala ensefalitis atau infeksi otak,” katanya.
Untuk menghadapi ancaman yang terus berkembang, dunia medis terus mengembangkan berbagai inovasi, salah satunya teknologi nyamuk ber-Wolbachia. Bakteri alami tersebut mampu memblokir transmisi virus dengue di dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti.
“Wolbachia ini bersimbiosis dengan serangga Aedes. Saat Aedes diinfeksi dengan Wolbachia, sistem imunnya akan teraktivasi dengan baik sehingga tidak mudah terinfeksi oleh virus dengue. Menariknya, probosis nyamuk yang digunakan untuk menusuk kulit manusia juga menjadi lemah,” ujar Agung.
Ia menjelaskan, teknologi Wolbachia juga dapat mengganggu perkembangbiakan nyamuk secara seksual. Nyamuk jantan yang terinfeksi akan menghasilkan sperma yang tidak mampu menghasilkan keturunan ketika kawin dengan nyamuk betina tanpa Wolbachia.
“Nyamuk jantan yang terinfeksi akan membuat spermanya mandul, sehingga ketika kawin dengan betina tanpa Wolbachia, telurnya tidak bisa menetas,” katanya.
Menurut Agung, penerapan teknologi nyamuk ber-Wolbachia di Yogyakarta telah terbukti efektif menurunkan angka kasus DBD hingga 77 persen dan mengurangi angka rawat inap secara signifikan. Peneliti juga memastikan bakteri tersebut aman dan tidak membahayakan manusia.
Meski demikian, ia menegaskan penanganan DBD tidak dapat hanya mengandalkan satu pendekatan. Pengembangan vaksin dengue dan optimalisasi pengendalian vektor harus berjalan beriringan dengan edukasi masyarakat.
“Edukasi masyarakat tidak boleh berhenti hanya pada 3M Plus, tetapi harus meluas pada deteksi dini dan standar tata laksana yang terintegrasi dari Puskesmas hingga fasilitas kesehatan rujukan,” ujarnya.
Peringatan Hari Demam Berdarah Dengue ASEAN menjadi momentum bagi pemerintah dan masyarakat untuk memperkuat kewaspadaan terhadap ancaman dengue. Dengan cuaca yang semakin tidak menentu akibat perubahan iklim, inovasi medis dan partisipasi aktif masyarakat dinilai menjadi kunci utama untuk menekan angka kesakitan dan kematian akibat DBD di Indonesia.
(sukadana)