Podiumnews.com / Horison / Selaras

Rahwana, K-pop, Luh Luwih Hingga Perang Transnasional

Oleh Nyoman Sukadana • 16 Februari 2026 • 11:48:00 WITA

Rahwana, K-pop, Luh Luwih Hingga Perang Transnasional
Personel grup No Na tampil menawan dengan aura sawo matang yang memikat. Visual ini menjadi simbol perlawanan identitas sekaligus bukti nyata kekuatan taksu dan martabat. ((Sumber: Instagram/ @88rising)

Dari obsesi kuno Rahwana hingga perang digital netizen Korea melawan SEAblings, standar kecantikan kini menjadi palagan transnasional. Di balik hegemoni wajah porselen, kearifan lokal menawarkan konsep luh luwih sebagai perlawanan. Yang menegaskan bahwa martabat sejati lahir dari keutamaan batin dan taksu yang otentik.

SEJARAH mencatat dengan tinta darah bahwa kecantikan tidak pernah menjadi urusan kosmetik semata. Ia adalah sumbu pendek yang mampu meledakkan kedaulatan sebuah bangsa, meruntuhkan tembok benteng, dan mengubah arah peradaban. Ribuan tahun lalu, di pesisir Yunani, wajah Helen of Troy disebut sebagai the face that launched a thousand ships. Kecantikannya memicu pengepungan sepuluh tahun yang berakhir dengan abu di kota Troya. Kecantikan di sana bukan sekadar estetika, melainkan simbol harga diri laki-laki dan kekuasaan kerajaan yang dipertaruhkan di medan laga.

Di tanah kita, epik Ramayana mengabadikan penculikan Dewi Shinta oleh Rahwana sebagai pengingat abadi. Penculikan itu bukan sekadar karena asmara buta atau nafsu birahi, melainkan simbol arogansi seorang penguasa tirani yang merasa berhak menguasai segala keindahan di dunia sebagai barang jarahan. Rahwana memandang Shinta sebagai objek yang harus dimiliki untuk melengkapi kemegahannya. Sebuah obsesi yang pada akhirnya berujung pada hangusnya Alengka. Kecantikan dalam konteks ini adalah pemicu kehancuran ketika ia hanya dipandang sebagai materi yang bisa dirampas.

Tragedi Bubat dan Martabat

Bahkan dalam babad sejarah Nusantara, tragedi Bubat menjadi luka yang sulit mengering karena sosok Dyah Pitaloka Citraresmi. Kecantikan sang putri Sunda tidak lagi dipandang sebagai anugerah kemanusiaan, melainkan alat negosiasi politik dan penanda ketundukan sebuah bangsa. Bagi Gajah Mada, kedatangan sang putri di Lapangan Bubat haruslah menjadi simbol menyerahnya kedaulatan Pajajaran di bawah panji Majapahit. Akibatnya adalah sebuah tragedi kemanusiaan, sebuah pembantaian besar yang meruntuhkan martabat dan menyisakan dendam sejarah yang melintasi berabad-abad. Begitulah rupa fisik di masa lalu. Ia adalah alasan sah mengapa pedang ditarik dari sarungnya dan kapal-kapal perang diluncurkan ke samudera luas.

Bubat Digital di Gawai

Namun, hari ini, di abad ke-21, medan perang itu telah bermigrasi. Ia tidak lagi berada di padang rumput yang berdebu atau di benteng-benteng batu yang kokoh, melainkan di balik layar gawai yang berpijar di genggaman tangan kita. Perang hari ini adalah perang transnasional antar-jempol netizen, di mana pelurunya bukan lagi mesiu, melainkan narasi rasisme dan body shaming.

Gesekan ini sebenarnya sudah memanas sebelumnya melalui insiden konser grup band Korea, Day6, di Malaysia. Konflik yang dipicu oleh urusan teknis lensa kamera fansite Korea dengan cepat berubah menjadi cyber warfare yang brutal ketika oknum netizen Korea Selatan atau K-Netz mulai menghina fisik dan latar belakang ekonomi netizen Asia Tenggara. Luka digital ini kemudian meledak kembali ketika girl group asal Indonesia, No Na, merilis video musik debut mereka berjudul Shoot.

Kasus No Na dan Hinaan Sawah

Visual persawahan yang No Na tampilkan, yang seharusnya menjadi simbol akar budaya, kesuburan, dan jati diri kita sebagai bangsa agraris, justru menjadi bahan olokan segar bagi K-Netz. Mereka melabeli No Na sebagai grup tidak modal hanya karena mereka berani menampilkan visual alam yang jujur di sela-sela pematang sawah. Hinaan ini sebenarnya berakar pada fenomena sosiologis classism atau diskriminasi kelas yang akut di Korea Selatan. Bagi sebagian dari mereka, sawah adalah representasi masa lalu yang kumuh. Simbol kemiskinan pascaperang yang ingin mereka hapus dengan hutan beton dan ruang-ruang operasi plastik yang dingin.

Ejekan mereka tentang sawah adalah bentuk modern dari imperialisme budaya. Mereka mencoba menanamkan doktrin global bahwa kemajuan dan martabat sebuah bangsa hanya milik mereka yang mampu menampilkan visual porselen yang mewah, serba artifisial, dan simetris secara medis. Di sini, standar kecantikan telah bermutasi menjadi alat penaklukan gaya baru. Fenomena ini mengingatkan kita pada pemikiran Naomi Wolf dalam The Beauty Myth, bahwa kecantikan sering kali dijadikan senjata politik untuk menciptakan standar yang mustahil diraih. Tujuannya jelas agar manusia di luar standar tersebut selalu merasa tidak pernah cukup, merasa rendah diri, dan akhirnya menjadi tawanan abadi dari industri kecantikan yang mereka kendalikan.

SEAblings dan Perlawanan Identitas

Namun, penghinaan itu justru memicu lahirnya solidaritas baru yang sangat kuat yaitu SEAblings. Netizen dari Indonesia, Filipina, Malaysia, Vietnam, hingga Thailand bersatu melakukan apa yang disebut sebagai dekolonisasi estetika. Mereka menyuarakan dengan lantang bahwa sawah bukanlah sekadar latar belakang murah. Sawah adalah simbol kekayaan alam, akar budaya, dan identitas kawasan Asia Tenggara yang selama ini jarang mendapat ruang representasi yang jujur di panggung industri pop global yang serba seragam.

Dukungan lintas negara ini menilai visual alam seperti sawah justru memberi citra yang berdaulat dan berkarakter, jauh berbeda dari standar video musik pop yang biasanya didominasi oleh kemewahan palsu dan citra modernitas yang kaku. Perlawanan ini adalah bentuk gugatan terhadap apa yang disebut oleh pemikir budaya Jean Baudrillard sebagai simulakra, sebuah dunia di mana citra buatan, hasil rekonstruksi bedah, dan kemasan industri dianggap lebih nyata dan lebih berharga daripada kenyataan asli yang kita miliki di bawah matahari khatulistiwa. Netizen ASEAN mulai berani menarik garis kedaulatan bahwa kita tidak butuh validasi dari Seoul untuk merasa cantik dan berharga.

Luh Luwih versus Sampah

Di tengah keriuhan perang digital ini, kita perlu sejenak menepi dari hiruk-pikuk komentar. Mengapa kita begitu mudah terprovokasi oleh standar yang diciptakan oleh orang lain? Di sinilah kearifan lokal kita menawarkan sebuah pemisahan yang sangat tajam dan filosofis melalui konsep luh luwih dan luh luu.

Dalam standar kemuliaan manusia, derajat seseorang tidak pernah diukur dari seberapa simetris fitur wajah hasil meja operasi. Seorang perempuan atau manusia disebut sebagai luh luwih karena kualitas keutamaannya yang substantif. Ia adalah sosok yang cerdas, memiliki karakter yang tangguh, mandiri, dan yang paling penting adalah memiliki kejernihan batin yang memancar menjadi taksu. Sebuah karisma organik, sebuah aura kewibawaan yang tidak akan pernah bisa direplikasi oleh teknologi medis mana pun. Manusia yang luh luwih adalah mereka yang merawat diri sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta, bukan karena rasa tidak aman atau ketakutan akan penilaian mata manusia.

Sebaliknya, kita juga mengenal istilah yang sangat kontras yaitu luh luu. Istilah luu secara harfiah berarti sampah. Ini adalah sebuah istilah yang sangat keras, sebuah tamparan bagi siapa pun yang memiliki rupa porselen yang sempurna namun batinnya penuh dengan kebencian, rasisme, dan kedangkalan berpikir. Kecantikan fisik yang dibarengi dengan kesombongan yang merendahkan bangsa lain tak lebih dari kecantikan yang berbau sampah. Cantik di luar namun busuk secara kualitas kemanusiaan. Mereka yang menghina sawah kita, menghina warna kulit kita, mungkin secara visual terlihat cantik dalam standar industri yang mereka puja, namun dalam standar moral dan etika kemanusiaan, mereka sedang mempertontonkan perilaku luh luu, sebuah kecantikan yang kehilangan esensi kemanusiaannya.

Taksu versus Pisau Bedah

Kita harus belajar kembali dari kisah-kisah masa lalu seperti Roro Jonggrang. Ia adalah simbol perlawanan terhadap paksaan, arogansi, dan kekuatan besar yang mencoba mendikte kehendak batinnya. Meskipun ia diancam oleh kekuatan Bandung Bondowoso yang luar biasa, ia tetap berdiri tegak pada kedaulatan pilihannya. Begitu pula seharusnya kita dalam menghadapi gempuran standar kecantikan global yang seragam ini. Perang transnasional ini sebenarnya adalah ujian bagi kita semua. Apakah kita akan terus membiarkan diri menjadi tawanan rasa tidak percaya diri yang diciptakan oleh industri kecantikan asing, atau kita akan kembali memeluk akar budaya kita sendiri?

Kemenangan sejati kita dalam perang modern ini bukanlah dengan membalas rasisme dengan kebencian serupa yang sama rendahnya. Kemenangan kita adalah dengan berhenti menjadi tawanan standar orang lain. Kita tidak butuh hidung yang lebih mancung, kulit yang lebih putih, atau visual gedung pencakar langit untuk terlihat mulia di mata semesta. Sawah bukanlah simbol kemiskinan, melainkan simbol keselarasan manusia dengan alam yang memberi kehidupan dan napas bagi bumi. Lewat karya No Na, kita diingatkan bahwa menjadi otentik jauh lebih berharga daripada menjadi seragam.

Kita adalah permata di dalam batu. Meskipun luar kita tampak biasa saja, mungkin cokelat dan bersahaja seperti tanah sawah yang menghidupi kita, namun di dalamnya tersimpan nilai karakter dan kemanusiaan yang tak ternilai harganya. Mari kita berhenti mengejar bayang-bayang kecantikan artifisial yang rapuh dan mulailah merawat kecantikan batiniah yang abadi. Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan mengenang seberapa mulus wajah kita di depan kamera, melainkan seberapa besar martabat, integritas, dan kualitas batin yang kita tunjukkan sebagai manusia yang luwih.

Mari kita tegakkan kepala di bawah terik matahari khatulistiwa, bangga dengan identitas sawo matang kita, dan tunjukkan kepada dunia bahwa kita adalah bangsa yang tidak bisa didikte oleh selembar kertas standar kecantikan buatan pabrik. Karena kita memiliki taksu yang dianugerahkan langsung oleh Sang Pencipta. Sebuah pancaran kemuliaan yang tidak akan pernah bisa dibeli dengan pisau bedah paling mahal sekalipun di meja operasi mana pun di dunia. (*)

Menot Sukadana