Podiumnews.com / Khas / Warisan

Tegalmengkeb dan Api Kecil yang Tak Mau Padam

Oleh Nyoman Sukadana • 17 Februari 2026 • 18:00:00 WITA

Tegalmengkeb dan Api Kecil yang Tak Mau Padam
Para pemenang dan Dewan Juri Lomba Baca Puisi se-Bali 2026 digelar Tegalmengkeb Art Space melakukan foto bareng. (foto/angga)

DI BALI, pusat kesenian sering kali identik dengan kota. Denpasar, Ubud, atau panggung-panggung besar dengan tata cahaya matang dan publik yang sudah terbiasa mengapresiasi pertunjukan. Namun Minggu siang, 15 Februari 2026, denyut yang berbeda justru terasa dari sebuah desa, Tegalmengkeb, Selemadeg Timur, Tabanan.

Di sebuah ruang sederhana bernama Tegalmengkeb Art Space (TAS) puluhan orang duduk rapat. Tidak ada kemegahan. Tidak ada jarak yang angkuh antara panggung dan penonton. Yang ada hanya suara manusia dan kata-kata yang hendak diuji ketahanannya. Di sanalah Lomba Baca Puisi se-Bali 2026 digelar, sebuah peristiwa yang lebih dari sekadar kompetisi. Ia seperti pernyataan sikap bahwa desa juga bisa menjadi pusat.

Ketika Desa Menjadi Titik Api

Lomba ini merupakan kerja sama antara Tegalmengkeb Art Space, Pesraman Kayu Manis, dan Luh Luwih Foundation. Tema yang diangkat adalah “Kekuatan Cinta”. Tema yang terdengar lembut, tetapi sesungguhnya luas dan berlapis. Cinta bisa menjadi keberanian, bisa menjadi kehilangan, bisa menjadi luka yang tetap dipeluk.

Sebanyak 40 peserta dari berbagai daerah di Bali ikut ambil bagian. Lomba ini gratis, terbuka untuk umum, tanpa batasan usia maupun jenjang pendidikan. Murid sekolah berdiri sejajar dengan dosen. Guru berhadapan dengan mahasiswa. Di panggung puisi, identitas sosial seperti dilebur. Yang tersisa hanya satu hal, kemampuan berhadapan dengan teks dan diri sendiri.

Di tengah dominasi seni pertunjukan lain di Bali, tari, tabuh, dramatari, kehadiran lomba baca puisi seperti ini terasa penting. Ia mengingatkan bahwa sastra juga bagian dari ekosistem kebudayaan Bali yang tak boleh dikesampingkan. Babak penyisihan dilakukan melalui video. Para peserta mengirimkan rekaman pembacaan puisi kepada panitia. Dari layar-layar kecil itulah suara mereka diuji.

Dewan juri yang terdiri dari Wayan Jengki Sunarta, Dewa Jayendra, dan Muda Wijaya menilai dengan beberapa aspek, ketepatan tafsir puisi, penghayatan, vokal, ekspresi, serta totalitas penampilan.

Namun seperti yang kerap terjadi dalam lomba baca puisi, persoalan bukan hanya teknis. Yang paling sulit adalah momen ketika pembaca benar-benar masuk ke dalam teks, ketika kata-kata berhenti menjadi bacaan, dan berubah menjadi pengalaman.

Pada tahap penyisihan, peserta membacakan satu puisi yang telah disediakan panitia. Pilihannya tidak ringan, “Pohon yang Tinggi Dekat dengan Bulan” karya Frans Nadjira, “Prelude” karya Umbu Landu Paranggi, “Senja Menggantung di Langit” karya Putu Vivi Lestari, “Warna Jiwa dalam Gerimis” karya I Wayan Arthawa, dan “Rumah Hening” karya Reina Caesilia.

Puisi-puisi itu menuntut lebih dari sekadar suara yang lantang. Ia menuntut pemahaman. Setelah proses penilaian, juri memberikan catatan mendasar. “Banyak peserta kurang memahami dan menghayati puisi yang dibacakannya,” ujar Wayan Jengki Sunarta. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi tajam. Banyak yang membaca puisi, tetapi belum tentu menyelaminya.

Sepuluh finalis diumumkan pada 10 Februari 2026. Mereka melangkah ke babak final yang digelar secara langsung pada Minggu, 15 Februari 2026, pukul 13.00 WITA di Tegalmengkeb Art Space.

Pada babak final, para peserta membacakan dua puisi, puisi wajib “Melodia” karya Umbu Landu Paranggi dan satu puisi pilihan yang telah dibawakan saat penyisihan. Puisi wajib menjadi ujian kesetaraan. Semua berdiri di titik yang sama, memegang teks yang sama. Yang membedakan hanyalah cara mereka menghidupkan teks itu melalui tubuh, suara, dan batin.

Pertarungan berlangsung ketat. Satu per satu finalis maju. Ketegangan terasa, tetapi bukan ketegangan yang menakutkan. Ia lebih menyerupai getar sebelum doa dilafalkan. Dewan juri kembali menekankan hal mendasar dalam membaca puisi, membedah isi sebelum membawakannya.

“Setelah itu, penghayatan akan tumbuh secara alami. Penghayatan yang baik tidak dibuat-buat. Ia muncul dari dalam batin, bukan dari keinginan untuk terlihat hebat,” ujar Muda Wijaya.

Di titik ini, lomba ini terasa bukan sekadar ajang mencari juara. Ia seperti ruang belajar bersama tentang bagaimana seharusnya puisi diperlakukan, dengan kesabaran, dengan kerendahan hati, dengan keberanian untuk memahami.

Swadaya dan Keyakinan

Yang membuat peristiwa ini terasa lebih bermakna adalah fakta bahwa kegiatan ini diselenggarakan secara swadaya dan swadana, tanpa bantuan pemerintah.

Ketua Panitia, I Gede Astika, menyampaikan tujuan utama kegiatan ini. “Lomba ini diselenggarakan untuk menghidupkan kembali semangat berkesenian, terutama sastra, di Tegalmengkeb yang jauh dari pusat-pusat kesenian. Semoga lomba ini bisa berkelanjutan setiap tahun,” ujarnya.

Pernyataan itu seperti manifesto kecil dari desa bahwa pusat kebudayaan tidak harus selalu berada di kota. Desa pun bisa menjadi poros, selama ada orang-orang yang bersedia menjaga api tetap menyala.

Pinisepuh Pesraman Kayu Manis sekaligus pendiri Tegalmengkeb Art Space, Mahaprabhu Prahlada Pandya, menegaskan pentingnya menularkan kecintaan pada sastra, khususnya puisi. Bagi beliau, puisi bukan sekadar kesenian, melainkan jalan pembentukan rasa dan jalan memperhalus batin.

Sementara itu, Kepala Desa Tegalmengkeb, I Dewa Made Widarma, dalam sambutan pembukaan menyampaikan apresiasi atas peran Tegalmengkeb Art Space. “Dengan kekuatan cinta, mari kita saling bersinergi membangun dan mempromosikan Desa Tegalmengkeb lewat kegiatan seni budaya,” ujarnya.

Kalimat itu menghubungkan tema dengan realitas. “Kekuatan Cinta” tidak berhenti sebagai jargon lomba, tetapi menjadi ajakan konkret untuk membangun desa melalui seni. Setelah diskusi panjang dan perdebatan intens, dewan juri menetapkan para pemenang.

Juara I diraih Desak Putu Ayu Dina Candradewi (Singaraja), Juara II I Gusti Agung Putu Sri Purnami Padmawati (Denpasar), Juara III I Putu Gede Pradipta (Denpasar). Enam Juara Harapan diraih Ni Made Pritalaras T Mas Jayanti (Jembrana), Ida Ayu Putri Krisna Dewi (Jembrana), Ni Made Dhimahi Shankari Dewi (Jembrana), Ardika Wiraga (Gianyar), Ni Putu Vidya Radhani (Denpasar), dan Jessica Kaila (Denpasar). Satu finalis, Desak Made Yunda Ariesta (Karangasem), mengundurkan diri karena sakit.

Hadiah berupa uang pembinaan diberikan. Juara I Rp3 juta, Juara II Rp2 juta, Juara III Rp1 juta, enam Juara Harapan masing-masing Rp500 ribu. Pada babak final, panitia secara spontan menambahkan Rp200 ribu bagi masing-masing Juara Harapan. Selain itu, para pemenang menerima piala dan piagam penghargaan. Namun di luar angka-angka itu, ada hal lain yang lebih sulit diukur, pengalaman berdiri di panggung, menyebut kata demi kata, dan merasakan bagaimana puisi bekerja dari dalam.

Desa yang Menolak Sepi

Di akhir acara, Tegalmengkeb Art Space tidak sekadar menutup lomba. Ia seperti menutup sebuah upacara kecil bagi sastra. Di desa yang jauh dari gemerlap pusat kota, puisi justru menemukan ruang yang intim. Ia tidak ditelan hiruk-pikuk, tidak tergesa oleh agenda pariwisata. Ia diberi waktu untuk didengar.

Yang terasa dari Tegalmengkeb adalah kesungguhan yang lahir dari keterbatasan. Tidak ada sponsor besar, tidak ada baliho raksasa. Hanya keyakinan bahwa sastra perlu dirawat. Dan mungkin, justru dari ruang-ruang seperti inilah kebudayaan menemukan napas panjangnya.

Lomba Baca Puisi se-Bali 2026 bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara. Ia adalah tentang desa yang menolak dilupakan, tentang orang-orang yang percaya bahwa puisi masih memiliki daya, dan tentang cinta, yang dalam bentuk paling sederhana, adalah kesediaan untuk menjaga sesuatu tetap hidup.

Tegalmengkeb menjadi bukti bahwa api kecil itu belum padam. Tidak besar. Tidak menyilaukan. Tetapi cukup hangat untuk membuat kita percaya, bahwa sastra belum selesai.

(angga wijaya/sukadana)