Lampu Kuning
DALAM lalu lintas, lampu kuning adalah aba-aba untuk bersiap. Bisa siap untuk melaju, bisa juga siap untuk segera menginjak rem. Sore ini, di depan monitor kerja, saya sedang berhadapan dengan lampu kuning itu. Bukan di jalan raya, tapi di sebuah dashboard digital.
Menunggu itu pekerjaan paling membosankan. Semua orang tahu itu. Tapi bagi seorang penulis, menunggu adalah ujian iman. Iman pada gagasan sendiri.
Saya menatap layar monitor di meja kerja. Masih ada sisa cahaya matahari Bali yang masuk lewat celah jendela. Dashboard di layar itu tidak berubah banyak sejak pagi. Masih ada warna kuning yang mencolok di sana.
Statusnya: Tunggu Disetujui.
Judul pertama soal Jayaprana. "Geguritan Jayaprana: Rakyat Menghukum Tiran Lewat Ingatan". Sudah mengendap dua hari di sana. Sejak tanggal 7 April. Saya merenung, apakah editor di Jakarta sana mengerti pedihnya kisah Jayaprana? Ataukah mereka sedang menimbang, apakah isu tiran dan ingatan masih relevan untuk orang yang lebih sibuk memikirkan harga kebutuhan pokok hari ini?
Lalu, hari ini saya tambah satu lagi. Soal Kuta. Judulnya lebih tajam: "Kemacetan Kuta dan Harga Sebuah Kelalaian". Isunya panas. Sepanas aspal di depan Bandara Ngurah Rai yang macetnya sudah tidak masuk akal itu. Isu ini adalah etalase wajah Bali. Dan wajah Bali adalah wajah Indonesia. Kalau Kuta macet, Indonesia yang malu.
Statusnya juga sama: Kuning.
Dulu, zaman saya masih sering mengejar tenggat di koran cetak, menunggu itu urusan fisik. Menunggu narasumber keluar pintu kantor gubernur. Menunggu tukang tata letak selesai menyusun halaman. Menunggu mesin cetak berputar di tengah malam. Sekarang, di era digital, menunggu itu urusan warna. Antara Kuning dan Hijau.
Lampu hijau artinya hidup. Lampu kuning artinya entahlah.
Banyak orang bertanya. Kenapa saya masih mau repot-repot mengirim tulisan ke Jakarta? Padahal saya sudah punya rumah sendiri di media lokal. Jaringan pertemanan media di Bali juga sudah lebih dari cukup. Kenapa masih mau-maunya digantung oleh status kuning di dashboard media nasional?
Jawabannya adalah cermin.
Seorang jurnalis yang sudah puluhan tahun malang-melintang pun butuh cermin baru. Kita butuh tahu, apakah tulisan kita masih punya daya kejut di luar lingkaran zona nyaman sendiri. Apakah narasi yang kita susun dari sudut Dalung masih punya resonansi di tingkat nasional. Di sana, kita bukan siapa-siapa. Kita hanya satu dari ribuan orang yang berebut ruang di meja editor.
Menunggu itu ternyata proses mengasah ego. Proses menjadi kecil kembali.
Dalam fase hidup yang lebih tenang saat ini, menunggu punya makna berbeda. Menunggu adalah bagian dari kontemplasi. Seperti menanam pohon peneduh di lahan Mengwi. Kita tidak bisa memaksa pohon itu besar dalam semalam. Kita hanya bisa menyiram, memberi pupuk, lalu menunggu alam bekerja.
Tulisan juga begitu. Setelah dikirim, ia bukan lagi milik kita. Ia milik semesta. Milik editor. Milik pembaca.
Kalau besok statusnya berubah jadi merah atau ditolak, ya tidak apa-apa. Itu artinya saya harus mencari sudut pandang baru. Kalau tetap kuning sampai basi, ya biarkan saja. Tapi kalau berubah jadi hijau? Ada kepuasan batin yang luar biasa. Kepuasan karena gagasan kita diakui secara luas. Kepuasan yang tidak bisa diukur hanya dengan hitungan materi.
Menulis itu soal memberi. Soal melempar botol berisi pesan ke tengah samudera digital. Kita tidak pernah tahu botol itu akan mendarat di pantai mana. Tugas penulis hanya satu: jangan berhenti melempar botol itu hanya karena takut ia akan terapung lama di tengah laut.
Malam mulai turun di Dalung. Monitor saya matikan. Tidak perlu dicek setiap jam. Hidup memang tidak selalu soal lampu hijau. Kadang kita butuh lampu kuning untuk belajar menghargai proses. Biarkan editor itu bekerja dengan tenang. Mungkin mereka juga sedang menunggu. Menunggu momen yang tepat untuk menekan tombol hijau itu.
Sambil menunggu, saya ingin menikmati kopi hitam lagi. Tanpa gula. Pahitnya pas untuk menemani status yang belum juga kunjung hijau. Menunggu itu seni. Dan saya sedang menikmati setiap detiknya.
Besok saya akan lihat lagi. Kalau masih kuning? Ya tulis lagi judul yang ketiga. Begitu seterusnya. Sampai warna kuning itu menyerah pada kegigihan saya. (*)
Menot Sukadana