Podiumnews.com / Aktual / Kesehatan

Studi Kopi Temukan Senyawa Antidiabetik, Pakar Ingatkan Publik

Oleh Nyoman Sukadana • 10 Februari 2026 • 08:45:00 WITA

Studi Kopi Temukan Senyawa Antidiabetik, Pakar Ingatkan Publik
Ilustrasi penelitian kopi di laboratorium yang menyoroti potensi senyawa kopi terhadap pengendalian gula darah dan kesehatan metabolik manusia secara ilmiah. (podiumnews)

YOGYAKARTA, PODIUMNEWS.com- Penelitian terbaru yang dipimpin Minghua Qiu dari Institut Botani Kunming, Akademi Ilmu Pengetahuan China, menemukan adanya senyawa dalam kopi yang berpotensi memengaruhi penyerapan gula ke dalam aliran darah. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Beverage Plant Research pada Januari lalu itu membuka ruang kajian baru mengenai kopi dalam konteks pengelolaan diabetes.

Menanggapi temuan tersebut, dosen Departemen Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr Widiastuti Setyaningsih STP MSc menegaskan bahwa hasil penelitian tidak serta-merta berarti kopi dapat digunakan sebagai obat diabetes.

Widiastuti Setyaningsih menjelaskan bahwa dari hasil riset pemetaan dan karakterisasi senyawa kimia kopi, terdapat beberapa senyawa penting seperti asam klorogenat, kafein, dan trigonelin. Penelitiannya juga menemukan keberadaan ragam gula dan gula alkohol dalam biji kopi. Komposisi senyawa tersebut, kata dia, dipengaruhi tidak hanya oleh varietas kopi, tetapi juga proses pengolahan.

“Banyak komponen kimia yang berkontribusi terhadap pembentukan rasa kopi,” ujarnya, Senin (9/2/2025).

Terkait klaim aktivitas antidiabetik, ia mengingatkan masyarakat agar tidak salah kaprah memaknai kopi sebagai terapi diabetes. Menurutnya, meskipun asam klorogenat diketahui memiliki potensi aktivitas antidiabetik, senyawa itu tidak hanya terdapat pada kopi, melainkan juga pada berbagai sumber pangan lain.

“Kopi merupakan matriks pangan yang sangat kompleks, mengandung ribuan senyawa kimia berbeda, sehingga tidak dapat disederhanakan bahwa konsumsi kopi secara langsung bersifat antidiabetik,” tambahnya.

Pandangan serupa disampaikan dosen Departemen Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Yunika Mayangsari SSi MBiotech PhD. Ia menilai secara konsep penelitian hubungan senyawa kopi dan diabetes masuk akal karena kopi kaya senyawa fenolik seperti asam klorogenat, asam kafeat, dan sejumlah flavonoid.

Dalam riset tersebut juga disebutkan adanya senyawa cafaldehid yang dapat menghambat enzim alfa-glukosidase. Yunika menjelaskan enzim itu berperan memecah karbohidrat kompleks menjadi glukosa di saluran pencernaan. Jika aktivitasnya dihambat, penyerapan glukosa dapat diperlambat sehingga lonjakan gula darah berpotensi ditekan.

Meski demikian, Yunika menekankan kopi tidak dapat dijadikan pengganti terapi medis. Menurutnya, kopi lebih tepat diposisikan sebagai bagian dari pola hidup sehat.

“Yang kami evaluasi adalah ekstrak dan senyawanya, bukan sekadar dikonsumsi lalu menurunkan gula darah secara instan,” katanya.

Ia menambahkan mekanisme pengendalian diabetes bersifat kompleks, melibatkan penghambatan enzim pencernaan, aktivitas antioksidan dan antiinflamasi, hingga peningkatan sensitivitas insulin. Aspek keamanan konsumsi juga perlu diperhatikan karena kafein dapat memicu masalah pada individu dengan gangguan lambung, jantung, atau tidur.

Yunika menjelaskan bahwa sebagian besar studi tentang kopi dan risiko diabetes merupakan studi populasi yang menunjukkan hubungan asosiasi, bukan sebab akibat langsung. Karena itu, konsumsi kopi perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu.

Menutup penjelasannya, kedua akademisi mengingatkan pentingnya kebijaksanaan dalam mengonsumsi kopi. Masyarakat diminta tidak menelan informasi secara mentah dan tetap menjaga pola makan serta gaya hidup secara keseluruhan.

“Kopi tidak bisa dijadikan pengganti terapi. Konsumsi harus bijak, tidak berlebihan, dan kuncinya tetap pada pengaturan asupan harian,” ujar Yunika.

(riki/sukadana)