Safira dan Tat Twam Asi di Panggung Bung Karno
SOROT lampu menyapu panggung Bali Beach Convention Sanur, Sabtu (27/2/2026) malam itu. Musik mengalun, model berjalan dengan balutan motif kupu-kupu, burung, dan bunga. Di balik gemerlap itu, ada seorang perempuan muda yang mengikat seluruh konsep dalam satu benang filosofi.
Namanya Diah Safira Prananda.
Sebagai Ketua Panitia Pagelaran Singgasana Seni Bung Karno, Safira tidak sekadar menyusun acara. Ia meramu gagasan. Tema yang diangkat bukan sekadar estetika, tetapi sebuah nilai hidup: Tat Twam Asi.
“Singgasana Seni Bung Karno hari ini temanya kita ambil dari perkataan Tat Twam Asi, itu artinya penghormatan kepada makhluk hidup. Makanya koleksi-koleksi yang kita kasih lihat hari ini itu banyak temanya ke flora dan fauna,” jelas Safira.
Filosofi itu tampak dalam setiap detail. Busana dengan motif kupu-kupu dan burung, ornamen bunga, hingga tata rambut yang mengikuti gaya perempuan Bali modern. Bahkan dalam fashion show, unsur gerak tarian Bali ikut disisipkan agar panggung tidak kehilangan identitas lokalnya.
“Karena acara kali ini di Bali, kami bikin desainnya koleksi dan rambut juga mengikuti gaya rambut perempuan Bali modern,” katanya.
Bagi Safira, seni bukan hanya soal panggung. Di balik acara ini, terdapat 22 IKM kuliner termasuk pelaku usaha disabilitas dan 72 UMKM perajin binaan yang ikut meramaikan. Panitia menargetkan perputaran ekonomi mencapai Rp2,5 miliar dalam satu gelaran.
Mahagaya Pagelaran Persona selaku penggagas acara ingin membuktikan bahwa seni dan ekonomi kerakyatan bisa berjalan beriringan. Fashion show, pertunjukan musik, pameran produk lokal, hingga bazar kuliner bukan sekadar pelengkap, melainkan ruang tumbuh bagi pelaku usaha kecil.
Safira menyadari generasi muda adalah pewaris nilai. Karena itu, ia berusaha mengemas warisan Bung Karno dalam bahasa yang lebih dekat dengan zaman sekarang. Seni menjadi jembatan. Fashion menjadi medium. Panggung menjadi ruang perjumpaan.
Pagelaran ini juga dihadiri Presiden Republik Indonesia Kelima Megawati Soekarnoputri, Gubernur Bali Wayan Koster, Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta, serta kepala daerah se-Bali. Namun di antara nama-nama besar itu, Safira memilih menempatkan generasi muda sebagai pusat perhatian.
Di tangannya, Singgasana Seni Bung Karno bukan sekadar peringatan atau nostalgia. Ia menjadi ruang untuk menegaskan bahwa ide besar tentang penghormatan pada sesama dan alam tetap relevan di tengah industri kreatif modern.
Di atas panggung yang terang, Safira menghadirkan pesan sederhana: seni bisa menjadi alat pendidikan, budaya bisa menjadi penggerak ekonomi, dan generasi muda bisa menjadi penjaga nilai tanpa kehilangan daya kreasi.
Singgasana itu bukan hanya milik sejarah. Ia sedang dicoba diduduki kembali oleh generasi yang ingin menerjemahkan warisan dalam bahasa zamannya sendiri.
Dan Safira, malam itu, berdiri di tengahnya.
(sukadana)