Podiumnews.com / Kolom / Opini

Pait Makilit dan Retaknya Solidaritas di Bali

Oleh Nyoman Sukadana • 04 Februari 2026 • 08:35:00 WITA

Pait Makilit dan Retaknya Solidaritas di Bali
Angga Wijaya (Dok/Pribadi)

DI SEBUAH grup WhatsApp yang saya ikuti, berisikan para jurnalis, penulis, akademisi, dan pejabat penting di Bali, IMS, sang pendiri grup, kerap melontarkan satu kalimat yang terdengar ringan tetapi mengandung sindiran tajam. Transfer malu satus!. Transfer dulu uang sebesar seratus ribu rupiah.

IMS adalah seorang jurnalis sekaligus pemilik sebuah media online di Bali. Pada awalnya, saya mengira kalimat itu sekadar candaan khas jurnalis, atau bahkan kebiasaan meminta uang transport kepada pejabat. Dalam satu pertemuan dengannya, barulah saya memahami maksud di balik kalimat tersebut. Ia tidak sedang meminta-minta. Ia sedang mengetes. Mengetes sejauh mana pejabat masih memiliki solidaritas dan empati, bukan hanya ketika membutuhkan jurnalis untuk kepentingan politik, pencitraan, atau momentum krusial seperti Pilkada.

Menurut IMS, ada pola yang berulang. Saat belum memiliki jabatan, relasi dengan jurnalis terasa hangat. Telepon dibalas cepat, mudah diajak ngopi, dan cerita mengalir panjang. Namun, setelah kedudukan diraih, relasi itu perlahan mendingin. Jurnalis yang dahulu rajin menulis, seolah hanya menjadi tangga yang boleh dilupakan. Sikap terlalu perhitungan, kikir, dan pelit yang dalam bahasa Bali disebut pait makilit inilah yang ingin ia sindir dan lawan dengan caranya sendiri.

Cerita kecil di sebuah grup WhatsApp itu, bagi saya, bukan sekadar anekdot. Ia adalah potret perubahan sikap sosial di Bali hari ini. Perubahan yang tidak selalu kasat mata, tetapi terasa dalam relasi sehari-hari. Bahasa Bali sejak lama memiliki kemampuan membaca perubahan itu melalui ungkapan-ungkapan yang lahir dari pengalaman kolektif.

Sebagaimana ditulis oleh Ari Budiadnyana dalam artikel Ungkapan Bahasa Bali Tentang Karakter Orang di IDN Times Bali pada 10 Juni 2024, orang Bali mengenal banyak istilah untuk menggambarkan sifat manusia. Salah satunya adalah pait makilit. Istilah ini digunakan untuk orang yang terlalu perhitungan, kikir, atau pelit. Dalam perbendaharaan bahasa Bali, pait makilit sering disamakan dengan pripit atau demit.

Contoh penggunaannya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pak Donal aeng pait makilit, orahin nyumbang dana ogoh-ogoh dogen liu sajaan alasanne. Artinya, Pak Donal sangat pelit. Diminta menyumbang dana ogoh-ogoh saja, alasannya bisa sangat banyak. Kalimat seperti ini tidak asing di telinga orang Bali, terutama di lingkungan banjar.

Namun, seperti bahasa pada umumnya, makna pait makilit tidak pernah statis. Ia bergerak mengikuti perubahan zaman. Jika dahulu istilah ini lebih sering dilekatkan pada individu tertentu, kini ia mulai mencerminkan gejala sosial yang lebih luas, terutama di wilayah Bali urban.

Bali hari ini bukan lagi Bali yang sepenuhnya ditopang oleh kehidupan agraris dan ikatan komunal yang rapat. Denpasar, Badung, Gianyar, dan kawasan penyangga pariwisata mengalami pertumbuhan cepat. Urbanisasi membawa konsekuensi yang tidak ringan. Biaya hidup meningkat, ruang tinggal menyempit, dan waktu menjadi barang mahal.

Dalam situasi seperti ini, perhitungan menjadi bagian dari strategi bertahan hidup. Segala sesuatu diukur. Pengeluaran dicatat. Partisipasi sosial dipikirkan ulang. Bukan karena orang Bali tiba-tiba berubah watak, melainkan karena struktur hidupnya berubah.

Dahulu, memberi adalah kebiasaan yang nyaris tidak diperdebatkan. Urunan untuk upacara, membantu tetangga yang berduka, atau ngayah di banjar dijalani sebagai kewajiban moral. Imbalannya bukan uang, melainkan rasa memiliki dan keseimbangan batin. Memberi diyakini sebagai bagian dari menjaga harmoni antara manusia, alam, dan semesta.

Di Bali urban hari ini, nilai-nilai itu tidak hilang, tetapi bernegosiasi. Orang mulai bertanya berapa kali harus terlibat, seberapa besar kontribusi yang wajar, dan apakah semua kegiatan adat harus diikuti secara penuh. Pertanyaan-pertanyaan ini sering kali ditanggapi dengan sinis, lalu diberi label pait makilit.

Di sinilah refleksi kultural menjadi penting. Apakah setiap sikap berhitung otomatis berarti pelit. Ataukah ia justru cerminan kecemasan hidup di tengah kota yang serba tidak pasti. Gaji yang tidak sebanding dengan kebutuhan, cicilan rumah, biaya pendidikan anak, dan ketidakpastian masa depan membuat banyak orang terpaksa lebih hati-hati.

Refleksi ini tidak bermaksud membenarkan sikap kikir. Bahasa Bali sendiri dengan tegas memberi peringatan melalui istilah pait makilit. Namun, bahasa juga mengajarkan kebijaksanaan. Ia lahir dari pengalaman, bukan sekadar penghakiman.

Dalam konteks itulah, kalimat IMS di grup WhatsApp tadi menjadi menarik untuk dibaca ulang. Ucapan “transfer malu satus” terdengar ringan, bahkan jenaka. Namun di balik kelakar itu, ada kritik yang tidak diucapkan dengan pidato panjang. IMS seolah sedang mengusik rasa malu kolektif kita. Bukan soal seratus ribu rupiah, melainkan soal sikap. Tentang bagaimana relasi kerap diperlakukan seperti tombol yang ditekan hanya saat diperlukan.

Sebagai jurnalis yang cukup lama berkecimpung di Bali, IMS tahu betul bagaimana hubungan antara media dan kekuasaan sering berlangsung. Ada masa-masa tertentu ketika jurnalis didekati, dirangkul, bahkan diperlakukan seperti sahabat lama. Biasanya menjelang pemilihan, peluncuran program, atau saat citra sedang dipertaruhkan. Setelah semuanya aman dan posisi telah diraih, hubungan itu mendadak menipis. Pesan tidak lagi dibalas. Undangan tak lagi datang. Seolah kedekatan pun memiliki masa kedaluwarsa.

Di sinilah pait makilit bekerja dengan cara yang lebih kompleks. Ia tidak selalu muncul sebagai penolakan kasar, tetapi sebagai penghitungan dingin. Siapa yang masih berguna. Siapa yang bisa diabaikan. Siapa yang perlu dirawat relasinya. Dalam logika semacam ini, solidaritas tidak lagi berdiri di atas rasa saling percaya, melainkan di atas kalkulasi kepentingan.

IMS memilih melawannya dengan cara yang tidak lazim. Ia tidak menulis makalah, tidak berteriak di forum resmi. Ia memilih humor, sindiran, dan keganjilan kecil yang memaksa orang berpikir. Dengan satu kalimat singkat, ia membalik posisi. Pejabat yang biasanya dimintai komentar kini diuji empatinya. Bukan untuk meminta, tetapi untuk mengingatkan. Bahwa relasi tidak seharusnya hanya hidup saat ada kebutuhan.

Apa yang dilakukan IMS membuka percakapan lebih luas tentang etika sosial di Bali urban. Tentang bagaimana kekuasaan, status, dan uang pelan-pelan mengubah cara kita memperlakukan orang lain. Pait makilit di sini bukan lagi sekadar sifat individual, melainkan gejala struktural. Ia tumbuh subur ketika relasi sosial dibangun di atas hierarki dan transaksi.

Pada titik inilah pait makilit tidak lagi sekadar istilah bahasa, melainkan penanda zaman. Ia lahir dari pengalaman hidup bersama, lalu kembali dipakai untuk membaca perubahan relasi sosial hari ini. Dari banjar ke ruang kota, dari percakapan lisan ke grup WhatsApp, dari tegur sapa ke sindiran ringan. Perubahan medium tidak mengubah substansinya, yang berubah adalah cara kita merawat rasa. Ketika hidup semakin mahal dan waktu semakin sempit, berhitung menjadi kebutuhan. Namun ketika hitung-hitungan itu merembes ke empati dan ingatan, barangkali ada sesuatu yang pelan-pelan kita lepaskan.

Bahasa Bali tidak pernah kekurangan cara untuk mengingatkan. Ia tidak menghakimi, tetapi memberi tanda. Bahwa kebersamaan bisa rapuh jika relasi hanya dirawat saat ada kepentingan. Bahwa memberi bukan semata soal kemampuan, melainkan soal kesediaan untuk tidak lupa. Kalimat ringan seperti “transfer malu satus” mungkin terdengar sebagai lelucon, tetapi justru di sanalah kritik bekerja dengan jujur. Ia menyelipkan rasa malu tanpa menunjuk siapa pun, membuka ruang bagi empati untuk tumbuh kembali.

Bali akan terus berubah. Kota akan semakin rapat, hidup semakin berhitung. Tetapi selama bahasa masih kita pakai untuk bercermin, pait makilit tidak harus menjadi watak yang diwariskan. Ia cukup tinggal sebagai peringatan, agar di tengah efisiensi dan kesibukan, kita tidak benar-benar lupa bagaimana rasanya peduli. (*)

Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.