Sebelum Menuduh Bebai, Coba Makan Dulu
DI BALI, perubahan perilaku jarang berdiri sendirian. Ia segera diberi makna. Seseorang tiba-tiba marah, gelisah, berbicara kasar, atau tampak linglung, penjelasan yang muncul sering kali bukan soal kurang tidur atau kurang makan. Yang pertama disebut justru bebai.
Bebai adalah istilah yang hidup dalam kosmologi Bali. Ia merujuk pada gangguan niskala, sering diasosiasikan dengan ilmu hitam atau energi negatif yang dikirim seseorang. Dalam kerangka ini, tubuh bukan sekadar organ biologis. Ia adalah ruang yang bisa dimasuki, dipengaruhi, bahkan diserang oleh kekuatan tak kasatmata.
Tidak ada yang aneh dengan itu. Masyarakat Bali sejak lama hidup dalam pemahaman sekala dan niskala, dua dunia yang saling bertaut. Tetapi di tengah modernitas, ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan, bagaimana jika sebagian gejala yang kita anggap bebai sebenarnya hanyalah respons biologis yang sangat biasa. Bagaimana jika ia hanya lapar?
Secara medis, lapar bukan sekadar rasa kosong di lambung. Ketika seseorang telat makan, kadar glukosa darah menurun. Otak yang hampir sepenuhnya bergantung pada glukosa sebagai sumber energi mulai kehilangan pasokan. Bagian otak yang bertugas mengontrol logika dan pengambilan keputusan melemah. Sebaliknya, sistem emosi menjadi lebih dominan.
Itulah sebabnya orang yang lapar cenderung mudah tersinggung, sulit fokus, bahkan impulsif. Dalam istilah populer, hangry, hungry (lapar) ditambah angry (marah).
Namun dalam konteks Bali, perubahan semacam itu tidak selalu berhenti pada penjelasan biologis. Ia sering meloncat ke tafsir spiritual. Kepala pening bisa berarti ada yang mengirim. Emosi meledak bisa berarti kena bebai. Warung sepi pelanggan bisa berarti ada yang menanam sesuatu. Padahal mungkin pemilik warung hanya stres dan belum makan sejak pagi.
Lagu Hobby Kerauhan yang dibawakan Ary Kencana pada 2023 sebetulnya menyentil fenomena ini dengan cara yang jenaka. Dalam salah satu baitnya, ia menyebut soal telat makan, asam lambung naik, lalu orang mengira dirinya kena beregar (mungkin sejenis bebai, pen.)
Humor itu berhasil karena dekat dengan kenyataan. Kita memang sering tergesa-gesa memberi label spiritual pada sesuatu yang sangat jasmani.
Masalahnya, label tidak pernah netral. Ketika seseorang dianggap kena bebai, ia tidak hanya menghadapi gejala yang ia rasakan, tetapi juga beban sosial. Ia bisa dicurigai, dijauhi, bahkan distigma. Dalam beberapa kasus ekstrem, orang dengan gangguan mental serius pun lebih dulu dibawa ke pengobatan spiritual sebelum mendapatkan bantuan medis.
Padahal gangguan seperti depresi, gangguan kecemasan, bahkan skizofrenia memiliki dasar neurobiologis yang jelas. Ketika semua gejala ditarik ke wilayah niskala, tubuh biologis seolah kehilangan haknya untuk dijelaskan secara ilmiah.
Ini bukan soal menolak spiritualitas. Bali tidak bisa dipisahkan dari keyakinan pada dimensi niskala. Tetapi persoalannya adalah keseimbangan. Ketika setiap perubahan perilaku langsung dianggap kiriman, kita berhenti bertanya pada tubuh.
Tubuh punya logikanya sendiri. Kurang tidur bisa membuat orang mudah marah. Dehidrasi bisa menyebabkan pusing dan kebingungan. Hipoglikemia ringan, kadar gula darah rendah, bisa menimbulkan gemetar, gelisah, dan perubahan emosi drastis. Semua ini dapat terlihat dramatis, tetapi memiliki penjelasan fisiologis.
Dalam psikologi sosial, ada konsep atribusi, cara manusia menjelaskan sebab dari suatu peristiwa. Kita cenderung memilih penjelasan yang paling tersedia dalam kerangka budaya kita. Di Bali, kerangka itu kaya akan istilah spiritual seperti kerauhan, bebai, tetaneman.
Ketika kosa kata spiritual lebih akrab daripada kosa kata medis, maka tafsir spiritual lebih cepat muncul. Namun ada konsekuensi dari kecepatan itu. Jika seorang remaja yang sedang stres dan kurang makan dianggap kena bebai, fokus keluarga bisa bergeser. Alih-alih memperbaiki pola makan, jam tidur, dan kesehatan mentalnya, energi justru diarahkan pada ritual pembersihan. Ritual tentu memberi ketenangan psikologis, tetapi tanpa memahami sebab biologisnya, masalah bisa berulang.
Di sinilah lagu Hobby Kerauhan menjadi menarik. Ia bukan sekadar hiburan. Ia semacam kritik sosial yang dibungkus tawa. Ia mengingatkan bahwa kadang-kadang, yang kita anggap kerasukan hanyalah lambung yang protes. Ada ironi di sana.
Bali adalah pulau dengan tradisi spiritual kuat, tetapi juga dengan angka gangguan kesehatan mental yang tidak kecil. Ketika dua dunia ini bertemu, dibutuhkan kebijaksanaan agar spiritualitas tidak menutup pintu sains, dan sains tidak meremehkan keyakinan. Barangkali persoalannya bukan pada bebai itu sendiri, melainkan pada kebiasaan kita yang terlalu cepat menyimpulkan. Karena di antara sekala dan niskala, ada sesuatu yang sangat sederhana, metabolisme.
Sebelum menuduh ada yang mengirim, sebelum menyebut ada yang menanam, mungkin pertanyaan pertama yang lebih manusiawi adalah “sudah makan?”. Pertanyaan itu terdengar remeh. Tetapi ia bisa menjadi jembatan antara dua cara memahami dunia, yang satu berbicara tentang energi gaib, yang lain tentang glukosa darah.
Dan mungkin, kadang-kadang, jawaban paling rasional justru yang paling sederhana. Sebelum mencari dukun, cobalah mencari nasi. (*)
Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.