Saraswati dan Warisan Sidemen di Denpasar
SUARA kidung terdengar pelan, seperti merambat dari pelataran ke sudut-sudut Pura Agung Jagatnatha. Umat datang bergantian, membawa canang, bunga, dan doa yang ditata dalam kesunyian yang tertib. Hari Saraswati kembali dirayakan di Denpasar, Sabtu (04/04/2026), dengan suasana yang khidmat, tanpa banyak kata.
Di antara barisan pemedek, tampak sejumlah siswa duduk bersila. Sebagian masih mengenakan seragam sekolah. Mereka menunduk, mengikuti alur persembahyangan, seolah sedang belajar memahami sesuatu yang tidak diajarkan di ruang kelas.
Persembahyangan dipuput Ida Pedanda Gede Putra Tunjung Kuning dari Griya Bungsu Tunjung Kuning, Pemogan. Sejumlah pejabat hadir, termasuk Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, bersama jajaran Forkopimda dan pimpinan perangkat daerah.
Namun, seperti banyak perayaan Saraswati sebelumnya, yang terasa justru bukan keramaian acara, melainkan ketenangan yang mengendap di antara doa-doa.
Dalam kesempatan itu, Jaya Negara menyebut nama Ida Pedanda Made Sidemen, seorang pemikir Bali yang dikenal menempatkan ilmu sebagai bagian dari laku hidup.
“Pesan yang dapat kita maknai adalah, meskipun tidak memiliki sumber daya, kita harus membekali diri dengan ilmu pengetahuan agar dapat bermanfaat bagi masyarakat. Ilmu pengetahuan adalah sumber kehidupan sekaligus jalan pengabdian,” ujar Jaya Negara.
Pernyataan itu terasa seperti mengulang sesuatu yang sudah lama hidup dalam tradisi Bali. Ilmu tidak hanya dipelajari, tetapi dijalani. Ia tidak berhenti pada pengetahuan, melainkan mengarah pada sikap dan cara hidup.
Di Denpasar hari ini, gagasan itu mencoba diterjemahkan dalam bahasa yang lebih konkret. Pemerintah kota menempatkan pendidikan sebagai prioritas pembangunan, sekaligus mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia.
“Pendidikan menjadi prioritas pembangunan. Kami berkomitmen mencetak generasi yang berkualitas dan memiliki daya saing,” kata Jaya Negara.
Upaya itu tidak hanya menyasar capaian akademik. Sekolah-sekolah juga mulai dilibatkan dalam gerakan pengelolaan sampah berbasis sumber. Siswa diperkenalkan pada kebiasaan memilah sampah, sebagai bagian dari pembelajaran sehari-hari.
“Kami telah melibatkan civitas akademika dan satuan pendidikan untuk mengedukasi masyarakat dalam memilah sampah. Sekolah-sekolah di Denpasar juga telah mulai melaksanakan dengan baik,” ujarnya.
Di tengah perubahan kota yang terus bergerak, pendekatan semacam ini menjadi menarik. Pendidikan tidak lagi semata soal angka, tetapi juga tentang membentuk kesadaran.
Kabag Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Denpasar, Ida Bagus Alit Surya Antara, mengatakan bahwa persembahyangan bersama ini diharapkan dapat memperkuat nilai kebersamaan dan spiritualitas masyarakat.
“Melalui persembahyangan bersama ini, semangat kebersamaan dan nilai spiritual diharapkan terus tumbuh, seiring komitmen menjadikan Denpasar sebagai kota kreatif berbasis budaya,” ujarnya.
Menjelang siang, arus pemedek terus mengalir. Ada yang datang bersama keluarga, ada pula yang datang sendiri. Mereka membawa doa yang mungkin berbeda, tetapi bertemu dalam suasana yang sama.
Hari Saraswati, pada akhirnya, bukan hanya tentang menghormati ilmu pengetahuan. Ia juga menjadi ruang untuk mengingat bahwa ilmu memiliki arah, dan arah itu kembali pada bagaimana manusia menjalani hidupnya.
Di pelataran pura, beberapa siswa masih bertahan lebih lama. Mereka duduk diam, seolah belum ingin beranjak. Di antara doa dan kesunyian itu, barangkali ada sesuatu yang mulai tumbuh perlahan.
(sukadana)